Banyak temen mama caca yang heran. Bagaimana caranya agar batitanya gemar maem. Mama caca sendiri awalnya juga heran, kenapa batita teman-teman mama caca pada ogah maem? Konon berbagai trik telah dilakukan oleh ibu-ibu itu agar batitanya mau maem. Dari mulai memasak makanan kesukaan si baby sampai memberi vitamin ini-itu.
Sejauh ini, tiap kali ditanya tentang si caca yang endut (gak seperti mamanya yang sama sekali gak endut. Hehe..) dan suka maem, mama caca cuma menjawab dengan jawaban standar aja. Tapi sebenarnya mama caca sempet berucap banyak alasan dalam hati, kenapa batita dilingkungan mama caca pada ogah maem.
Menurut catatan mama caca, ada beberapa sebab kenapa batita ogah maem.
Pertama karena udah kadung terbiasa jajan dengan pemanis buatan atau makanan dengan kadar penyedap rasa yang bejibun. So, jangan heran kalo akhirnya batita lebih memilih jajanan yang gak sehat daripada makanan yang bergizi.
Untuk alasan yang kedua mungkin masih perlu lebih banyak pembuktian. Mama caca sendiri baru melihat pengalaman caca sebagai pengalaman pertama.
Jadi, dulu sewaktu caca lahir melalui operasi caesar, caca gak langsung dimandiin layaknya baby-baby tetangga di indonesia. Tapi cukup dibersihkan dan diperiksa seadanya. Tiga jam setelah itu, caca langsung diberikan pada mama caca buat dikasih asi. Menurut sang dokter, baby yang baru lahir tidak seharusnya dimandikan dan mencium aroma sabun sebelum mencium aroma tubuh mamanya. Masih menurut sang dokter, baby yang mencium aroma sabun terlebih dahulu sebelum mencium aroma tubuh ibunya akan mengalami penurunan selera makan hingga 75%.
Wow, 75% kan gak sedikit. Namun langkah pertama ini (mengenalkan aroma tubuh ibunya) harus diikuti dengan pemberian asi eklusif tentunya. Tapi itu teori yang disampaikan sang dokter. Selebihnya mama caca hanya mengamininya setelah melihat perkembangan caca. tapi lagi-lagi catatan tersebut Cuma berani mama caca catet di blog ini. Pasalnya, jika disampaikan pada ibu-ibu di lingkungan mama caca, takut dituduh Cuma sok tahu. Wong punya anak masih satu aja kok belagu!!.
Hik, emang mama caca sok tahu kok!!
Saturday, May 26, 2007
Wednesday, May 23, 2007
LHO, ANAK PINTERNYA KOK NANGIS LAGI...
Caca emang masih kecil, tapi dia udah bisa marah. Kemarin si kecil itu marah-marah. Pasalnya ketika abahnya pamit hendak pergi, caca bilang kalo dia mau da da (sambil melambaikan tangan mungilnya) ama abah di depan rumah. Tapi ternyata abahnya keburu berangkat duluan sebelum caca sempat da ..da...
Dan caca marah banget. Dia nangis keras-keras.
“Lho, adek kok nggak diajak dada. Huwa....huwa...”
“Lho, adek kok ditinggal ama abah. Huwa...huwa...”
Makin lama nangisnya makin kenceng. Nangisnya baru berhenti setelah diajak telpon abahnya. Di telepon caca langsung ngungkapin sendiri kekecewanya yang nggak sempat bilang: “dada... abah.”
Habis ngomong di telepon itu, caca terlihat lega.
Caca sekarang juga punya kebiasaan baru. Setiap abah atau mamanya pulang bepergian, dia akan langsung mberondong dengan pertanyaan:
“Abah dari mana?”
“Mama dari mana?”
“Abah dari rapat ato dari pijet?”
“Kok adek nggak diajak?”
Tanyanya sambil pasang muka cemberut.
Kalo udah gitu, mama caca mesti ngerayu-ngerayu biar ngambeknya nggak keterusan.
Kalo lagi uring-uringan, caca emang kudu dirayu-rayu. Biasanya diajak ngobrol tentang prestasinya hari ini. Misalnya caca yang udah pinter karena mau pipis di kamar mandi. Ato caca yang udah bisa maem dan bikin susu sendiri. Juga caca yang udah bisa pake baju sendiri.
Paling seneng lagi kalo mamanya bilang.
“Wah, caca anak pinter. TOP..TOP...TOP....”
Lalu,
“Kik...kik..kik...” Dia akan tertawa riang.
Bocah kecil yang satu itu paling sebel kalo ngerasa dicuekin ato nggak diikutsertakan dalam berbagai hal. Misalkan mama dan abahnya lagi ngobrol, caca mesti diajak ngobrol juga. Kalo enggak, pasti dia akan cari perhatian dengan berbuat yang aneh-aneh. Dari mulai manjat ini-itu, ngutak-atik kabel TV ato ngorat-arit apa aja. Tapi kalo udah ngelakuin apa aja masih nggak diperhatikan, jurus pamungkasnya pasti dikeluarin. Nangis keras-keras. Huwa..huwa...
