Mungkin benar, bahwa ngidam pada perempuan hamil hanyalah mitos. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa ngidam adalah keinginan bawah sadar tubuh perempuan bagi pemenuhan gizi badan dan janin yang dikandungnya. Tapi entahlah, mungkin ini sekedar sugesti. Tapi sejak kehamilan yang pertama dulu, selalu saja timbul keinginan –yang sulit untuk ditolak- mendapatkan makanan-makanan yang sebenarnya sulit didapat. Atau bisa jadi ngidam adalah ekspresi perempuan hamil yang selalu ingin mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya.
Ketika sedang hamil caca dulu, mama caca serasa tak tahan menahan godaan untuk makan buah asam. Tamarind orang aussie bilang. Tamarind yang masih terbungkus kulit aslinya. Mungkin ketika itu bawah sadar mama caca ingin bernostalgia. Maklum, dulu ketika kecil, ada sebuah pohon asam tua di belakang rumah nenek di kediri. Tiap kali pohon itu berbuah, mama caca bersama teman-teman kecil ketika itu, selalu berebut buah-buah asam yang berjatuhan. Buah yang rasanya seperti namanya itu memang otomatis akan berjatuhan begitu matang. Tapi jangan harap mendapatkan buah asam yang matang jika masih tergantung di pohonnya.
Keinginan untuk makan tamarind ketika hamil caca dulu emang terlaksana. Abah caca berhasil mendapatkan buah itu di sebuah toko buah. Saat itu mama caca girang bukan main. Buah asam masih lengkap dengan kulitnya terhidang di depan mata. Tapi ternyata buah itu tak berasa asam seperti biasanya. Maklum, asam itu hasil kerja petani Thailand yang dengan kecanggihan teknologi pertaniannya mampu membuat buah asam yang memang asam menjadi buah asam yang tak lagi berasa asam.
Kini kehamilan kedua datang. Lagi-lagi keinginan kembali merasai buah-buah masa kecil dulu kembali muncul. Kali ini mama caca ingin sekali makan buah juwet. Mungkin tak semua orang tahu buah yang satu ini. Buah juwet disebut pula anggur jawa. Sebab bentuk juwet memang hampir sama dengan buah anggur. Tapi teksturnya lebih padat dan rasanya sepet. Jika musim juwet tiba, anak-anak kecil di kampung mama caca dulu akan berebut memanjat pohon dengan membawa kantung demi memperoleh buah yang sekarang sudah langka itu. Setelah terkumpul, juwet-juwet itu akan dimasukkan ke dalam wadah dan dicampur dengan garam. Setelah dicampur rata, buah itu akan terlihat lecet-lecet. Ajaibnya, rasa sepet akan berganti rasa asin campur manis begitu garam merasuk ke pori-pori si juwet.
Masih ada lagi sebenarnya buah berbau nostalgia yang tiba-tiba ingin mama caca rasai saat ini. Buah salam. Mungkin daun salam atau bay leaf terasa lebih familiar di telinga para ibu dibandingkan rasa buahnya sendiri. Tapi buah salam yang mama caca maksud kali ini memanglah buah dari daun yang biasanya dipakai sebagai bumbu dapur itu. Buah salam berwarna hitam, kecil seukuran buah cermai. Duh, andai orang-orang kampung masih gemar menanam tanaman-tanaman tua itu...
Sayangnya, meski kini mama caca tetep tinggal di kampung, buah yang dirindukan itu tetap saja tak mudah dijumpai. Maklum, orang sekarang lebih suka menanam bunga daripada menanam pohon dengan buah-buah langkanya. Padahal untuk negara sesubur Indonesia, amat sayang membiarkan tanah terhampar tanpa memanfaatkannya untuk menanam tanaman-tanaman yang lebih jelas manfaatnya. Tanaman yang bukan sekedar indah, tapi juga bisa dirasai dan dikenal oleh generasi-generasi setelah kita sebagai bagian kekayaan Indonesia.
Tuesday, July 24, 2007
Monday, July 23, 2007
LELAKI TUA DAN SEEKOR KUCING
Suatu siang. Seorang lelaki tua duduk sendiri. Sepi. Seluruh anggota keluarga sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak ada yang peduli, seorang lelaki tua sedang ingin ditemani. Untuk berbincang sekedar demi pengusir rasa sepi. Atau sekedar mengenang hari-hari yang pernah terlewati.
