Wednesday, June 4, 2008

MBAK CACA, BUKAN DEK CACA.....

Kalau masih kuecil ya.. dipanggilnya dek Caca. Kalo sudah besar ya.. mbak Caca..” Demikian caca selalu memberi alasan tentang perubahan panggilan di depan namanya. Caca emang merasa sudah gede sekarang. Banyak hal yang udah mulai bisa dilakukannya sendiri, meski masih terbatas kemampuan layaknya bocah umur tiga tahun lebih.

Lucu juga memperhatikan tingkah bocah kecil yang sudah merasa besar itu. Bahkan terkadang caca suka bergaya di depan kaca sambil bernyanyi: “kutelah dewasa.. ou..ou.. (yang ini niruin iklan produk pemutih di televisi). Kik.. kik.. langsung aja abah dan mama caca ketawa. Bocah belum genap empat tahun kok ngaku sudah dewasa.

Karena merasa sudah besar itulah, caca paling sebel kalo ada orang yang memanggilnya dek caca. Suatu kali caca lagi bad mood. Minta ini, minta itu. Lalu nangis kenceng banget. Saat itu ada tetangga lewat dan menyapa caca. “dek caca... dek caca..” Tangis caca tambah kenceng disapa kayak gitu. “Udah bad mood, dipanggil dek caca lagi,” begitu mungkin pikirnya. Akhirnya mama caca berbisik ditelinga caca. “Makanya jangan suka rewel. Jadi dipanggil dek caca tuh. Soalnya, kalo anak masih suka nangisan, pasti dikiranya masih kecil..” Mendengar bisikan itu, caca langsung terdiam. Tangisnya berubah jadi isakan. Mama caca langsung memeluknya dan mengajak caca bercanda. Wow, dapet senjata baru nih buat ngadepin si sulung kalo lagi rewel. Tapi ampe kapan ya.. senjata mama caca cukup ampuh. Setiap hari memang harus ada trik baru buat menghadapi si sulung yang mengaku sudah “dewasa itu”. Hehe...

Monday, May 19, 2008

CACA ‘N KIKA

Caca punya adek baru. Namanya Kika. Dan sebagaimana caca yang memiliki full name Izzatin Rofiqoh. Kika juga punya full name yang agak gak nyambung dengan call name-nya. Nama lengkap Kika adalah Aini Zakiyya.

Meski antara full name dan call name-nya agak jauh nyambungnya. Namun kedua nama panggilan itu memiliki sejarah yang berbeda. Tentang Izzatin Rafiqoh yang dipanggil Caca, mama caca udah pernah menulisnyas diblog ini. Tapi mengenai panggilan Kika untuk Aini Zakiyya, memang tak ada cerita khusus. Aini Zakiyya dipanggil Kika agar lebih mudah diingat, unik dan terdengar lebih puitis jika disebut bersamaan dengan nama sang kakak. Caca dan Kika. Tentu lebih terdengar puitis dibandingkan Caca dan Aini misalnya.

Selebihnya, baby yang lahir melalui operasi Caesar (sebagaimana kakaknya) pada 14 Februari 2008 ini adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta bagi kedua orang tuanya. Dan semoga ia terlahir sebagai manusia yang beruntung. Menjadi anak yang baik, berguna bagi masyarakatnya, serta selalu dalam ridlo Tuhannya. Amin.

Tuesday, November 13, 2007

SELAMAT JALAN CALON JAMAAH HAJI INDONESIA

Musim Haji datang lagi. Sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kami mengunjungi keluaga yang hendak menunaikan ibadah haji. Di akhir bulan syawal ini mama caca juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa sodara yang hendak berangkat haji. Dengan tujuan mempererat silaturrahim, mendoakan kelancaran ibadah hajinya serta minta ikut didoakan di tempat-tempat mustajab jika sudah sampai di tanah suci nanti.

Dulu mama caca gak begitu peduli dengan tradisi yang satu ini. Bagi mama caca, mengunjungi sodara yang hendak pergi ke tanah suci bukan sesuatu yang mesti mendapat perhatian khusus. Tapi belakangan mama caca berubah pikiran. Setelah mama caca merasakan sendiri besarnya perhatian para sodara dan tetangga ketika mama caca hendak berangkat haji. Ternyata tradisi mengunjungi para calon jama’ah haji memang bukan sekedar gaya-gayaan. Namun ada kearifan lokal di sana. Bagaimana masing-masing pihak –calon jama’ah dan para tamunya- saling memberikan motivasi dan sharing pengalaman. Dan bagi mama caca motivasi dan bagi-bagi pengalaman yang dilakukan cukup memberikan kekuatan positif bagi jama’ah yang hendak berangkat.