Dan caca marah banget. Dia nangis keras-keras.
“Lho, adek kok nggak diajak dada. Huwa....huwa...”
“Lho, adek kok ditinggal ama abah. Huwa...huwa...”
Makin lama nangisnya makin kenceng. Nangisnya baru berhenti setelah diajak telpon abahnya. Di telepon caca langsung ngungkapin sendiri kekecewanya yang nggak sempat bilang: “dada... abah.”
Habis ngomong di telepon itu, caca terlihat lega.
Caca sekarang juga punya kebiasaan baru. Setiap abah atau mamanya pulang bepergian, dia akan langsung mberondong dengan pertanyaan:
“Abah dari mana?”
“Mama dari mana?”
“Abah dari rapat ato dari pijet?”
“Kok adek nggak diajak?”
Tanyanya sambil pasang muka cemberut.
Kalo udah gitu, mama caca mesti ngerayu-ngerayu biar ngambeknya nggak keterusan.
Kalo lagi uring-uringan, caca emang kudu dirayu-rayu. Biasanya diajak ngobrol tentang prestasinya hari ini. Misalnya caca yang udah pinter karena mau pipis di kamar mandi. Ato caca yang udah bisa maem dan bikin susu sendiri. Juga caca yang udah bisa pake baju sendiri.
Paling seneng lagi kalo mamanya bilang.
“Wah, caca anak pinter. TOP..TOP...TOP....”
Lalu,
“Kik...kik..kik...” Dia akan tertawa riang.
Bocah kecil yang satu itu paling sebel kalo ngerasa dicuekin ato nggak diikutsertakan dalam berbagai hal. Misalkan mama dan abahnya lagi ngobrol, caca mesti diajak ngobrol juga. Kalo enggak, pasti dia akan cari perhatian dengan berbuat yang aneh-aneh. Dari mulai manjat ini-itu, ngutak-atik kabel TV ato ngorat-arit apa aja. Tapi kalo udah ngelakuin apa aja masih nggak diperhatikan, jurus pamungkasnya pasti dikeluarin. Nangis keras-keras. Huwa..huwa...
Curhat mama caca: TENTANG MENJADI IBU
Beberapa saat lalu mama caca bertemu seorang temen yang hendak nulis sebuah karya tulis sebagai syarat kelulusannya. Dia baru hendak lulus SLTA. Temen itu ngajak mama caca berbincang tentang karya tulisnya yang membahas ketidaklayakan perempuan sibuk di luar rumah, sebab menurutnya tugas utama seorang ibu adalah mendidik dan mengurus anak-anaknya.
Sebenarnya mama caca heran dan nggak begitu tertarik dengan obrolan temen itu. Apalagi cara pandangnya yang terdengar aneh di telinga mama caca. Kok masih ada ya.. orang yang berpikiran begitu. Tapi ajakan ngobrol dari teman itu membuat mama caca jadi teringat suatu hal. Emang sih, kalo dipikir-pikir, ketika seorang perempuan telah mengikrarkan dirinya untuk jadi ibu. Entah bagi anak-anak yang dilahirkan atau dirawatnya, maka sebenarnya itu adalah janji seumur hidup. Sebab jadi ibu nggak pernah mengenal kata pensiun. Apalagi ibu-ibu di negara dengan tradisi pertalian darah kuat layaknya Indonesia. Tapi jika seorang perempuan yang menyandang title sebagai ibu berarti dia mesti hanya di rumah saja. Alangkah tidak menariknya dunia.
Menurut mama caca sih, seorang ibu justru mesti punya kesibukan di luar rumah. Entah yang berkaitan dengan usaha penguatan ekonomi keluarga, misalnya bekerja. Atau pun kesibukan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat.
Ibu yang tiap hari hanya berkutat dengan anaknya justru bisa berdampak buruk pada perkembangan mental, kedewasaan dan kemandirian anak. Tapi bukan berarti seorang ibu mesti menomorsatukan pekerjaan daripada buah hatinya. Yang pasti mama caca percaya kalo semua orang mesti punya skala prioritas menurut kadar kebutuhan dan kepentingan masing-masing.
Ini dirasakan pula oleh mama caca. Pernah mama caca tidak bertemu caca selama 45 hari. Ajaib, ternyata dalam rentang 45 hari itu, banyak sekali perkembangan positif yang berhasil dilalui caca. Dia terlihat lebih mandiri. Misalnya segera berlari ke kamar mandi tiap ngerasa hendak buang air kecil. Maem sendiri, bobok gak pake rewel, hafal warna-warna. Pokoknya dia tiba-tiba menjadi lebih dewasa dibanding 45 hari sebelumnya.
Lain halnya, jika dalam tiga hari mama caca menghabiskan 24 jam bersama caca, bisa dipastikan, caca akan makin kolokan, manja dan kian nggak mandiri. Misalnya; nggak mau bobok kalo nggak digendong, suka ngompol, apa-apa mesti sama mamanya. Pokoknya manja banget.