Ah, mungkin terasa aneh jika lelaki tua itu merasa sunyi. Bukankah dia lelaki yang terkenal di seantero negeri. Wajahnya kerapkali menghiasi majalah, koran, sampul-sampul buku atau tevelisi. Namanya tertera di berbagai organisasi. Tapi itulah yang terjadi. Mungkin melewati hari-hari di ruang rapat atau diskusi tak akan setara dengan kebersamaan di ruang makan atau di teras depan rumah. Suatu kali bercanda dengan anak cucu lebih dirindukan daripada berjumpa dengan seribu orang di berbagai forum. Dan siang ini dia kembali merasa sepi. Sepi bukan karena tak ada lagi orang yang mengenal atau menunggu-nunggu kesempatan bertemu dengannya. Tapi rasa sunyi yang tumbuh karena siang itu terlewati tanpa ada yang menemaninya melewati hari dengan sederhana. Melewati hari dengan sekedar bercerita atau bersenda gurau seadanya.
Saat sunyi kian terasa. Seekor kucing tampak melintasi ruangan. Bejalan pelan. Lalu terbaring tepat di samping si lelaki tua. Dielusnya kepala binatang rumahan yang katanya gemar mencuri ikan itu. Si kucing tampak menikmati elusan sayang di kepalanya. Ia terkantuk-kantuk. Kedua makhluk Tuhan itu tampak saling mengulum senyum. Mungkin mereka saling merasai arti kehadiran satu sama lain. Dan wajah sepi mulai berganti warna-warni..
Ah, mungkin terasa aneh jika lelaki tua itu merasa sunyi. Bukankah dia lelaki yang terkenal di seantero negeri. Wajahnya kerapkali menghiasi majalah, koran, sampul-sampul buku atau tevelisi. Namanya tertera di berbagai organisasi. Tapi itulah yang terjadi. Mungkin melewati hari-hari di ruang rapat atau diskusi tak akan setara dengan kebersamaan di ruang makan atau di teras depan rumah. Suatu kali bercanda dengan anak cucu lebih dirindukan daripada berjumpa dengan seribu orang di berbagai forum. Dan siang ini dia kembali merasa sepi. Sepi bukan karena tak ada lagi orang yang mengenal atau menunggu-nunggu kesempatan bertemu dengannya. Tapi rasa sunyi yang tumbuh karena siang itu terlewati tanpa ada yang menemaninya melewati hari dengan sederhana. Melewati hari dengan sekedar bercerita atau bersenda gurau seadanya.
Saat sunyi kian terasa. Seekor kucing tampak melintasi ruangan. Bejalan pelan. Lalu terbaring tepat di samping si lelaki tua. Dielusnya kepala binatang rumahan yang katanya gemar mencuri ikan itu. Si kucing tampak menikmati elusan sayang di kepalanya. Ia terkantuk-kantuk. Kedua makhluk Tuhan itu tampak saling mengulum senyum. Mungkin mereka saling merasai arti kehadiran satu sama lain. Dan wajah sepi mulai berganti warna-warni..
Sunday, July 15, 2007
KOPDARAN??
Caca lagi libur panjang. Hampir satu bulan. Dan ini bukan persoalan mudah bagi orang-orang di rumah. Maklum, tiap kali ngerasa bosan, caca pasti bikin ulah yang bisa bikin bete orang-orang serumah. Asal tahu aja, Cuma caca yang sedang libur sekolah, yang lainnya lagi masa aktif. Maklum, sekolah –kecuali play groupnya caca- di lingkungan mama caca emang punya masa libur yang tak sama dengan sekolah-sekolah lain. Di sini sekolah mengikuti kalender Hijriyyah, bukan Masehi. Jadi libur panjang adalah bulan Maulid (tengah semester) dan libur Ramadlan (Akhir semester).
Tapi meski begitu, abah dan mama caca mesti pinter-pinter menghitung hari biar caca bisa menikmati masa liburannya. Setelah sebelumnya pulkam ke kediri, selasa ampe sabtu kemarin caca sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta.
Dan begitulah, selasa siang kita berangkat dari Pati. Nyampe Semarang ternyata masih ada waktu 2,5 jam buat nunggu kereta berangkat. Daripada kelamaan di stasiun Tawang, akhirnya kita milih jalan-jalan. Saat itulah, mama caca inget ama mama salma. Duh, kenapa kemarin gak janjian buat kopdaran ya... padahal ini kesempatan bagus lho buat ketemuan ama mama salma. Sialnya lagi mama caca baru nyadar, ternyata mama caca gak punya alamat ato nomer kontak mama salma. Duh, gimana mo kopdaran kalo kontaknya aja gak tahu...
