Alhamdulillah, caca dah masuk Taman Kanak-kanak. Meski usianya belum genap empat tahun. Tapi kelihatannya caca cukup antusias menjalaninya. Terbukti semenjak bulan ramadlan ini caca sudah mau sekolah tanpa ditunggui, meski dengan syarat, mama caca sendiri yang mesti mengantar dan menjemputnya sendiri.
Tapi ada yang terasa kurang sreg dihati mengenai sekolah caca. Yak ni tentang PeeR alias pekerjaan rumah buat caca. Di sekolah Tknya caca setiap hari selalu mendapat PR dari gurunya. PR belajar menulis angka dan huruf. Menurut caca, disekolah Tknya dia juga sangat jarang diajak mernyanyi dan menggambar.aktivitas di sekolah lebih terfokus pada belajar menulis. Mama caca sendiri tak tahu, apakah memang begitu seharusnya anak-anak TK zaman sekarang. Rasanya kasian juga liat si kecil itu mesti terbebani PR setiap hari.
Buat para blogger yang membaca tulisan ini. Minta masukannya ya...
Saturday, September 13, 2008
Wednesday, July 2, 2008
MEMILIH SEKOLAH BUAT CACA
Mama caca pernah membaca sederet tulisan di kaos teman. Tulisan yang terilhami dari pemikiran seorang filosof kenamaan.”SEKOLAH ITU CANDU, karena itu aku tak akan menyekolahkan anak-anakku”. Meski dalam eforia pemikiran masa muda mama caca pernah mengamininya, namun kini mama caca tak lagi menganggap pemikiran itu mesti dituruti. Dan kini, ketika caca berusia 3,5 tahun, mama caca mulai bingung memilih sekolah untuk caca.
Sebagai orang tua, mama caca tentu menginginkan sesuatu yang ideal untuk anak-anaknya. Setelah berusia tiga tahun lebih dan menghabiskan waktu satu tahun setengah di play group, mama caca berusaha “membaca” caca dengan lebih seksama. Membaca caca berarti menyelami sifat dan kebiasaannya sehari-hari. Potensi positif dan negatif yang dimilikinya.
Dari situ mama caca melihat caca adalah anak yang aktif, lumayan cerdas, suka hal-hal baru, suka banyak teman, suka bercerita atau terbuka terhadap apa yang dirasakan dan diinginkannya. Caca juga selalu mengingat setiap jawaban yang pernah ditanyakannya. Jika suatu kali pertanyaan yang sama diajukannya, tapi mendapat jawaban yang berbeda, caca pasti akan protes. Atau jika jawaban yang diberikan dianggapnya tidak benar, caca pasti akan marah. Namun caca juga memiliki potensi yang kurang baik jika tidak segera diatasi. Misalnya sifat manja, kurang mandiri, tidak mau mengalah, cuek, gampang bosan dan cenderung seenaknya sendiri.
Dengan potensi yang dimilikinya, mama caca ingin memilih sekolah buat caca. Paling tidak ada kriteria sekolah yang tercatat dalam benak mama caca. Pertama; sekolah itu mesti bisa memberikan sesuatu yang menarik minat caca untuk belajar. Baik mempelajari pengetahuan baru maupun mempelajari tata cara bersosialisasi.Yang kedua; sekolah itu mesti mendorong caca untuk lebih mandiri dan mengerti akan tanggungjawabnya sesuai umur dan kemampuannya sebagai siswi Taman Kanak-kanak. Yang ketiga; akan lebih baik jika sekolah itu memiliki sistem terpadu. Jadi bukan hanya tempat belajar dan bermain, akan tetapi juga tempat ia bisa belajar mengaji dan beribadah.
Setelah melakukan survey kecil-kecilan, mama caca berhasil menemukan sekolah sesuai yang diinginkan. Caca juga terlihat tertarik. Namun ternyata ada masalah lain yang mengganjal. Masalah yang terbilang ideologis orang bilang. Meski mama caca tak pernah mempermasalahkannya, namun tidak demikian dengan orang-orang disekitar mama caca. Dan setelah berdiskusi dengan abah caca, akhirnya mama caca mencoba mendamaikan impian dan kenyataan. BAIKLAH!!, tak ada gunanya keukeuh pada impian sendiri. Toh, masih ada cara lain untuk mendidik caca. Dan semoga pilihan ini tepat. Untuk caca dan orang-orang yang mencintainya....