Dari sini mama caca dapat pelajaran, bahwa demi kemandirian dan perkembangan jiwa anak, mestinya seorang ibu tidak membiarkan anaknya hanya bisa mergaul dengan ibu bapaknya. Sebaliknya, batita mesti diberi kesempatan bermain tanpa ibu bapaknya. Tapi bukan berarti ibu bapaknya lepas sama sekali. Sebab bagaimanapun kasih orang tua tak akan sama dengan perhatian dari selainnya.
Alasan lain kenapa seorang ibu mesti memiliki aktifitas selain berkutat dengan babynya adalah demi kesehatan fisik dan mental ibu itu sendiri. Seorang ibu yang tidak memiliki aktifitas lain selain baby dan rumah tangganya akan mengalami kejenuhan yang ujung-ujungnya membuat dia cepat marah dan putus asa. Karenanya, seorang ibu semestinya meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Menikmati hobby atau refreshing demi mengatasi kejenuhan yang dirasakannya. Juga mencari tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar tidak terlalu jauh tertinggal dari suami, anak dan lingkungannya.
Sebenarnya mama caca heran dan nggak begitu tertarik dengan obrolan temen itu. Apalagi cara pandangnya yang terdengar aneh di telinga mama caca. Kok masih ada ya.. orang yang berpikiran begitu. Tapi ajakan ngobrol dari teman itu membuat mama caca jadi teringat suatu hal. Emang sih, kalo dipikir-pikir, ketika seorang perempuan telah mengikrarkan dirinya untuk jadi ibu. Entah bagi anak-anak yang dilahirkan atau dirawatnya, maka sebenarnya itu adalah janji seumur hidup. Sebab jadi ibu nggak pernah mengenal kata pensiun. Apalagi ibu-ibu di negara dengan tradisi pertalian darah kuat layaknya Indonesia. Tapi jika seorang perempuan yang menyandang title sebagai ibu berarti dia mesti hanya di rumah saja. Alangkah tidak menariknya dunia.
Menurut mama caca sih, seorang ibu justru mesti punya kesibukan di luar rumah. Entah yang berkaitan dengan usaha penguatan ekonomi keluarga, misalnya bekerja. Atau pun kesibukan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat.
Ibu yang tiap hari hanya berkutat dengan anaknya justru bisa berdampak buruk pada perkembangan mental, kedewasaan dan kemandirian anak. Tapi bukan berarti seorang ibu mesti menomorsatukan pekerjaan daripada buah hatinya. Yang pasti mama caca percaya kalo semua orang mesti punya skala prioritas menurut kadar kebutuhan dan kepentingan masing-masing.
Ini dirasakan pula oleh mama caca. Pernah mama caca tidak bertemu caca selama 45 hari. Ajaib, ternyata dalam rentang 45 hari itu, banyak sekali perkembangan positif yang berhasil dilalui caca. Dia terlihat lebih mandiri. Misalnya segera berlari ke kamar mandi tiap ngerasa hendak buang air kecil. Maem sendiri, bobok gak pake rewel, hafal warna-warna. Pokoknya dia tiba-tiba menjadi lebih dewasa dibanding 45 hari sebelumnya.
Lain halnya, jika dalam tiga hari mama caca menghabiskan 24 jam bersama caca, bisa dipastikan, caca akan makin kolokan, manja dan kian nggak mandiri. Misalnya; nggak mau bobok kalo nggak digendong, suka ngompol, apa-apa mesti sama mamanya. Pokoknya manja banget.
Dari sini mama caca dapat pelajaran, bahwa demi kemandirian dan perkembangan jiwa anak, mestinya seorang ibu tidak membiarkan anaknya hanya bisa mergaul dengan ibu bapaknya. Sebaliknya, batita mesti diberi kesempatan bermain tanpa ibu bapaknya. Tapi bukan berarti ibu bapaknya lepas sama sekali. Sebab bagaimanapun kasih orang tua tak akan sama dengan perhatian dari selainnya.
Alasan lain kenapa seorang ibu mesti memiliki aktifitas selain berkutat dengan babynya adalah demi kesehatan fisik dan mental ibu itu sendiri. Seorang ibu yang tidak memiliki aktifitas lain selain baby dan rumah tangganya akan mengalami kejenuhan yang ujung-ujungnya membuat dia cepat marah dan putus asa. Karenanya, seorang ibu semestinya meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Menikmati hobby atau refreshing demi mengatasi kejenuhan yang dirasakannya. Juga mencari tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar tidak terlalu jauh tertinggal dari suami, anak dan lingkungannya.
Sunday, May 20, 2007
HARI INI CACA SENENG BANGET
Hari ini caca ceria banget. Ketawa-ketiwi, cerita ini-itu. Apa pasal? Ternyata embaknya datang nengokin caca. Embak yang ini emang udah ikut momong caca sejak caca umur dua bulan. Dulu mama caca suka gantian momong caca ama mbak ini. Biasanya mulai setelah mandi pagi ampe jam 10.30 dan jam 16.30 ampe jam 19.00 caca dijagain ama mbak ini. Selain jam-jam itu caca main bareng mamanya. Kecuali jika mama caca ada acara yang nggak bisa ngajak caca.