Ketika nyampe Jakarta dan mama caca jalan-jalan ke cempaka mas atau pas periksa ke dokter yang ada di daerah kelapa gading, mama caca juga inget punya temen blogger di daerah situ. Tapi lagi-lagi gimana mo kopdaran kalo gak punya nomer kontak yang bisa dihubungi. Ya udah deh... kopdaran emang mestinya direncanain. Gak asal gitu ya...
Tapi meski begitu, abah dan mama caca mesti pinter-pinter menghitung hari biar caca bisa menikmati masa liburannya. Setelah sebelumnya pulkam ke kediri, selasa ampe sabtu kemarin caca sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta.
Dan begitulah, selasa siang kita berangkat dari Pati. Nyampe Semarang ternyata masih ada waktu 2,5 jam buat nunggu kereta berangkat. Daripada kelamaan di stasiun Tawang, akhirnya kita milih jalan-jalan. Saat itulah, mama caca inget ama mama salma. Duh, kenapa kemarin gak janjian buat kopdaran ya... padahal ini kesempatan bagus lho buat ketemuan ama mama salma. Sialnya lagi mama caca baru nyadar, ternyata mama caca gak punya alamat ato nomer kontak mama salma. Duh, gimana mo kopdaran kalo kontaknya aja gak tahu...
Ketika nyampe Jakarta dan mama caca jalan-jalan ke cempaka mas atau pas periksa ke dokter yang ada di daerah kelapa gading, mama caca juga inget punya temen blogger di daerah situ. Tapi lagi-lagi gimana mo kopdaran kalo gak punya nomer kontak yang bisa dihubungi. Ya udah deh... kopdaran emang mestinya direncanain. Gak asal gitu ya...
Friday, July 6, 2007
WOW, I AM PREGNANT!
“Hore.. adek caca mo punya adek.” Kali ini si kecil itu tersenyum sambil mencium perut mamanya.
Caca mungkin belum tahu, apa artinya punya adek. Tapi dia tampak sumringah tiap kali sebuah iklan susu untuk ibu hamil muncul di televisi.
“Kik..kik.., ada adek bayi.” Begitu komentarnya selalu. Kayak adek bayi di perutnya mama ya..., begitu biasanya ia meneruskan ucapannya.
Mungkin jika caca mulai tahu bahwa punya adek berarti mesti berbagi sayang, dia akan mulai merasa cemburu. Untuk persoalan yang satu ini, mama dan abah caca memang mesti belajar menerapkan teori-teori tentang mengatasi rasa cemburu anak terhadap adek barunya yang pernah kami dengar. Dan mungkin itu bukan persoalan mudah, tapi semuanya memang mesti dicoba dan diusahakan.
Baru dua hari lalu mama caca tahu kalo lagi berbadan dua. Usianya 7 minggu atau 1,5 bulan. Maklum, tanda-tanda kehamilan yang kedua ini amat berbeda dengan hamil yang pertama. Kalo yang pertama dulu, mama caca ngerasain mual-mual mulai bangun tidur pagi ampe pukul sebelas siang. Selepas jam sebelas siang, biasanya tubuh udah agak enakan. Kejadian seperti itu berlangsung mulai usia kehamilan 1 minggu ampe 16 minggu. Kalo istilah kedokterannya, mama caca kena morning sicknes kali ya...
Tapi untuk kehamilan kali ini mama caca justru sering ngalami mual-mual pas jam sepuluh pagi ampe jam satu siang. Trus mulai mual-mual lagi habis maghrib ampe malem. Makanya, tiap kali ngerasa mual mama caca bilangnya lagi kena afternoon sicknes bukan morning sicknes. Hehe... Habis datangnya gak pagi hari sih. Ternyata udah pernah hamil bukan berarti udah tahu segala-galanya. Maksudnya, setiap kehamilan selalu membawa suasana dan rasa yang berbeda.
Caca mungkin belum tahu, apa artinya punya adek. Tapi dia tampak sumringah tiap kali sebuah iklan susu untuk ibu hamil muncul di televisi.
“Kik..kik.., ada adek bayi.” Begitu komentarnya selalu. Kayak adek bayi di perutnya mama ya..., begitu biasanya ia meneruskan ucapannya.