Sebagai orang tua, mama caca tentu menginginkan sesuatu yang ideal untuk anak-anaknya. Setelah berusia tiga tahun lebih dan menghabiskan waktu satu tahun setengah di play group, mama caca berusaha “membaca” caca dengan lebih seksama. Membaca caca berarti menyelami sifat dan kebiasaannya sehari-hari. Potensi positif dan negatif yang dimilikinya.
Dari situ mama caca melihat caca adalah anak yang aktif, lumayan cerdas, suka hal-hal baru, suka banyak teman, suka bercerita atau terbuka terhadap apa yang dirasakan dan diinginkannya. Caca juga selalu mengingat setiap jawaban yang pernah ditanyakannya. Jika suatu kali pertanyaan yang sama diajukannya, tapi mendapat jawaban yang berbeda, caca pasti akan protes. Atau jika jawaban yang diberikan dianggapnya tidak benar, caca pasti akan marah. Namun caca juga memiliki potensi yang kurang baik jika tidak segera diatasi. Misalnya sifat manja, kurang mandiri, tidak mau mengalah, cuek, gampang bosan dan cenderung seenaknya sendiri.
Dengan potensi yang dimilikinya, mama caca ingin memilih sekolah buat caca. Paling tidak ada kriteria sekolah yang tercatat dalam benak mama caca. Pertama; sekolah itu mesti bisa memberikan sesuatu yang menarik minat caca untuk belajar. Baik mempelajari pengetahuan baru maupun mempelajari tata cara bersosialisasi.Yang kedua; sekolah itu mesti mendorong caca untuk lebih mandiri dan mengerti akan tanggungjawabnya sesuai umur dan kemampuannya sebagai siswi Taman Kanak-kanak. Yang ketiga; akan lebih baik jika sekolah itu memiliki sistem terpadu. Jadi bukan hanya tempat belajar dan bermain, akan tetapi juga tempat ia bisa belajar mengaji dan beribadah.
Setelah melakukan survey kecil-kecilan, mama caca berhasil menemukan sekolah sesuai yang diinginkan. Caca juga terlihat tertarik. Namun ternyata ada masalah lain yang mengganjal. Masalah yang terbilang ideologis orang bilang. Meski mama caca tak pernah mempermasalahkannya, namun tidak demikian dengan orang-orang disekitar mama caca. Dan setelah berdiskusi dengan abah caca, akhirnya mama caca mencoba mendamaikan impian dan kenyataan. BAIKLAH!!, tak ada gunanya keukeuh pada impian sendiri. Toh, masih ada cara lain untuk mendidik caca. Dan semoga pilihan ini tepat. Untuk caca dan orang-orang yang mencintainya....
Monday, June 30, 2008
BERTETANGGA
Terhitung per 23 Pebruari 2008, Caca sekeluarga pindahan rumah. Meski hanya berjarak sejengkal dari rumah asal, namun banyak perubahan dan hal baru dirasakan. Awalnya Caca emang serumah dengan mbah kakungnya. Kini kita tinggal “bertetangga”.
Selain dengan mbah kakung dan mbah putri, caca juga bertetangga dengan saudara sepupu abahnya. Mestinya Caca memanggilnya bulek. Tapi rupanya caca lebih suka memanggil si bulek dengan sebutan Umik. Ini gara-gara putra-putri si bulek yang notabene-nya adalah teman-teman sepermainan caca, memanggil ibunya dengan sebutan Umik.
Hubungan bertetangga memang sesuatu yang istimewa. Apalagi jika masih ada ikatan saudara. Memiliki tetangga yang baik adalah karunia bagi rumah tangga kita. Sebaliknya, memiliki tetangga buruk adalah cobaan yang tidak terkira.