Daur itu berjalan terus sampai caca hafal dengan jam-jam kebiasaannya. Biasanya, kalo udah waktunya ikut mamanya, tapi si mama belum nongol juga, caca otomatis jadi rewel. Nangis sambil tak henti-henti nyebut-nyebut mamanya. Demikian juga sebaliknya, kalo udah waktunya main bareng embaknya, caca juga akan nyari-nyari mbak ini sambil nyebut namanya berulang-ulang.
Nyatanya caca emang dah lengket ama mbak ini. Dulu sewaktu mama caca pergi haji, mbak ini juga yang ngerawat dan nemeni caca setiap harinya. Praktis selama 45 hari, caca bercerita, berkeluh dan menumpahkan kesalnya pada mbak ini. Hingga caca jadi deket banget ama mbak ini. Dan mbak yang satu ini emang sabar dan sayang ama caca. Jika sedang main berdua sudah layaknya kakak-beradik saja.
Sampai akhirnya, datang juga waktu mbak ini buat boyongan. Maklum, udah ada seorang tetangga yang meminangnya. Tak lama lagi mbak ini mo nikahan. Sebenarnya udah ada mbak lain yang siap menggantikannya. Tapi rupanya caca tak semudah itu nyaman dengan pengganti mbak ini. Sepertinya caca dah kadung punya pertalian batin dengan mbak yang satu ini.
Contohnya udah tiga kali kejadian semenjak mbak ini boyong. Tiap kali mbak ini punya krentek ato maksud hati hendak nengok caca, pasti empat atau tiga hari sebelumnya caca tak henti nyebut-nyebut nama mbak ini. Bahkan tiga hari lalu sebelum mbak ini datang, caca tiba-tiba nangis minta nelpon mbak ini. Sayang nomornya nggak bisa dihubungi. Tapi waktu itu mama caca udah mbathin, paling-paling mbaknya mo ke sini. Caca dah ngrasa duluan.
Dan benar saja. Hari ini mbaknya datang. Caca bungah banget. Cerita ini-itu, Nyanyi-nyanyi. Pokoknya happy. Pas mama caca nanyain, kok kamu ceria banget sih. Eh, cacanya malah jawab: “kan pas mama pergi haji, caca ama mbak ini terus boboknya”.
Ternyata, kedekatan hati bukan hanya bisa disebabkan oleh ikatan darah. Tapi juga intensitas pertemuan dan kasih sayang. Met bobok caca. Besok embaknya pulang, tapi jangan cemas, semua orang akan tetap menyayangimu. Love you caca...
Daur itu berjalan terus sampai caca hafal dengan jam-jam kebiasaannya. Biasanya, kalo udah waktunya ikut mamanya, tapi si mama belum nongol juga, caca otomatis jadi rewel. Nangis sambil tak henti-henti nyebut-nyebut mamanya. Demikian juga sebaliknya, kalo udah waktunya main bareng embaknya, caca juga akan nyari-nyari mbak ini sambil nyebut namanya berulang-ulang.
Nyatanya caca emang dah lengket ama mbak ini. Dulu sewaktu mama caca pergi haji, mbak ini juga yang ngerawat dan nemeni caca setiap harinya. Praktis selama 45 hari, caca bercerita, berkeluh dan menumpahkan kesalnya pada mbak ini. Hingga caca jadi deket banget ama mbak ini. Dan mbak yang satu ini emang sabar dan sayang ama caca. Jika sedang main berdua sudah layaknya kakak-beradik saja.
Sampai akhirnya, datang juga waktu mbak ini buat boyongan. Maklum, udah ada seorang tetangga yang meminangnya. Tak lama lagi mbak ini mo nikahan. Sebenarnya udah ada mbak lain yang siap menggantikannya. Tapi rupanya caca tak semudah itu nyaman dengan pengganti mbak ini. Sepertinya caca dah kadung punya pertalian batin dengan mbak yang satu ini.
Contohnya udah tiga kali kejadian semenjak mbak ini boyong. Tiap kali mbak ini punya krentek ato maksud hati hendak nengok caca, pasti empat atau tiga hari sebelumnya caca tak henti nyebut-nyebut nama mbak ini. Bahkan tiga hari lalu sebelum mbak ini datang, caca tiba-tiba nangis minta nelpon mbak ini. Sayang nomornya nggak bisa dihubungi. Tapi waktu itu mama caca udah mbathin, paling-paling mbaknya mo ke sini. Caca dah ngrasa duluan.
Dan benar saja. Hari ini mbaknya datang. Caca bungah banget. Cerita ini-itu, Nyanyi-nyanyi. Pokoknya happy. Pas mama caca nanyain, kok kamu ceria banget sih. Eh, cacanya malah jawab: “kan pas mama pergi haji, caca ama mbak ini terus boboknya”.