Haji memang bukan ibadah yang ringan. Tidak sebagaimana syahadat, sholat, puasa ato zakat. Dalam haji Alloh menggarisbawahi “Bagi yang mampu”. Baik mampu secara fisik, finansial maupun dari segi keamanan. Nyatanya memang dibutuhkan tekad yang kuat bagi yang hendak melakoninya. Disamping dibutuhkan biaya yang tak sedikit, -dari mulai biaya resmi ataupun yang gak resmi- juga amat penting memelihara kesehatan fisik, kesabaran, rasa rendah hati dan tawakkal.

Ada banyak cerita seputar perjalanan ibadah haji. Dulu mama caca pun pernah menuliskannya. Tentang calo Hajar Aswad ataupun tentang julukan Siti Rahmah bagi perempuan Indonesia. Namun ada catatan lain yang ingin mama caca ceritakan kali ini.

Ketika hendak berangkat haji, terus terang, ada rasa bimbang di benak mama caca. Sudah layakkah menjadi tamu Alloh saat ini. Saat itu rasa malu kerapkali memenuhi hati. Benarkah Alloh menghendaki hambanya yang penuh dosa ini menjadi tamu-Nya?? Tapi lagi-lagi mama caca mencoba mengatasi keresahan itu dengan membaca lagi firman-Nya, bahwa Alloh mencintai makhluknya yang berprasangka baik terhadap qodlo’ dan qodar-Nya. Dan kepasrahan itu datang dengan perlahan.

Alloh Maha Besar. Selama di tanah suci, justru banya kemudahan yang mama caca rasakan. Disaat para jama’ah lain sibuk mengatur uang saku untuk keperluan makan selama di Makkah, mama caca dan rombongan justru bertempat di maktab yang dimiliki oleh seorang syeikh yang memberikan shodaqoh berupa makan gratis sehari tiga kali bagi setiap jama’ah haji yang tinggal di hotelnya. Alhamdulillah, Siapa yang bisa menyangka akan mendapatkan rezeki sebesar itu. Bisa menghabiskan waktu di kota tempat ka’bah didirikan tanpa perlu memikirkan kebutuhan belanja dan masak untuk makan dan minum sehari-hari.

Belum lagi ketika musim kelaparan di Arofah dan Mina –yang konon menjadi berita besar di koran-koran Indonesia- Saat itu mama caca justru merasa cukup. Sebab ketika jama’ah hendak berangkat ke mina, mama caca berangkat dengan membawa makanan cukup. Seperti roti, susu, mie instan, madu dan pisang. Padahal saat itu sudah diperingatkan oleh petugas untuk tidak membawa bekal makanan, hingga banyak dari jama’ah haji yang tak membawa bekal makanan apapun sesampainya di Arafah. Tapi mama dan abah caca tetap memilih mengikuti kata hati. “Siapa tahu makanan yang disediakan pihak catering tak cocok dilidah.” Begitu pikir mama caca. Tapi semuanya adalah rizki. Tak perlu sombong atau tinggi hati. Justru saat seperti itu adalah waktu yang tepat untuk intropeksi. Betapa Allah telah amat sayang kepada kita. Sudahkah amal perbuatan kita layak mendapatkan penghormatan serupa. Astaghfirullohal‘adzim...

Dan begitulah, mungkin benar kata ulama, bahwa padang Arofah adalah cermin kecil padang maghsyar. Saat itu, orang seperti tidak bisa menipu diri atas kebiasaannya sehari-hari. Ketika segala hal menjadi terbatas, orang yang terbiasa berdzikir akan tetap berucap kalimat-kalimat thoyyibah. Tapi bagi yang terbiasa mengumpat, mengejek dan menyakiti orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Padahal Cuma dalam hitungan jam kita diuji. Entahlah, bagimana laku kita di padang maghsyar nanati. Wallahu a’lam...