Mungkin jika caca mulai tahu bahwa punya adek berarti mesti berbagi sayang, dia akan mulai merasa cemburu. Untuk persoalan yang satu ini, mama dan abah caca memang mesti belajar menerapkan teori-teori tentang mengatasi rasa cemburu anak terhadap adek barunya yang pernah kami dengar. Dan mungkin itu bukan persoalan mudah, tapi semuanya memang mesti dicoba dan diusahakan.
Baru dua hari lalu mama caca tahu kalo lagi berbadan dua. Usianya 7 minggu atau 1,5 bulan. Maklum, tanda-tanda kehamilan yang kedua ini amat berbeda dengan hamil yang pertama. Kalo yang pertama dulu, mama caca ngerasain mual-mual mulai bangun tidur pagi ampe pukul sebelas siang. Selepas jam sebelas siang, biasanya tubuh udah agak enakan. Kejadian seperti itu berlangsung mulai usia kehamilan 1 minggu ampe 16 minggu. Kalo istilah kedokterannya, mama caca kena morning sicknes kali ya...
Tapi untuk kehamilan kali ini mama caca justru sering ngalami mual-mual pas jam sepuluh pagi ampe jam satu siang. Trus mulai mual-mual lagi habis maghrib ampe malem. Makanya, tiap kali ngerasa mual mama caca bilangnya lagi kena afternoon sicknes bukan morning sicknes. Hehe... Habis datangnya gak pagi hari sih. Ternyata udah pernah hamil bukan berarti udah tahu segala-galanya. Maksudnya, setiap kehamilan selalu membawa suasana dan rasa yang berbeda.
Saturday, June 30, 2007
CATATAN SEPANJANG JALAN
Kemarin mama caca pulkam alias pulang kampung. Pulang kampung kali ini emang sekalian ngajak caca jalan-jalan ke kampung halaman mamanya. Maklum, caca lagi libur panjang. Pertengahan Juli nanti play groupnya baru masuk lagi.
“Wah, play groupnya ketutupan terus ya...” Celetuk caca.
Di Kediri caca bisa berhaha..hihi.. bareng saudara-saudara kecilnya yang jarang-jarang bisa ketemu. Bisa main air juga di kolam renang khusus buat batita. Asyik...
Sebelum jadi orang Pati, mama caca emang asli Kediri. Sebuah kota di provinsi Jawa Timur. Masih enam jam perjalanan jika ditempuh melalui jalan darat dari kampung caca di Pati. Sepanjang perjalanan hujan tak henti mengguyur. Heran juga, padahal menurut hitungan versi perkiraan cuaca dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam jaman SD dulu, bulan Juni masuk dalam musim kemarau. Tapi beberapa tahun terakhir, kategori musim kemarau dan musim hujan memang tak lagi bisa dikelompokkan menjadi enam bulan musim hujan, enam bulan musim kemarau. Orang bilang ini salah satu dampak pemanasan global yang bikin suasana bumi tak lagi nyaman dan teratur. Tapi gak tahulah, rupanya alam bikin aturannya sendiri. Banjir dan gempa datang di tempat yang tak biasa.
Ada catatan selama perjalanan melalui rute Pati-Rembang-Tuban-Babat-Jombang-Kediri. Tapi catatan kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan caca. Hanya catatan iseng mama caca sepanjang perjalanan sebelum sampai ke kota tujuan. Pertama adalah tentang jalanan yang berlubang. Entah, setiap kali pulkam, mama caca merasa jalan-jalan itu –terutama di sepanjang pantura- emang enggak pernah mulus. Selalu berlubang dan membahayakan. Apalagi di musim penghujan. Dan karena bahaya yang mengintip para pengguna jalan akibat lubang-lubang jalan tertutup air, banyak pula yang memanfaatkan kondisi itu untuk mencari tambahan nafkah dengan cara berdiri berhujan-hujan di sekitar lubang-lubang yang berbahaya. Biasanya mereka berkelompok, berdiri memberi peringatan para pengguna jalan dengan mengacungkan bendera. Yach, sama-sama untung lah, kita dibantu agar tak terperosok, mereka minta imbalan atas jasanya.
Catatan kedua tentang perahu-perahu nelayan yang tertambat sepanjang pantai Rembang-Tuban. Rupanya hujan yang disertai gemuruh petir dan angin tak bersahabat buat para nelayan. Akhirnya, kapal-kapal kecil mereka mesti berhenti berlayar. Libur mencari ikan. Mama caca cuma berdoa dalam hati, semoga mereka tetap bisa mencari makan. Dengan cara yang halal tentu saja. Amin.