Ternyata, kedekatan hati bukan hanya bisa disebabkan oleh ikatan darah. Tapi juga intensitas pertemuan dan kasih sayang. Met bobok caca. Besok embaknya pulang, tapi jangan cemas, semua orang akan tetap menyayangimu. Love you caca...
Saturday, May 19, 2007
E-MAIL TANTE BARLAH DAN PLASENTA
Kemarin, tante barlah di aussie kirim sorry buat caca. Soalnya ari-ari caca yang dulu ditanam bersama sebuah bunga di halaman belakang flat tante barlah lupa nggak disirami. Maklum, tante yang lagi ngambil program doktornya di negara aborigin ini emang sibuk berat. Wah, tulisan tante barlah jadi bikin mama caca inget waktu abah caca mengubur plasenta dan menanam bunga diatasnya. Mama caca masih inget banget, bunga itu berwarna ungu. Ditanam diakhir musim semi.
Tentang plasenta, mama caca yakin, semua ibu yang pernah melahirkan tentu tidak asing dengan nama yang satu ini. Orang jawa lebih suka menyebutnya ari-ari atau batur. Disebut batur karena plasenta dianggap teman atau saudara bayi ketika berada dalam rahim. Karena itu, orang jawa tidak pernah sembarangan dalam memperlakukan plasenta. Ketika bayi lahir, plasenta akan langsung dicuci bersih dan ditaruh dalam kendi untuk kemudian ditanam dalam tanah. Bahkan, dalam tradisi keluarga tertentu, ada ritual-ritual khusus berkaitan dengan perlakuan terhadap plasenta. Konon bangsawan jawa zaman dulu akan memberikan sebangsa kurungan atau pertanda khusus diatas tempat plasenta ditanam. Dalam Panggil Aku Kartini saja-nya Pramudya Ananta Toer misalnya. Di sana tertera sebuah foto yang menunjukkan sebuah tempat khusus ari-ari R.A. Kartini ditanam.
Dalam tradisi keluarga mama caca, ari-ari memang mesti diuri-uri atau diperlakukan dengan baik. Diperlakukan dengan baik artinya setelah bayi lahir, plasenta mesti dicuci bersih dan ditanam secepatnya.
Tapi rupanya tidak setiap tempat memiliki kepercayaan serupa. Di beberapa tempat, plasenta dianggap sesuatu yang tidak harus mendapat perlakuan khusus. Ketika caca lahir, abah dan mama caca mesti menandatangani kesepakatan-kesepakatan serta menuliskan permintaan khusus. Dan sengaja, permintaan khusus yang dituliskan waktu itu berkaitan dengan plasenta. Mama caca meminta plasenta caca untuk dibawa pulang.
Akhirnya plasenta caca dibawa pulang dan ditanam disebuah pekarangan di halaman flat teman. Konon, di negara-negara maju, plasenta-plasenta yang direlakan oleh keluarganya akan digunakan sebagai bahan penelitian demi perkembangan ilmu kedokteran. Sebenarnya mulia sih tujuaannya. Tapi mama caca belum tega untuk merelakannya.
Tentang plasenta, mama caca yakin, semua ibu yang pernah melahirkan tentu tidak asing dengan nama yang satu ini. Orang jawa lebih suka menyebutnya ari-ari atau batur. Disebut batur karena plasenta dianggap teman atau saudara bayi ketika berada dalam rahim. Karena itu, orang jawa tidak pernah sembarangan dalam memperlakukan plasenta. Ketika bayi lahir, plasenta akan langsung dicuci bersih dan ditaruh dalam kendi untuk kemudian ditanam dalam tanah. Bahkan, dalam tradisi keluarga tertentu, ada ritual-ritual khusus berkaitan dengan perlakuan terhadap plasenta. Konon bangsawan jawa zaman dulu akan memberikan sebangsa kurungan atau pertanda khusus diatas tempat plasenta ditanam. Dalam Panggil Aku Kartini saja-nya Pramudya Ananta Toer misalnya. Di sana tertera sebuah foto yang menunjukkan sebuah tempat khusus ari-ari R.A. Kartini ditanam.
Dalam tradisi keluarga mama caca, ari-ari memang mesti diuri-uri atau diperlakukan dengan baik. Diperlakukan dengan baik artinya setelah bayi lahir, plasenta mesti dicuci bersih dan ditanam secepatnya.
Tapi rupanya tidak setiap tempat memiliki kepercayaan serupa. Di beberapa tempat, plasenta dianggap sesuatu yang tidak harus mendapat perlakuan khusus. Ketika caca lahir, abah dan mama caca mesti menandatangani kesepakatan-kesepakatan serta menuliskan permintaan khusus. Dan sengaja, permintaan khusus yang dituliskan waktu itu berkaitan dengan plasenta. Mama caca meminta plasenta caca untuk dibawa pulang.
Akhirnya plasenta caca dibawa pulang dan ditanam disebuah pekarangan di halaman flat teman. Konon, di negara-negara maju, plasenta-plasenta yang direlakan oleh keluarganya akan digunakan sebagai bahan penelitian demi perkembangan ilmu kedokteran. Sebenarnya mulia sih tujuaannya. Tapi mama caca belum tega untuk merelakannya.