Saturday, November 10, 2007

BERBINCANG TENTANG SIRIKIT SYAH

Sirikit Syah, sebuah nama yang tak asing bagi penikmat karya sastra. Mungkin baru dua buah buku kumpulan cerpennya yang terbit. Tapi siapa yang bisa menolak pesona cerita-cerita yang disuguhkannya?

Mama caca mengenal karya sastrawan perempuan ini kurang lebih delapan tahun yang lalu. Ketika itu mama caca masih berstatus mahasiswi baru. Mama caca memang bisa dibilang pecinta karya sastra. Setiap buku baru tak kan rela mama caca lewatkan tanpa membacanya. Segala cara akan mama caca tempuh agar buku-buku itu bisa terbaca. Entah dengan membeli atau pinjam pada teman. Pokoknya kudu bisa ikut baca.

Hingga sehari sebelum caca lahir, boleh dibilang semangat membaca mama caca belum mati. Bahkan, ketika hamil pertama dulu, mama caca hampir menghabiskan separo hari di perpustakaan Monash University. Ketika abah caca sibuk dengan tugas-tugasnya, mama caca juga sibuk menikmati buku-buku gratis yang tak mungkin bisa dilahap seleluasa itu jika sudah balek ke negeri sendiri. Meski setelah caca lahir, daya konsentrasi dan hobi membaca sudah tak lagi sekuat dulu.

Kegemaran melahap karya sastra memang masih berlanjut hingga kini. Kemarin, ketika jalan-jalan ke Gramedia, mata mama caca kembali tertumbuk pada nama Sirikit Sah. Mungkin memang bukan buku baru. Tapi bukankah yang disebut baru bisa juga berarti sesuatu yang “Baru” ditemukan. Dan kali ini mama caca memang merasa baru menemukan karya baru itu. Judulnya Sensasi Selebriti. Ini adalah kumpulan cerpen Sirikit yang kedua. Maklum, diantara hobi menulisnya, perempuan yang berdomisili di kota pahlawan itu juga berprofesi sebagai pendidik, jurnalis dan peneliti. Tapi sungguh, meski baru dua kali menerbitkan kumpulan cerpennya, karya Sirikit tak bisa dibilang cela. Selalu ada kesan tersendiri setiap kali membaca kisah-kisahnya.

Harga Perempuan adalah judul pertama kumpulan cerpen milik Sirikit Syah. Pengarang perempuan yang –konon- namanya terilhami oleh kedatangan Ratu Sirikit ke Surabaya saat pengarang itu lahir. Dari sekian cerpen yang tertulis dalam Harga Perempuan, ada dua judul cerpen yang –terus terang- masih terus terngiang di benak mama caca. Pertama adalah cerpen yang berjudul Wanita Kedua. Cerpen ini bercerita tentang seorang perempuan yang berposisi sebagai istri kedua. Pilihan yang dilakoni sama sekali bukan lantaran kegenitan atau kesilauannya untuk hidup enak. Tapi semata karena keadaan yang memaksanya memilih posisi itu. Dalam Wanita Kedua, Sirikit memang terbilang lihai membuat suspen. Pembaca terkejut saat diakhir cerita, putri sang tokoh pun memilih melakoni hidup yang tak jauh beda dengannya. Mencintai laki-laki yang tak mampu meninggalkan istri dan keluarganya.

Sedangkan yang kedua adalah cerpen berjudul Perempuan Suamiku. Dalam cerpen ini Sirikit berkisah tentang seorang perempuan cantik, menarik, cerdas, kaya, sukses dan modis tentu saja. Perempuan sempuarna ala sinetron kita. Namun dia seolah ditampar kotoran ketika mendapati bahwa dia harus berbagi suami dengan seorang seniman perempuan yang sama sekali tak lebih muda, tak lebih cantik bahkan tak lebih rapi dan wangi dibanding dirinya.

Cara Sirikit berkisah memang tak biasa. Selalu ada keputusan yang mengambang di akhir cerita. Seolah pembaca dibiarkan melanjutkan imajinasinya. Tanpa mencampuri keputusan apa yang mesti diambil oleh pembaca jika mereka mengalami kejadian yang sama dengan tokoh yang dituliskannya. Dan dua cerpen itu ternyata juga bisa kembali mama caca dapati di kumpulan cerpennya yang kedua.