Tetangga yang usil dan suka mengadu domba misalnya, tentu akan menjadikan kita salah satu korban keusilan dan sifat buruknya. Atau tetangga yang gemar berkata buruk dan menyakiti anak-anak, pasti akan membuat kita merasa tak aman kapan pun juga.
Dan jika sekarang mama caca memiliki tetangga yang gemar mengajarkan sopan santun pada putra-putrinya, tentu merupakan anugrah Tuhan yang luar biasa. Kini caca memiliki teman-teman yang gemar mengaji dan suka berkata santun. Dan semoga ketentraman dan keindahan selalu mewarnai hari-hari kita dalam bertetangga dan berumahtangga. Amin.
Selain dengan mbah kakung dan mbah putri, caca juga bertetangga dengan saudara sepupu abahnya. Mestinya Caca memanggilnya bulek. Tapi rupanya caca lebih suka memanggil si bulek dengan sebutan Umik. Ini gara-gara putra-putri si bulek yang notabene-nya adalah teman-teman sepermainan caca, memanggil ibunya dengan sebutan Umik.
Hubungan bertetangga memang sesuatu yang istimewa. Apalagi jika masih ada ikatan saudara. Memiliki tetangga yang baik adalah karunia bagi rumah tangga kita. Sebaliknya, memiliki tetangga buruk adalah cobaan yang tidak terkira.
Tetangga yang usil dan suka mengadu domba misalnya, tentu akan menjadikan kita salah satu korban keusilan dan sifat buruknya. Atau tetangga yang gemar berkata buruk dan menyakiti anak-anak, pasti akan membuat kita merasa tak aman kapan pun juga.
Dan jika sekarang mama caca memiliki tetangga yang gemar mengajarkan sopan santun pada putra-putrinya, tentu merupakan anugrah Tuhan yang luar biasa. Kini caca memiliki teman-teman yang gemar mengaji dan suka berkata santun. Dan semoga ketentraman dan keindahan selalu mewarnai hari-hari kita dalam bertetangga dan berumahtangga. Amin.
Wednesday, June 4, 2008
YANG PALING SEKSI…
Awalnya, mama dan abah caca suka lagu Mulan Jameela yang berjudul Makhluk Tuhan Yang paling Seksi. Seringkali, suara perempuan yang sebelumnya popular dengan nama Mulan Kwok itu diperdengarkan. Satu dua kali DVDnya diputar, semua masih asyik mendengarkan. Tapi dua minnu belakangan, mama caca jadi pusing tujuh keliling gara-gara lagu si Mulan itu…
Ceritanya, suatu siang caca minta syal mama caca. Syal itu memang sudah lama gak pernah kepake. Awalnya mama caca gak begitu peduli, mo buat apa syal caca minta syal yang berbentuk lebar itu. Eh, gak tahunya, syal itu disulap menjadi rok (ato jarit???) oleh caca. Lalu gadis kecil itu menari di depan kaca sambil menyanyi :
”Acaramu... yang paling Seksi...yang paling seksi” menirukan gaya si mulan.
”Aduh nduk... apalagi ini...” teriak mama caca.
Gak berhenti sampe di situ. Bahkan kemarin waktu caca sekeluarga plus mbah putri dan mbah kakungnya pergi bareng ke jakarta, caca tak henti-henti meneriakkan lagu itu di sepanjang perjalanan. Orang-orang yang mendengarkan Cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Selera anak sekarang emang beda. Hik...hik.. bener deh... sekarang mama caca gak lagi suka ama lagu itu...
Ceritanya, suatu siang caca minta syal mama caca. Syal itu memang sudah lama gak pernah kepake. Awalnya mama caca gak begitu peduli, mo buat apa syal caca minta syal yang berbentuk lebar itu. Eh, gak tahunya, syal itu disulap menjadi rok (ato jarit???) oleh caca. Lalu gadis kecil itu menari di depan kaca sambil menyanyi :
”Acaramu... yang paling Seksi...yang paling seksi” menirukan gaya si mulan.
”Aduh nduk... apalagi ini...” teriak mama caca.