Monday, May 14, 2007
KETIKA CACA MESTI KE DOKTER
Ketika mama caca membaca artikel di sebuah tabloid tentang bahaya antibiotik, mama caca sempat begidik. Ternyata penggunaan antibiotik yang berlebihan amat berbahaya bagi tubuh. Celakanya, hal ini kerapkali tidak disadari. Yang penting cepat sempuh. Tak peduli dengan kadar obat macam apa.
Ini juga yang diresahkan mama caca akhir-akhir ini. Ketika masih tinggal di negara aborigin, mama caca bisa sangat berhati-hati menggunakan obat. Sebab paramedis di sana sangat mendukung upaya penggunaan obat –terutama antibiotik- dengan hati-hati. Praktis selama satu tahun di sana, mama caca cuma pernah mengonsumsi symbicort dan panadol. Tanpa bermaksud promosi salah satu merk obat-obatan, tapi cara paramedis pengatasi atau menyembuhkan rasa sakit ternyata amat beda. Jika di indo, orang yang mengeluh sakit kepala pada dokter, pasti akan diberi resep dengan segepok obat. Bandingkan dengan mama caca ketika tinggal di aussie, saat terserang flu berat, sakit punggung atau migrain, hanya panadol dan istirahat cukup yang direkomendasikan oleh dokter. Bahkan, sehabis operasi caesar pun, mama caca hanya diberi panadol dan panadine sebagai pereda rasa sakit.
Menurut mereka, sakit semacam flu, pusing, migrain, nyeri punggung atau sakit sehabis operasi caesar, tidak perlu diobati macam-macam. Cukup istirahat, banyak minum air putih dan minum obat pereda rasa sakit semacam panadine atau panadol. Antibiotik? No Way! Demikian juga ketika caca sakit, dokter di sana melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti. Setelah itu, lagi-lagi Cuma disuruh beli panadol kid. No other.
Cerita berubah saat mama caca pulang kampung. Caca pulang kampung ketika berusia dua bulan. Sebelum pulang, mama caca sempat konsultasi tentang plus-minus ngajak baby naik pesawat. Kata dokter, semuanya akan baik-baik saja asal baby dah berusia lebih dari enam minggu, trus jangan lupa dikasih asi ketika pesawat lounding dan take off. Satu lagi, jangan lupa ngecheck kesehatan baby, terutama alat indranya ke dokter begitu baby nyampe tanah air.
Dan begitulah, seminggu setelah menghirup udara tanah air, caca dibawa ke dokter guna ngecheck kesehatannya. Tapi sungguh mengherankan. Bukannya memeriksa tubuh dan indra si pasien, dokter malah langsung menuliskan resep buat caca. Sungguh, mama caca sempet shock. Iki maksude opo. Wong caca dibawa ke dokter bukan buat minta resep. Tapi si dokter tetep ngotot agar mama caca meminumkan obat itu buat caca. Akhirnya mama caca membawa caca pulang dengan resep di tangan. Resep yang nggak bakalan ditebus ke apotik!!
Nyatanya mencoba berhati-hati dalam penggunaan anti biotik emang bukan hal mudah. Ini tentu terkait dengan kebiasaan paramedis yang gemar memberikan obat-obatan dosis tinggi dan antibiotik kepada setiap pasiennya, tak terkecuali kepada pasien batita. Ketika hal ini dikeluhkan kepada seorang dokter kenalan mama caca. Dia bilang, di negara “hampir miskin” seperti Indonesia, penggunaan antibiotik pada setiap pasien emang sulit dihindari. Menurut sang dokter hal ini karena demi menghindari terjadinya bahaya sampingan mengingat banyaknya alat-alat kedokteran yang kadang tidak steril. Rumah sakit sendiri banyak yang justru menjadi sarang penyakit. Dan satu lagi, lingkungan sekitar kita yang sering tidak bersahabat sehingga penyakit apapun kian mudah berbiak.
Duh, kalo sudah begini, betapa mama caca merasa tak punya banyak pilihan. Begitu sakit, berarti caca mesti ngonsumsi antibiotik.
Ini juga yang diresahkan mama caca akhir-akhir ini. Ketika masih tinggal di negara aborigin, mama caca bisa sangat berhati-hati menggunakan obat. Sebab paramedis di sana sangat mendukung upaya penggunaan obat –terutama antibiotik- dengan hati-hati. Praktis selama satu tahun di sana, mama caca cuma pernah mengonsumsi symbicort dan panadol. Tanpa bermaksud promosi salah satu merk obat-obatan, tapi cara paramedis pengatasi atau menyembuhkan rasa sakit ternyata amat beda. Jika di indo, orang yang mengeluh sakit kepala pada dokter, pasti akan diberi resep dengan segepok obat. Bandingkan dengan mama caca ketika tinggal di aussie, saat terserang flu berat, sakit punggung atau migrain, hanya panadol dan istirahat cukup yang direkomendasikan oleh dokter. Bahkan, sehabis operasi caesar pun, mama caca hanya diberi panadol dan panadine sebagai pereda rasa sakit.