Catatan berikutnya tentang rel kereta dan pabrik gula. Ini sebenarnya catatan iseng aja. Mama caca ingin mencatatnya karena banyaknya nasib kereta api yang sering anjlok. Usut punya usut, disepanjang jalan yang dilalui mama caca, jalan kereta api itu konon semuanya peninggalan zaman Belanda. Pantesan sering anjlok, emang udah sepuh usianya.
Demikian juga pabrik gula, tak satu pun yang dibangun pada zaman Republik (pinjam istilah para veteran). Mungkin, pada zamannya, pabrik-pabrik gula itu amat berjasa bagi kantong Belanda. Tapi lihatlah sekarang, banyak yang udah pada kolaps. Peralatan yang makin usang, petani tebu yang kian tahun kian berkurang penghasilan. Harga pupuk yang selangit. Dan tentu saja harga gula yang tak stabil. Sekarang pun di pati sedang musim panen tebu. Tapi entahlah, tiap kali panen tiba, harga emang selalu begitu..
Di Pati sendiri dulu ada dua pabrik gula. Dua-duanya dibangun pada zaman belanda. Tapi sekarang tinggal satu yang beroperasi. Demikian pula PG atau pabrik gula di Rembang, Tuban, Jombang dan Kediri, usianya setengah abad lebih tua daripada Republik ini.
Lho, kok semuanya dibangun pada zaman Belanda? Trus apa dong di zaman kita?
(kalimat yang terakhir ini, tentu bukan pertanyaan caca, soalnya belum ada pelajaran sejarah di play groupnya. Hehe..)
“Wah, play groupnya ketutupan terus ya...” Celetuk caca.
Di Kediri caca bisa berhaha..hihi.. bareng saudara-saudara kecilnya yang jarang-jarang bisa ketemu. Bisa main air juga di kolam renang khusus buat batita. Asyik...
Sebelum jadi orang Pati, mama caca emang asli Kediri. Sebuah kota di provinsi Jawa Timur. Masih enam jam perjalanan jika ditempuh melalui jalan darat dari kampung caca di Pati. Sepanjang perjalanan hujan tak henti mengguyur. Heran juga, padahal menurut hitungan versi perkiraan cuaca dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam jaman SD dulu, bulan Juni masuk dalam musim kemarau. Tapi beberapa tahun terakhir, kategori musim kemarau dan musim hujan memang tak lagi bisa dikelompokkan menjadi enam bulan musim hujan, enam bulan musim kemarau. Orang bilang ini salah satu dampak pemanasan global yang bikin suasana bumi tak lagi nyaman dan teratur. Tapi gak tahulah, rupanya alam bikin aturannya sendiri. Banjir dan gempa datang di tempat yang tak biasa.
Ada catatan selama perjalanan melalui rute Pati-Rembang-Tuban-Babat-Jombang-Kediri. Tapi catatan kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan caca. Hanya catatan iseng mama caca sepanjang perjalanan sebelum sampai ke kota tujuan. Pertama adalah tentang jalanan yang berlubang. Entah, setiap kali pulkam, mama caca merasa jalan-jalan itu –terutama di sepanjang pantura- emang enggak pernah mulus. Selalu berlubang dan membahayakan. Apalagi di musim penghujan. Dan karena bahaya yang mengintip para pengguna jalan akibat lubang-lubang jalan tertutup air, banyak pula yang memanfaatkan kondisi itu untuk mencari tambahan nafkah dengan cara berdiri berhujan-hujan di sekitar lubang-lubang yang berbahaya. Biasanya mereka berkelompok, berdiri memberi peringatan para pengguna jalan dengan mengacungkan bendera. Yach, sama-sama untung lah, kita dibantu agar tak terperosok, mereka minta imbalan atas jasanya.
Catatan kedua tentang perahu-perahu nelayan yang tertambat sepanjang pantai Rembang-Tuban. Rupanya hujan yang disertai gemuruh petir dan angin tak bersahabat buat para nelayan. Akhirnya, kapal-kapal kecil mereka mesti berhenti berlayar. Libur mencari ikan. Mama caca cuma berdoa dalam hati, semoga mereka tetap bisa mencari makan. Dengan cara yang halal tentu saja. Amin.
Catatan berikutnya tentang rel kereta dan pabrik gula. Ini sebenarnya catatan iseng aja. Mama caca ingin mencatatnya karena banyaknya nasib kereta api yang sering anjlok. Usut punya usut, disepanjang jalan yang dilalui mama caca, jalan kereta api itu konon semuanya peninggalan zaman Belanda. Pantesan sering anjlok, emang udah sepuh usianya.