Ada kisah tersendiri yang mama caca alami berkaitan dengan cerpen Perempuan Suamiku itu. Ketika itu mama caca masih jadi mahasiswi yang mondok di Krapyak. Teman-teman satu kamar semua baca Harga Perempuan dengan bergantian. Lumayan kan, yang beli satu orang, tapi semua penghuni kamar yang berjumlah enam orang bisa ikut menikmatinya. Suatu hari kita berenam mengikuti sebuah acara budaya yang digelar oleh seniman-seniman Jogja di Parang Kusumo. Acara di buka dengan orasi budaya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ketika itu, tiba-tiba mata mama caca tertumbuk pada sesosok perempuan yang sedang duduk bergerombol dengan para seniman lain. Penampilannya cuek, seadanya. Wajahnya agak pucat tanpa make up. Dia duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Perempuan itu terlihat cuek dengan kondisi di sekelilingnya. Matanya menerawang melihat angkasa sambil menghisap perlahan rokok yang terselip di bibirnya. Ketika itu, mama caca langsung berbisik pada teman-teman serombongan, “Mungkin, perempuan seperti itu yang ditemui Sirikit ketika menuliskan cerpen Perempuan Suamiku.” Ujar mama caca yang segera diamini oleh yang lain. Ya... Mungkin saja. Siapa tahu...

Thursday, October 11, 2007

Thursday, October 4, 2007

GARA-GARA KUCING GARONG


“Kucing Garong”, tentu sudah tak asing lagi, ini sebuah judul lagu dangdut yang cukup populer saat ini. Diadaptasi dari lagu berbahasa daerah pesisiran. Beberapa waktu lalu mama caca membaca sebuah artikel di majalah Femina. Dalam artikel itu penulis bercerita tentang pengalamannya ketika suatu ketika terlibat dalam sebuah kegiatan amal di Jakarta. Penulis yang hari-harinya lebih banyak dihabiskan di negara kanguru itu tergerak untuk berpartisipasi dalam kegiatan amal untuk menghibur anak-anak korban banjir. Dan begitulah, demi menghibur anak-anak itu, dibuatlah sebuah panggung kecil dengan seorang biduan yang mengajak bocah-bocah kecil itu bernyanyi bersama.

Lagu pertama adalah Bintang Kecil. Lagu legendaris yang dipikir akan sangat akrab bagi telinga audiens kecilnya. Tapi wow, ternyata tak seorangpun yang menyahuti nyanyian si biduan. Lagu kedua pelangi-pelangi, lagi-lagi tak ada seorangpun yang terlihat antusias mengikuti tepuk tangan si penyanyi. Akhirnya, setelah dua lagu usai tanpa reaksi yang menggembirakan dari penonton. Tak kehabisan akal, sang biduan mengajak bocah-bocah kecil itu bernyanyi Kucing Garong. Wah, siapa sangka, panggung kecil itu langsung riuh dengan sahutan suara bocah-bocah kecil yang ikut bernyanyi sembari bergoyang. “Kelakuan si Kucing Garong.....” Tentu saja kejadian itu membikin penulis mengurut dada. Ikut prihatin dengan “selera” baru anak-anak kita.

Membaca artikel tersebut, mama caca hanya tersenyum dan membicangkannya dengan santai bersama abah caca tentang fenomena si Kucing Garong itu. Tapi tak lebih satu minggu setelah membaca artikel itu, mama dan abah caca dikejutkan dengan ulah caca. Sore itu televisi sedang menyala. Mama dan abah caca lagi ngobrol santai. Tiba-tiba sebuah lagu muncul di televisi, “Kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan dirinya..” Dan dengan fasih caca menirukannya hingga akhir lagu. Abah caca geleng-geleng kepala.

Belakangan orang serumah baru tahu, ternyata bukan itu saja lagu orang dewasa yang dihafal caca. Bahkan lagu Kucing Garong yang mama caca sebelin itu. Duh, kalo sudah begini.. apa benar, memang selera bocah kecil sekarang sudah berbeda. Meski mama caca masih cukup lega, bahwa bukan hanya lagu-lagu dewasa itu yang dihafal caca, tapi juga doa-doa, salawat, fatihah dan lagu-lagu anak yang ceria itu...

Wednesday, October 3, 2007

DAPAT PE-ER NIH...