Menurut mereka, sakit semacam flu, pusing, migrain, nyeri punggung atau sakit sehabis operasi caesar, tidak perlu diobati macam-macam. Cukup istirahat, banyak minum air putih dan minum obat pereda rasa sakit semacam panadine atau panadol. Antibiotik? No Way! Demikian juga ketika caca sakit, dokter di sana melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti. Setelah itu, lagi-lagi Cuma disuruh beli panadol kid. No other.
Cerita berubah saat mama caca pulang kampung. Caca pulang kampung ketika berusia dua bulan. Sebelum pulang, mama caca sempat konsultasi tentang plus-minus ngajak baby naik pesawat. Kata dokter, semuanya akan baik-baik saja asal baby dah berusia lebih dari enam minggu, trus jangan lupa dikasih asi ketika pesawat lounding dan take off. Satu lagi, jangan lupa ngecheck kesehatan baby, terutama alat indranya ke dokter begitu baby nyampe tanah air.
Dan begitulah, seminggu setelah menghirup udara tanah air, caca dibawa ke dokter guna ngecheck kesehatannya. Tapi sungguh mengherankan. Bukannya memeriksa tubuh dan indra si pasien, dokter malah langsung menuliskan resep buat caca. Sungguh, mama caca sempet shock. Iki maksude opo. Wong caca dibawa ke dokter bukan buat minta resep. Tapi si dokter tetep ngotot agar mama caca meminumkan obat itu buat caca. Akhirnya mama caca membawa caca pulang dengan resep di tangan. Resep yang nggak bakalan ditebus ke apotik!!
Nyatanya mencoba berhati-hati dalam penggunaan anti biotik emang bukan hal mudah. Ini tentu terkait dengan kebiasaan paramedis yang gemar memberikan obat-obatan dosis tinggi dan antibiotik kepada setiap pasiennya, tak terkecuali kepada pasien batita. Ketika hal ini dikeluhkan kepada seorang dokter kenalan mama caca. Dia bilang, di negara “hampir miskin” seperti Indonesia, penggunaan antibiotik pada setiap pasien emang sulit dihindari. Menurut sang dokter hal ini karena demi menghindari terjadinya bahaya sampingan mengingat banyaknya alat-alat kedokteran yang kadang tidak steril. Rumah sakit sendiri banyak yang justru menjadi sarang penyakit. Dan satu lagi, lingkungan sekitar kita yang sering tidak bersahabat sehingga penyakit apapun kian mudah berbiak.
Duh, kalo sudah begini, betapa mama caca merasa tak punya banyak pilihan. Begitu sakit, berarti caca mesti ngonsumsi antibiotik.
Tuesday, May 8, 2007
IBU-IBU YANG LAGI RAPAT
Baru-baru ini mama caca diikutsertakan dalam kepanitiaan sebuah organisasi ibu-ibu. Disebut organisasi ibu-ibu karena memang semua anggotanya adalah mereka yang sudah layak disebut ibu. Ibu dalam artian secara umur maupun secara sosial. Rasanya deg-degan juga waktu akan pertama kali ikut rapat kerja. Maklum, mama caca dipercaya jadi sie acara sebuah kepanitiaan yang acaranya akan dihadiri oleh bapak bupati. Panitia yang tergabung pun adalah orang-orang terkenal di lingkungan mama caca. Padahal mama caca adalah orang baru di sini. Jadi wajar dong, kalo agak nervous. Bayangin yang hebat-hebat!!
Dan begitulah, raker pertama, kedua dan seterusnya telah terlaksana. Tapi herannya, bukan malah jelas kerjanya, mama caca malah semakin bingun. “apa nih yang mesti dikerjain biar acaranya sukses.” Jaman dulu, waktu masih jadi mahasiswi sih soal jadi panitia-panitia gitu udah biasa (hehe..). Tapi ternyata pengalaman jaman jadi mahasiswi dulu nggak ngaruh dengan kepanitiaan kali ini.
Akhirnya, daripada bingun-bingun, seusai rapat buat checking akhir, mama caca sengaja nelpon beberapa panitia lain. Tapi rupanya panitia-panitia lain tak ada yang bersedia diajak ngomong. “
“Pokoknya ama ketuanya langsung aja dek.” Begitu kata mereka.
Akhirnya terjadilah pertemuan itu. Mama caca, ketua panitia dan ketua umum organisasi ibu-ibu itu. Dimulai dengan bahasa konsultasi khas yunior kepada seniornya. Lalu mama caca minta pertimbangan tentang susunan acaranya. Tapi sangat mengherankan. Jawaban sang ketua umum itu sungguh-sungguh tak terduga:
“wis dek, gampang, masalah susunan acara nanti disesuaikan, liat kondisi. Pokoknya susunan acaranya nunggu acaranya besok aja.”
Lho kok??
“Trus tentang para pengisi acara, koordinasinya gimana, kapan mo gladi bersih?” Kali ini dengan sok pengalaman mama caca kembali bertanya.