Demikian juga pabrik gula, tak satu pun yang dibangun pada zaman Republik (pinjam istilah para veteran). Mungkin, pada zamannya, pabrik-pabrik gula itu amat berjasa bagi kantong Belanda. Tapi lihatlah sekarang, banyak yang udah pada kolaps. Peralatan yang makin usang, petani tebu yang kian tahun kian berkurang penghasilan. Harga pupuk yang selangit. Dan tentu saja harga gula yang tak stabil. Sekarang pun di pati sedang musim panen tebu. Tapi entahlah, tiap kali panen tiba, harga emang selalu begitu..
Di Pati sendiri dulu ada dua pabrik gula. Dua-duanya dibangun pada zaman belanda. Tapi sekarang tinggal satu yang beroperasi. Demikian pula PG atau pabrik gula di Rembang, Tuban, Jombang dan Kediri, usianya setengah abad lebih tua daripada Republik ini.
Lho, kok semuanya dibangun pada zaman Belanda? Trus apa dong di zaman kita?
(kalimat yang terakhir ini, tentu bukan pertanyaan caca, soalnya belum ada pelajaran sejarah di play groupnya. Hehe..)
Sunday, June 24, 2007
CACA YANG LAGI BAD MOOD
Hari ini play group caca ulang tahun yang kesatu. Hari ini pula play group caca ngadain mini party sekalian pemberian tanda mata bagi temen-temen caca yang sudah layak masuk Taman Kanak-kanak. Sebenarnya mama caca udah semangat banget hendak berangkat tepat jam delapan pagi –sebagaimana undangan- tapi simbah putri yang punya acara lain sebelum jam itu mengajak mama caca berangkat bareng-bareng setelah acara beliau kelar. Maklum, mbah putri tentu pingin liat sang cucu beraksi di panggung kecilnya. Pasti lucu dan bikin bangga. Akhirnya diputuskan, pagi tadi caca berangkat duluan bersama mbaknya. Sedangkan mama caca menyusul. Bareng ama mbah putrinya.
Acara mbah putri baru kelar pukul sembilan tiga puluh. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, mama caca dan simbah putri berangkat ke play group caca. Kayaknya simbah kecewa datang terlambat. Mungkin takut ketinggalan menyaksikan momen lucu cucunya. Hehe..
Dan sampailah kami di tempat acara. Benar saja, acara sudah sepertiga jalan. Tinggal tiga pementasan dan penutup. Setelah duduk di tempat yang telah ditentukan, simbah putri tampak mulai resah mencari sang cucu yang tak nampak batang hidungnya.
“Caca mana...?” Mbah putri bertanya.
Mama caca yang semula tenang-tenang saja mulai resah nyari kemana bocah kecil itu berada. Kenapa tak nampak diantara teman-temannya yang sedang beraksi.
“Waduh, dek cacanya lagi bobok..” seorang guru tiba-tiba memberi tahu.
Akhirnya kabar tentang boboknya sang cucu mama caca sampaikan pada mbah putri.
“Caca lagi bobok..” Ujar mama caca agak takut. Khawatir mbah putrinya kecewa.
Dan benar saja, simbah emang kecewa. Aksi bobok pada waktu yang tidak diharapkan itu ternyata berlanjut sampai si kecil itu bangun tidur. Emang dah jadi kebiasaan, setiap bangun tidur, caca suka pasang wajah cemberut. Biasanya dia jadi bete sendiri dan bikin bete orang disekitarnya. Pokoknya tadi pagi judulnya Bad Mood.
Sebenarnya mama caca juga kecewa. Soalnya emang bukan kebiasaan caca tidur jam segitu. Biasanya sih itu jam bermain. Tapi mama caca emang gak tahu pasti urutan kejadiannya, katanya sih begitu nyampe di tempat acara tadi pagi caca sempet mogok. Habis itu rewel dan minta gendong. Ujung-ujungnya dia tertidur ketika temen-temennya pada tampil. Hingga caca bangun dan acara di playgroup itu selesai, caca tidak sedikit pun memeperlihatkan aksi lucunya. Si kecil itu malah gak mau turun dari gendongan mamanya.