Gak berhenti sampe di situ. Bahkan kemarin waktu caca sekeluarga plus mbah putri dan mbah kakungnya pergi bareng ke jakarta, caca tak henti-henti meneriakkan lagu itu di sepanjang perjalanan. Orang-orang yang mendengarkan Cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Selera anak sekarang emang beda. Hik...hik.. bener deh... sekarang mama caca gak lagi suka ama lagu itu...
MBAK CACA, BUKAN DEK CACA.....
Kalau masih kuecil ya.. dipanggilnya dek Caca. Kalo sudah besar ya.. mbak Caca..” Demikian caca selalu memberi alasan tentang perubahan panggilan di depan namanya. Caca emang merasa sudah gede sekarang. Banyak hal yang udah mulai bisa dilakukannya sendiri, meski masih terbatas kemampuan layaknya bocah umur tiga tahun lebih.
Lucu juga memperhatikan tingkah bocah kecil yang sudah merasa besar itu. Bahkan terkadang caca suka bergaya di depan kaca sambil bernyanyi: “kutelah dewasa.. ou..ou.. (yang ini niruin iklan produk pemutih di televisi). Kik.. kik.. langsung aja abah dan mama caca ketawa. Bocah belum genap empat tahun kok ngaku sudah dewasa.
Karena merasa sudah besar itulah, caca paling sebel kalo ada orang yang memanggilnya dek caca. Suatu kali caca lagi bad mood. Minta ini, minta itu. Lalu nangis kenceng banget. Saat itu ada tetangga lewat dan menyapa caca. “dek caca... dek caca..” Tangis caca tambah kenceng disapa kayak gitu. “Udah bad mood, dipanggil dek caca lagi,” begitu mungkin pikirnya. Akhirnya mama caca berbisik ditelinga caca. “Makanya jangan suka rewel. Jadi dipanggil dek caca tuh. Soalnya, kalo anak masih suka nangisan, pasti dikiranya masih kecil..” Mendengar bisikan itu, caca langsung terdiam. Tangisnya berubah jadi isakan. Mama caca langsung memeluknya dan mengajak caca bercanda. Wow, dapet senjata baru nih buat ngadepin si sulung kalo lagi rewel. Tapi ampe kapan ya.. senjata mama caca cukup ampuh. Setiap hari memang harus ada trik baru buat menghadapi si sulung yang mengaku sudah “dewasa itu”. Hehe...
Lucu juga memperhatikan tingkah bocah kecil yang sudah merasa besar itu. Bahkan terkadang caca suka bergaya di depan kaca sambil bernyanyi: “kutelah dewasa.. ou..ou.. (yang ini niruin iklan produk pemutih di televisi). Kik.. kik.. langsung aja abah dan mama caca ketawa. Bocah belum genap empat tahun kok ngaku sudah dewasa.
Karena merasa sudah besar itulah, caca paling sebel kalo ada orang yang memanggilnya dek caca. Suatu kali caca lagi bad mood. Minta ini, minta itu. Lalu nangis kenceng banget. Saat itu ada tetangga lewat dan menyapa caca. “dek caca... dek caca..” Tangis caca tambah kenceng disapa kayak gitu. “Udah bad mood, dipanggil dek caca lagi,” begitu mungkin pikirnya. Akhirnya mama caca berbisik ditelinga caca. “Makanya jangan suka rewel. Jadi dipanggil dek caca tuh. Soalnya, kalo anak masih suka nangisan, pasti dikiranya masih kecil..” Mendengar bisikan itu, caca langsung terdiam. Tangisnya berubah jadi isakan. Mama caca langsung memeluknya dan mengajak caca bercanda. Wow, dapet senjata baru nih buat ngadepin si sulung kalo lagi rewel. Tapi ampe kapan ya.. senjata mama caca cukup ampuh. Setiap hari memang harus ada trik baru buat menghadapi si sulung yang mengaku sudah “dewasa itu”. Hehe...