“Itu juga dilihat besok pas acaranya dek, pokok’e lihat besok aja. Tinggal nyabut orang-orang yang datang pas acara.”
Hah!!
Katanya yang mo diundang orang-orang penting. Bupati, ibu ini, bapak itu. Tapi kok?? Mama caca bengong, akhirnya,
“Oh, gitu ya.. jadi semuanya dilihat dan ditentukan pas acara besok?” Dengan wajah bloon mama caca menimpali. Dan ketua panitia serta ketua umum organisasi itu mengangguk mantap.
Tapi sweer! Kali ini Mama caca baru tahu. Bahwa berorganisasi bareng ibu-ibu sungguh berbeda. Kalo dalam kepanitiaan mahasiswa, menjadi sie acara berarti memiliki peranan penting bagi sukses tidaknya sebuah acara, tapi bersama ibu-ibu bukan demikian aturannya. Dalam setiap acara tak ada yang lebih penting melebihi persoalan konsumsi. Jika sudah sampai pada bidang yang satu itu, rapat akan sangat hidup. Semua anggota rapat rela berjibaku. Bahkan kadang ampe acara ngambek-ngambekan. Tapi begitu sampai pada bidang yang lain. Jawabannya akan sama. “pokoknya penentuannya di acara besok ya dek..”
Dan begitulah, acara berlangsung menurut kondisinya. Jika pas acara berlangsung tiba-tiba senior-senior atau orang-orang yang dianggap terhormat dalam organisasi itu meminta perubahan susunan acara, maka seketika akan berubahlah susunan acaranya. Begitu seterusnya hingga acara berakhir. Dan acara yang lain lagi di buat.
Weleh..weleh.. organisasi opo tho iki sakjane??
Dan begitulah, raker pertama, kedua dan seterusnya telah terlaksana. Tapi herannya, bukan malah jelas kerjanya, mama caca malah semakin bingun. “apa nih yang mesti dikerjain biar acaranya sukses.” Jaman dulu, waktu masih jadi mahasiswi sih soal jadi panitia-panitia gitu udah biasa (hehe..). Tapi ternyata pengalaman jaman jadi mahasiswi dulu nggak ngaruh dengan kepanitiaan kali ini.
Akhirnya, daripada bingun-bingun, seusai rapat buat checking akhir, mama caca sengaja nelpon beberapa panitia lain. Tapi rupanya panitia-panitia lain tak ada yang bersedia diajak ngomong. “
“Pokoknya ama ketuanya langsung aja dek.” Begitu kata mereka.
Akhirnya terjadilah pertemuan itu. Mama caca, ketua panitia dan ketua umum organisasi ibu-ibu itu. Dimulai dengan bahasa konsultasi khas yunior kepada seniornya. Lalu mama caca minta pertimbangan tentang susunan acaranya. Tapi sangat mengherankan. Jawaban sang ketua umum itu sungguh-sungguh tak terduga:
“wis dek, gampang, masalah susunan acara nanti disesuaikan, liat kondisi. Pokoknya susunan acaranya nunggu acaranya besok aja.”
Lho kok??
“Trus tentang para pengisi acara, koordinasinya gimana, kapan mo gladi bersih?” Kali ini dengan sok pengalaman mama caca kembali bertanya.
“Itu juga dilihat besok pas acaranya dek, pokok’e lihat besok aja. Tinggal nyabut orang-orang yang datang pas acara.”
Hah!!
Katanya yang mo diundang orang-orang penting. Bupati, ibu ini, bapak itu. Tapi kok?? Mama caca bengong, akhirnya,
“Oh, gitu ya.. jadi semuanya dilihat dan ditentukan pas acara besok?” Dengan wajah bloon mama caca menimpali. Dan ketua panitia serta ketua umum organisasi itu mengangguk mantap.
Tapi sweer! Kali ini Mama caca baru tahu. Bahwa berorganisasi bareng ibu-ibu sungguh berbeda. Kalo dalam kepanitiaan mahasiswa, menjadi sie acara berarti memiliki peranan penting bagi sukses tidaknya sebuah acara, tapi bersama ibu-ibu bukan demikian aturannya. Dalam setiap acara tak ada yang lebih penting melebihi persoalan konsumsi. Jika sudah sampai pada bidang yang satu itu, rapat akan sangat hidup. Semua anggota rapat rela berjibaku. Bahkan kadang ampe acara ngambek-ngambekan. Tapi begitu sampai pada bidang yang lain. Jawabannya akan sama. “pokoknya penentuannya di acara besok ya dek..”
Dan begitulah, acara berlangsung menurut kondisinya. Jika pas acara berlangsung tiba-tiba senior-senior atau orang-orang yang dianggap terhormat dalam organisasi itu meminta perubahan susunan acara, maka seketika akan berubahlah susunan acaranya. Begitu seterusnya hingga acara berakhir. Dan acara yang lain lagi di buat.
Weleh..weleh.. organisasi opo tho iki sakjane??
Subscribe to:
Posts (Atom)