Wednesday, May 23, 2007

Curhat mama caca: TENTANG MENJADI IBU

Beberapa saat lalu mama caca bertemu seorang temen yang hendak nulis sebuah karya tulis sebagai syarat kelulusannya. Dia baru hendak lulus SLTA. Temen itu ngajak mama caca berbincang tentang karya tulisnya yang membahas ketidaklayakan perempuan sibuk di luar rumah, sebab menurutnya tugas utama seorang ibu adalah mendidik dan mengurus anak-anaknya.

Sebenarnya mama caca heran dan nggak begitu tertarik dengan obrolan temen itu. Apalagi cara pandangnya yang terdengar aneh di telinga mama caca. Kok masih ada ya.. orang yang berpikiran begitu. Tapi ajakan ngobrol dari teman itu membuat mama caca jadi teringat suatu hal. Emang sih, kalo dipikir-pikir, ketika seorang perempuan telah mengikrarkan dirinya untuk jadi ibu. Entah bagi anak-anak yang dilahirkan atau dirawatnya, maka sebenarnya itu adalah janji seumur hidup. Sebab jadi ibu nggak pernah mengenal kata pensiun. Apalagi ibu-ibu di negara dengan tradisi pertalian darah kuat layaknya Indonesia. Tapi jika seorang perempuan yang menyandang title sebagai ibu berarti dia mesti hanya di rumah saja. Alangkah tidak menariknya dunia.

Menurut mama caca sih, seorang ibu justru mesti punya kesibukan di luar rumah. Entah yang berkaitan dengan usaha penguatan ekonomi keluarga, misalnya bekerja. Atau pun kesibukan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat.

Ibu yang tiap hari hanya berkutat dengan anaknya justru bisa berdampak buruk pada perkembangan mental, kedewasaan dan kemandirian anak. Tapi bukan berarti seorang ibu mesti menomorsatukan pekerjaan daripada buah hatinya. Yang pasti mama caca percaya kalo semua orang mesti punya skala prioritas menurut kadar kebutuhan dan kepentingan masing-masing.

Ini dirasakan pula oleh mama caca. Pernah mama caca tidak bertemu caca selama 45 hari. Ajaib, ternyata dalam rentang 45 hari itu, banyak sekali perkembangan positif yang berhasil dilalui caca. Dia terlihat lebih mandiri. Misalnya segera berlari ke kamar mandi tiap ngerasa hendak buang air kecil. Maem sendiri, bobok gak pake rewel, hafal warna-warna. Pokoknya dia tiba-tiba menjadi lebih dewasa dibanding 45 hari sebelumnya.
Lain halnya, jika dalam tiga hari mama caca menghabiskan 24 jam bersama caca, bisa dipastikan, caca akan makin kolokan, manja dan kian nggak mandiri. Misalnya; nggak mau bobok kalo nggak digendong, suka ngompol, apa-apa mesti sama mamanya. Pokoknya manja banget.

Dari sini mama caca dapat pelajaran, bahwa demi kemandirian dan perkembangan jiwa anak, mestinya seorang ibu tidak membiarkan anaknya hanya bisa mergaul dengan ibu bapaknya. Sebaliknya, batita mesti diberi kesempatan bermain tanpa ibu bapaknya. Tapi bukan berarti ibu bapaknya lepas sama sekali. Sebab bagaimanapun kasih orang tua tak akan sama dengan perhatian dari selainnya.

Alasan lain kenapa seorang ibu mesti memiliki aktifitas selain berkutat dengan babynya adalah demi kesehatan fisik dan mental ibu itu sendiri. Seorang ibu yang tidak memiliki aktifitas lain selain baby dan rumah tangganya akan mengalami kejenuhan yang ujung-ujungnya membuat dia cepat marah dan putus asa. Karenanya, seorang ibu semestinya meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Menikmati hobby atau refreshing demi mengatasi kejenuhan yang dirasakannya. Juga mencari tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar tidak terlalu jauh tertinggal dari suami, anak dan lingkungannya.

1 comment:

NoorIntan said...

setuju banget, mama caca...
aku juga udah judeg banget berkutat di rumah, tapi disabar2in deh sampe ameera agak lebih besar 'n bisa ditinggal di kindy then i can start to do something for myself :)