Nih Pe-eR pertama yang mama dapet selama menyandang status blogger mania. Asyik juga sih ngerjain Pe-eR tentang habits kita. Oke mama, Pe-eRnya dah diseleseiin nih. Jangan lupa bonusnya ya.. plus THRnya. Kan mo lebaran.

Aturan mainnya:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with eight random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their eight things and post these rules, at the end of your blog, you need to choose eight people to get tagged and list their names
4. Don't forget to leave them a comment telling them they've been tagged and to read your blog

1. Pindang ‘n Sambal Balacan
Wow, ini sepasang makanan favorit mama caca yang nggak bisa ditawar lagi. Pindang adalah sejenis ikan laut yang nggak terlalu besar. Rasanya khas banget dan –menurut mama caca- cita rasanya tak tergantikan oleh ikan laut jenis apapun. Asyiknya, pindang disantap bareng nasi hangat, sambal balacan (sambal terasi) dan lalapan. Duh, kalo sudah ketemu menu yang satu itu, dijamin, pasti mama caca bakalan nambah ampe 2 piring. Ampun deh kata abah caca. Makanan favorit kok ndeso banget.

2. Rambut Panjang = No
Rambut mama caca emang ikal dan sulit banget ditata. Dirapiin seperti apapun, jatuhnya pasti awut-wutan lagi. Dulu waktu masih sekolah, temen-temen pada komentar “wah, kalo ada yang naksir kamu, pasti dibatalin begitu liat model rambut kamu.” Makanya, mama caca gak pernah berpikir buat manjangin rambut.

3. Pilek Kok Tiap Hari!!
Bisa dibilang, setiap hari mama caca pasti pilek. Temen-temen juga pada komentar, setiap ketemu kamu kok pilek sih. Emang iya. Untuk kebiasaan yang satu ini berkaitan dengan alergi yang diidap mama caca. Maklum mama caca punya penyakit asma. Dan paling anti ama yang namanya dingin. Tapi jangan kuatir, pilek mama caca ini gak sama dengan pileknya orang yang lagi influensa yang menular. Soalnya, pileknya muncul berkaitan dengan alergi.

4. Obat ‘n Tissu
Saking seringnya terserang pilek, mama caca wajib membawa tissu dan obat kemana-mana. Soalnya, asma ato pileknya mama caca suka datang dengan tiba-tiba tanpa diminta.

5. Alergi Udang
Jangan suguhi mama caca udang. Sebenarnya suka sih maem udang. Tapi sayang, mama caca alergi berat. Pernah suatu ketika mama caca masak udang buat abah caca. Karena tergiur, mama caca mencicipi kuahnya. Gak tahunya, seperempat jam kemudian seluruh badan mama caca membengkak dan dada terasa sesak. Akhirnya mesti buru-buru minta obat anti alergi deh.

6. Gak Bisa Basa-basi
Basa-basi adalah sesuatu yang paling nggak disukai mama caca. Daripada sok senyum-senyum ato pura-pura asyik ngobrolin sesuatu yang nggak menarik, mama caca mending diem. Mungkin kalo yang belum kenal pada “nuduh” mama caca sombong. Tapi sungguh, mama caca tersiksa banget kalo suruh berbasa-basi ato ngadepin orang yang suka basa-basi. Enggak banget lah pokoknya.

7. Sulit Ngapalin Nama
Ini masalah tersendiri buat mama caca. Apalagi di kampung ini, mama caca terbilang sebagai orang baru. Jadi otomatis banyak orang baru yang mama caca temui. Seringnya habis kenalan trus lupa lagi namanya. Ujung-ujungnya pas ketemu lagi dan mama caca gak nyapa duluan, dibilang sombong lagi deh. Kasian banget mama caca.

8. Suka Musik
Makanya mama caca suka liat MTV. Pernah sih abah caca ngolok-olok, “Ibu-ibu kok liatnya MTV.” Ya nggak pa-pa tho, daripada liat senetron yang orangnya suka mendelik terus... kan mendingan liat acara musik di MTV. Hehe...

Sekarang giliran mama caca yang nglemparin Pe-eR buat blogger yang lain. Berikut nama-nama yang ketiban tugas. Hehe...
1. Yunest
2. Lely di Cairo
3. Annisa di negeri Sakura
4. Dodo di Jogja
5. Rif’an di Mesir
6. Bunda gege di Malaysia
7. Bunda Ryuta di Jepang
8. Triple’s mom