Kecewa mbah putri emang beralasan. bagaimana pun mbah putri sudah berharap bisa melihat aksi lucu sang cucu seperti hari-harinya di rumah. Tapi kasian juga kalo caca yang lagi ngambek dipaksa tampil lucu.
Maaf deh mbah putri, kan adek lagi bad mood....
Acara mbah putri baru kelar pukul sembilan tiga puluh. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, mama caca dan simbah putri berangkat ke play group caca. Kayaknya simbah kecewa datang terlambat. Mungkin takut ketinggalan menyaksikan momen lucu cucunya. Hehe..
Dan sampailah kami di tempat acara. Benar saja, acara sudah sepertiga jalan. Tinggal tiga pementasan dan penutup. Setelah duduk di tempat yang telah ditentukan, simbah putri tampak mulai resah mencari sang cucu yang tak nampak batang hidungnya.
“Caca mana...?” Mbah putri bertanya.
Mama caca yang semula tenang-tenang saja mulai resah nyari kemana bocah kecil itu berada. Kenapa tak nampak diantara teman-temannya yang sedang beraksi.
“Waduh, dek cacanya lagi bobok..” seorang guru tiba-tiba memberi tahu.
Akhirnya kabar tentang boboknya sang cucu mama caca sampaikan pada mbah putri.
“Caca lagi bobok..” Ujar mama caca agak takut. Khawatir mbah putrinya kecewa.
Dan benar saja, simbah emang kecewa. Aksi bobok pada waktu yang tidak diharapkan itu ternyata berlanjut sampai si kecil itu bangun tidur. Emang dah jadi kebiasaan, setiap bangun tidur, caca suka pasang wajah cemberut. Biasanya dia jadi bete sendiri dan bikin bete orang disekitarnya. Pokoknya tadi pagi judulnya Bad Mood.
Sebenarnya mama caca juga kecewa. Soalnya emang bukan kebiasaan caca tidur jam segitu. Biasanya sih itu jam bermain. Tapi mama caca emang gak tahu pasti urutan kejadiannya, katanya sih begitu nyampe di tempat acara tadi pagi caca sempet mogok. Habis itu rewel dan minta gendong. Ujung-ujungnya dia tertidur ketika temen-temennya pada tampil. Hingga caca bangun dan acara di playgroup itu selesai, caca tidak sedikit pun memeperlihatkan aksi lucunya. Si kecil itu malah gak mau turun dari gendongan mamanya.
Kecewa mbah putri emang beralasan. bagaimana pun mbah putri sudah berharap bisa melihat aksi lucu sang cucu seperti hari-harinya di rumah. Tapi kasian juga kalo caca yang lagi ngambek dipaksa tampil lucu.
Maaf deh mbah putri, kan adek lagi bad mood....
Wednesday, June 20, 2007
HOREE..!! MBAH KUNG DAH GAK DIINFUS LAGI...
Menengok orang sakit adalah pekerjaan terpuji. Sebab dengan menengok orang sakit kita jadi ingat betapa mahalnya sehat itu. Dengan menengok orang sakit pula kita berharap dapat menghibur si sakit, sehingga rasa sakitnya sedikit terkurangi.
Di tempat mama caca, urusan tengok-menengok sudah menjadi tradisi. Entah itu terkait dengan menengok orang sakit, menengok orang melahirkan, menengok bocah sunatan atau sebangsanya. Jika ada orang yang kita kenal sakit, lalu kita absen menengoknya, maka kita bisa mendapat nilai minus dari teman-teman lain yang mengenalnya. Dan kita bakal dianggap sebagai orang yang tak peduli dan tak gemar melakukan kebaikan. Bukankah menengok orang sakit sama dengan melakukan kebaikan?
Nah, itulah persoalannya. Urusan tengok-menengok kemudian menjadi ribet jika si sakit yang butuh istirahat di rumah sakit, ternyata malah bertambah sibuk demi melayani tamu-tamu yang menengoknya. Dan memberi pengertian tamu-tamu itu bahwa si sakit butuh istirahat bukan persoalan mudah. Pokoknya yang namanya orang sakit ya.. mesti ditengok.
Itu juga yang dialami simbah kakung caca beberapa minggu lalu. Beliau yang sepuh dinyatakan kurang cairan oleh dokter yang menanganinya. Batuknya pun menimbulkan nyeri dan bikin susah tidur. Menurut dokter, beliau butuh istirahat di rumah sakit dan mendapat asupan makanan serta cairan melalui infus. Membawa mbah kakung ke rumah sakit bukan persoalan sulit, yang jadi persoalan justru bagaimana menyiasati agar tidak banyak orang yang tahu kalo mbah kakung lagi opname. Soalnya, gak bisa bayangin gimana makin lelahnya beliau menerima tahu yang pingin tahu kondisinya.
