Sunday, May 6, 2007

NAPPY, SUNGAI DAN LINGKUNGAN

Nappy dalam bahasa asalnya berarti popok. Tapi nappy dalam catatan mama caca kali ini adalah popok sekali pakai buatan pabrik yang bisa melindungi ibu dari resiko kena ompol si baby. Kalau disebut dalam contoh iklan nappy adalah semacam pampers, sweety, mami poko dll.

Siapa sih ibu jaman sekarang yang tidak suka memakai jasa nappy pabrikan ini. Dengan nappy, ibu tidak perlu khawatir membawa babynya ke kondangan atau jalan-jalan. Mbah kakung dan mbah putrinya pun tak kan segan memangku sang cucu. Sebab baju pesta sang mama, mbah kakung dan mbah putrinya dijamin akan terselamatkan dari bahaya kebocoran.

Hal ini juga dirasakan oleh mama caca. Sejak kecil caca terbiasa pake nappy. Baru ketika memasuki usia 2 tahun, caca bisa lepas nappy. Sebenarnya usia 2 tahun emang terbilang terlambat untuk melepas nappy. Tapi itulah yang terjadi.

Cerita tentang nappy berawal ketika di usia dua bulan caca pulang kampung. Seperti biasa, pagi di hari pertama di kampung, mama caca membuang sendiri nappy kotor caca di tempat pembuangan sampah akhir atau TPA. Di deket rumah caca emang terdapat TPA yang dibangun secara swadaya. Setiap bulannya, sampah-sampah itu akan dibakar dengan alat khusus sehingga sampah tidak sampai menggunung. Anehnya, di pagi berikutnya nappy-nappy itu sudah lenyap dari tempatnya. Demikian pula esok dan esoknya lagi. Usut punya usut, ternyata di kampung caca,membuang nappy bekas atau pembalut wanita di TPA adalah hal yang tabu. Membuang nappy bekas haruslah ke sungai. “poko’e sing ngono kuwi ora entuk kobong.”
Menurut kepercayaan yang ada, jika nappy-nappy itu sampai terbakar akan terjadi sesuatu pada anak tersebut. Lain jika dibuang kesungai. Celakanya, terkait dengan nappy dan sungai ini ternyata tidak hanya dipercayai orang-orang di kampung caca. Namun bisa dibilang masyarakat jawa umumnya meyakini hal yang sama.

Sebenarnya mama caca bukan hendak melawan mitos yang berkembang. Tapi entah mengapa, mama caca tiba-tiba menjadi sedih. Teringat betapa sudah tak tertolongnya kondisi sungai-sungai kecil di sekitar kampungnya caca. Sampah memenuhi lebih dari separo badan sungai. Dan bisa dibilang sungai itu sudah tak layak disebut sungai lagi.
Lebih jauh mama caca teringat betapa banyaknya sungai-sungai di negeri kita ini yang mengalami nasib serupa. Karenanya, tak heran jika bencana banjir kian sering terjadi. Selain faktor hutan yang gundul, kondisi sungai-sungai yang kecil yang kian memprihatinkan juga menjadi penyebab pokok terjadinya banjir. Padahal sungai-sungai kecil adalah nadi bagi kampung-kampung yang dilaluinya.

Sungai memang bukan tempat sampah. Sungai juga tidak layak dialihfungsikan menjadi MCK (mandi, cuci, kakus). Tapi itulah yang terjadi. Memang tidak hanya faktor tunggal yang menyebabkan persoalan sungai dan sampah menjadi runyam. Namun tak bisa dipungkiri, sungai dan mitos mengenai ritual buang sial dan upaya terhindar dari bala dengan mengharuskan membuang kotoran-kotoran tertentu ke sungai menjadi salah satu faktor penyebab mampatnya sungai.

Karenanya, bagi para ibu yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan keberlangsungan harmonika kehidupan anak cucu kita. Meski mungkin dengan sekedar langkah kecil tapi berarti. Langkah kecil itu salah satunya adalah dengan mengabaikan mitos keharusan membuang nappy ke sungai. Bisa dibayangkan, jika sebagian dari kita mengamini mitos tersebut. Berapa ribu nappy akan menimbun sungai-sungai kita. Namun jika kita menolak mitos itu, bayangkan pula berapa banyak sungai yang bisa kita selamatkan.

Nah, sekarang mari kita bayangkan bersama, jika bengawan solo menjadi seindah sungai yarra yang membelah kota melbourne atau sungai reine yang legendaris itu. Tentu anak cucu kita jualah yang akan menikmatinya.

2 comments:

Barlah said...

Mama caca ternyata pemerhati lingkungan juga. Setuju dengan gerakan yang dilakukan mama caca. Seandainya sungai bisa bicara maka dia akan berontak dengan kondisinya sekarang. Lebih dari sekedar menyumbat "nadi" pemukiman, bahan pembuat si "poko" bisa pula mencemari badan sungai. Maka dari itu, ayo ibu-ibu mulailah peduli lingkungan kita. Kita jaga keseimbangan lingkungan sekitar kita. Lingkungan sehat, penghuninyapun sehat, jasmani dan rohani

Anonymous said...

mungkin Mama Caca bisa menggerakan kampanye anti buang sampah ke sungai? mungkin melalui pendekatan kepala2 desa dan ulama yg dikerahkan untuk menerangkan bahwa tahayul ga boleh buang nappy dan pembalut ke TPA itu tidak benar, dan untuk menerangkan juga kalo sungainya nanti mampet dan penuh sampah yg susah warganya sendiri...

mungkin proses ini memakan waktu bergantinya generasi, tapi kalau dimulai dari sekarang mudah2an nanti Caca besar orang2 sudah ga buang sampah ke kali lagi... :)