Monday, May 19, 2008
CACA ‘N KIKA
Caca punya adek baru. Namanya Kika. Dan sebagaimana caca yang memiliki full name Izzatin Rofiqoh. Kika juga punya full name yang agak gak nyambung dengan call name-nya. Nama lengkap Kika adalah Aini Zakiyya.
Meski antara full name dan call name-nya agak jauh nyambungnya. Namun kedua nama panggilan itu memiliki sejarah yang berbeda. Tentang Izzatin Rafiqoh yang dipanggil Caca, mama caca udah pernah menulisnyas diblog ini. Tapi mengenai panggilan Kika untuk Aini Zakiyya, memang tak ada cerita khusus. Aini Zakiyya dipanggil Kika agar lebih mudah diingat, unik dan terdengar lebih puitis jika disebut bersamaan dengan nama sang kakak. Caca dan Kika. Tentu lebih terdengar puitis dibandingkan Caca dan Aini misalnya.
Selebihnya, baby yang lahir melalui operasi Caesar (sebagaimana kakaknya) pada 14 Februari 2008 ini adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta bagi kedua orang tuanya. Dan semoga ia terlahir sebagai manusia yang beruntung. Menjadi anak yang baik, berguna bagi masyarakatnya, serta selalu dalam ridlo Tuhannya. Amin.
Meski antara full name dan call name-nya agak jauh nyambungnya. Namun kedua nama panggilan itu memiliki sejarah yang berbeda. Tentang Izzatin Rafiqoh yang dipanggil Caca, mama caca udah pernah menulisnyas diblog ini. Tapi mengenai panggilan Kika untuk Aini Zakiyya, memang tak ada cerita khusus. Aini Zakiyya dipanggil Kika agar lebih mudah diingat, unik dan terdengar lebih puitis jika disebut bersamaan dengan nama sang kakak. Caca dan Kika. Tentu lebih terdengar puitis dibandingkan Caca dan Aini misalnya.
Selebihnya, baby yang lahir melalui operasi Caesar (sebagaimana kakaknya) pada 14 Februari 2008 ini adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta bagi kedua orang tuanya. Dan semoga ia terlahir sebagai manusia yang beruntung. Menjadi anak yang baik, berguna bagi masyarakatnya, serta selalu dalam ridlo Tuhannya. Amin.
Tuesday, November 13, 2007
SELAMAT JALAN CALON JAMAAH HAJI INDONESIA
Musim Haji datang lagi. Sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kami mengunjungi keluaga yang hendak menunaikan ibadah haji. Di akhir bulan syawal ini mama caca juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa sodara yang hendak berangkat haji. Dengan tujuan mempererat silaturrahim, mendoakan kelancaran ibadah hajinya serta minta ikut didoakan di tempat-tempat mustajab jika sudah sampai di tanah suci nanti.
Dulu mama caca gak begitu peduli dengan tradisi yang satu ini. Bagi mama caca, mengunjungi sodara yang hendak pergi ke tanah suci bukan sesuatu yang mesti mendapat perhatian khusus. Tapi belakangan mama caca berubah pikiran. Setelah mama caca merasakan sendiri besarnya perhatian para sodara dan tetangga ketika mama caca hendak berangkat haji. Ternyata tradisi mengunjungi para calon jama’ah haji memang bukan sekedar gaya-gayaan. Namun ada kearifan lokal di sana. Bagaimana masing-masing pihak –calon jama’ah dan para tamunya- saling memberikan motivasi dan sharing pengalaman. Dan bagi mama caca motivasi dan bagi-bagi pengalaman yang dilakukan cukup memberikan kekuatan positif bagi jama’ah yang hendak berangkat.
Haji memang bukan ibadah yang ringan. Tidak sebagaimana syahadat, sholat, puasa ato zakat. Dalam haji Alloh menggarisbawahi “Bagi yang mampu”. Baik mampu secara fisik, finansial maupun dari segi keamanan. Nyatanya memang dibutuhkan tekad yang kuat bagi yang hendak melakoninya. Disamping dibutuhkan biaya yang tak sedikit, -dari mulai biaya resmi ataupun yang gak resmi- juga amat penting memelihara kesehatan fisik, kesabaran, rasa rendah hati dan tawakkal.