Setahun lalu pernah kejadian, mbah kakung opname di sebuah rumah sakit di semarang. Letak rumah sakit itu masih 4 jam perjalanan dari kampung caca. Tapi jauhnya tempat mbah kakung opname ternyata gak bikin para tamu surut langkah. Tamu dari berbagai kota datang menjenguk. Dan saat itu keluarga kelabakan menerima tamu yang berkunjung ke rumah sakit. Akhirnya, demi kesehatan mbah kakung, tamu-tamu distop meski masih jam kunjung rumah sakit.
Mengingat pengalaman itu, akhirnya kali ini keluarga memutuskan merahasiakan sakitnya mbah kakung. Tidak ada yang diberi tahu kalo mbah kakung lagi opname. Hasilnya, hari pertama aman. Tapi pada hari kedua, tamu dah mulai berdatangan. Entah siapa yang mengabarkan. Untung, hari ketiga mbah kakung udah boleh pulang. Jadilah tamu-tamu yang datang ke rumah sakit pada kecele. Lho, yang mo ditengok kok udah gak ada.
Kalo sudah begini yang untung caca juga.
“Horeee, mbah kakung udah gak diinfus. Adek bisa maen-maen di kamarnya lagi..!!”
Sehat selalu ya.. mbah...
Di tempat mama caca, urusan tengok-menengok sudah menjadi tradisi. Entah itu terkait dengan menengok orang sakit, menengok orang melahirkan, menengok bocah sunatan atau sebangsanya. Jika ada orang yang kita kenal sakit, lalu kita absen menengoknya, maka kita bisa mendapat nilai minus dari teman-teman lain yang mengenalnya. Dan kita bakal dianggap sebagai orang yang tak peduli dan tak gemar melakukan kebaikan. Bukankah menengok orang sakit sama dengan melakukan kebaikan?
Nah, itulah persoalannya. Urusan tengok-menengok kemudian menjadi ribet jika si sakit yang butuh istirahat di rumah sakit, ternyata malah bertambah sibuk demi melayani tamu-tamu yang menengoknya. Dan memberi pengertian tamu-tamu itu bahwa si sakit butuh istirahat bukan persoalan mudah. Pokoknya yang namanya orang sakit ya.. mesti ditengok.
Itu juga yang dialami simbah kakung caca beberapa minggu lalu. Beliau yang sepuh dinyatakan kurang cairan oleh dokter yang menanganinya. Batuknya pun menimbulkan nyeri dan bikin susah tidur. Menurut dokter, beliau butuh istirahat di rumah sakit dan mendapat asupan makanan serta cairan melalui infus. Membawa mbah kakung ke rumah sakit bukan persoalan sulit, yang jadi persoalan justru bagaimana menyiasati agar tidak banyak orang yang tahu kalo mbah kakung lagi opname. Soalnya, gak bisa bayangin gimana makin lelahnya beliau menerima tahu yang pingin tahu kondisinya.
Setahun lalu pernah kejadian, mbah kakung opname di sebuah rumah sakit di semarang. Letak rumah sakit itu masih 4 jam perjalanan dari kampung caca. Tapi jauhnya tempat mbah kakung opname ternyata gak bikin para tamu surut langkah. Tamu dari berbagai kota datang menjenguk. Dan saat itu keluarga kelabakan menerima tamu yang berkunjung ke rumah sakit. Akhirnya, demi kesehatan mbah kakung, tamu-tamu distop meski masih jam kunjung rumah sakit.
Mengingat pengalaman itu, akhirnya kali ini keluarga memutuskan merahasiakan sakitnya mbah kakung. Tidak ada yang diberi tahu kalo mbah kakung lagi opname. Hasilnya, hari pertama aman. Tapi pada hari kedua, tamu dah mulai berdatangan. Entah siapa yang mengabarkan. Untung, hari ketiga mbah kakung udah boleh pulang. Jadilah tamu-tamu yang datang ke rumah sakit pada kecele. Lho, yang mo ditengok kok udah gak ada.
Kalo sudah begini yang untung caca juga.
“Horeee, mbah kakung udah gak diinfus. Adek bisa maen-maen di kamarnya lagi..!!”
Sehat selalu ya.. mbah...
Subscribe to:
Posts (Atom)