Ada banyak cerita seputar perjalanan ibadah haji. Dulu mama caca pun pernah menuliskannya. Tentang calo Hajar Aswad ataupun tentang julukan Siti Rahmah bagi perempuan Indonesia. Namun ada catatan lain yang ingin mama caca ceritakan kali ini.
Ketika hendak berangkat haji, terus terang, ada rasa bimbang di benak mama caca. Sudah layakkah menjadi tamu Alloh saat ini. Saat itu rasa malu kerapkali memenuhi hati. Benarkah Alloh menghendaki hambanya yang penuh dosa ini menjadi tamu-Nya?? Tapi lagi-lagi mama caca mencoba mengatasi keresahan itu dengan membaca lagi firman-Nya, bahwa Alloh mencintai makhluknya yang berprasangka baik terhadap qodlo’ dan qodar-Nya. Dan kepasrahan itu datang dengan perlahan.
Alloh Maha Besar. Selama di tanah suci, justru banya kemudahan yang mama caca rasakan. Disaat para jama’ah lain sibuk mengatur uang saku untuk keperluan makan selama di Makkah, mama caca dan rombongan justru bertempat di maktab yang dimiliki oleh seorang syeikh yang memberikan shodaqoh berupa makan gratis sehari tiga kali bagi setiap jama’ah haji yang tinggal di hotelnya. Alhamdulillah, Siapa yang bisa menyangka akan mendapatkan rezeki sebesar itu. Bisa menghabiskan waktu di kota tempat ka’bah didirikan tanpa perlu memikirkan kebutuhan belanja dan masak untuk makan dan minum sehari-hari.
Belum lagi ketika musim kelaparan di Arofah dan Mina –yang konon menjadi berita besar di koran-koran Indonesia- Saat itu mama caca justru merasa cukup. Sebab ketika jama’ah hendak berangkat ke mina, mama caca berangkat dengan membawa makanan cukup. Seperti roti, susu, mie instan, madu dan pisang. Padahal saat itu sudah diperingatkan oleh petugas untuk tidak membawa bekal makanan, hingga banyak dari jama’ah haji yang tak membawa bekal makanan apapun sesampainya di Arafah. Tapi mama dan abah caca tetap memilih mengikuti kata hati. “Siapa tahu makanan yang disediakan pihak catering tak cocok dilidah.” Begitu pikir mama caca. Tapi semuanya adalah rizki. Tak perlu sombong atau tinggi hati. Justru saat seperti itu adalah waktu yang tepat untuk intropeksi. Betapa Allah telah amat sayang kepada kita. Sudahkah amal perbuatan kita layak mendapatkan penghormatan serupa. Astaghfirullohal‘adzim...
Dan begitulah, mungkin benar kata ulama, bahwa padang Arofah adalah cermin kecil padang maghsyar. Saat itu, orang seperti tidak bisa menipu diri atas kebiasaannya sehari-hari. Ketika segala hal menjadi terbatas, orang yang terbiasa berdzikir akan tetap berucap kalimat-kalimat thoyyibah. Tapi bagi yang terbiasa mengumpat, mengejek dan menyakiti orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Padahal Cuma dalam hitungan jam kita diuji. Entahlah, bagimana laku kita di padang maghsyar nanati. Wallahu a’lam...
Dulu mama caca gak begitu peduli dengan tradisi yang satu ini. Bagi mama caca, mengunjungi sodara yang hendak pergi ke tanah suci bukan sesuatu yang mesti mendapat perhatian khusus. Tapi belakangan mama caca berubah pikiran. Setelah mama caca merasakan sendiri besarnya perhatian para sodara dan tetangga ketika mama caca hendak berangkat haji. Ternyata tradisi mengunjungi para calon jama’ah haji memang bukan sekedar gaya-gayaan. Namun ada kearifan lokal di sana. Bagaimana masing-masing pihak –calon jama’ah dan para tamunya- saling memberikan motivasi dan sharing pengalaman. Dan bagi mama caca motivasi dan bagi-bagi pengalaman yang dilakukan cukup memberikan kekuatan positif bagi jama’ah yang hendak berangkat.
Haji memang bukan ibadah yang ringan. Tidak sebagaimana syahadat, sholat, puasa ato zakat. Dalam haji Alloh menggarisbawahi “Bagi yang mampu”. Baik mampu secara fisik, finansial maupun dari segi keamanan. Nyatanya memang dibutuhkan tekad yang kuat bagi yang hendak melakoninya. Disamping dibutuhkan biaya yang tak sedikit, -dari mulai biaya resmi ataupun yang gak resmi- juga amat penting memelihara kesehatan fisik, kesabaran, rasa rendah hati dan tawakkal.
Ada banyak cerita seputar perjalanan ibadah haji. Dulu mama caca pun pernah menuliskannya. Tentang calo Hajar Aswad ataupun tentang julukan Siti Rahmah bagi perempuan Indonesia. Namun ada catatan lain yang ingin mama caca ceritakan kali ini.
Ketika hendak berangkat haji, terus terang, ada rasa bimbang di benak mama caca. Sudah layakkah menjadi tamu Alloh saat ini. Saat itu rasa malu kerapkali memenuhi hati. Benarkah Alloh menghendaki hambanya yang penuh dosa ini menjadi tamu-Nya?? Tapi lagi-lagi mama caca mencoba mengatasi keresahan itu dengan membaca lagi firman-Nya, bahwa Alloh mencintai makhluknya yang berprasangka baik terhadap qodlo’ dan qodar-Nya. Dan kepasrahan itu datang dengan perlahan.
Alloh Maha Besar. Selama di tanah suci, justru banya kemudahan yang mama caca rasakan. Disaat para jama’ah lain sibuk mengatur uang saku untuk keperluan makan selama di Makkah, mama caca dan rombongan justru bertempat di maktab yang dimiliki oleh seorang syeikh yang memberikan shodaqoh berupa makan gratis sehari tiga kali bagi setiap jama’ah haji yang tinggal di hotelnya. Alhamdulillah, Siapa yang bisa menyangka akan mendapatkan rezeki sebesar itu. Bisa menghabiskan waktu di kota tempat ka’bah didirikan tanpa perlu memikirkan kebutuhan belanja dan masak untuk makan dan minum sehari-hari.
Belum lagi ketika musim kelaparan di Arofah dan Mina –yang konon menjadi berita besar di koran-koran Indonesia- Saat itu mama caca justru merasa cukup. Sebab ketika jama’ah hendak berangkat ke mina, mama caca berangkat dengan membawa makanan cukup. Seperti roti, susu, mie instan, madu dan pisang. Padahal saat itu sudah diperingatkan oleh petugas untuk tidak membawa bekal makanan, hingga banyak dari jama’ah haji yang tak membawa bekal makanan apapun sesampainya di Arafah. Tapi mama dan abah caca tetap memilih mengikuti kata hati. “Siapa tahu makanan yang disediakan pihak catering tak cocok dilidah.” Begitu pikir mama caca. Tapi semuanya adalah rizki. Tak perlu sombong atau tinggi hati. Justru saat seperti itu adalah waktu yang tepat untuk intropeksi. Betapa Allah telah amat sayang kepada kita. Sudahkah amal perbuatan kita layak mendapatkan penghormatan serupa. Astaghfirullohal‘adzim...
Dan begitulah, mungkin benar kata ulama, bahwa padang Arofah adalah cermin kecil padang maghsyar. Saat itu, orang seperti tidak bisa menipu diri atas kebiasaannya sehari-hari. Ketika segala hal menjadi terbatas, orang yang terbiasa berdzikir akan tetap berucap kalimat-kalimat thoyyibah. Tapi bagi yang terbiasa mengumpat, mengejek dan menyakiti orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Padahal Cuma dalam hitungan jam kita diuji. Entahlah, bagimana laku kita di padang maghsyar nanati. Wallahu a’lam...
Subscribe to:
Posts (Atom)