Tuesday, November 13, 2007

SELAMAT JALAN CALON JAMAAH HAJI INDONESIA

Musim Haji datang lagi. Sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kami mengunjungi keluaga yang hendak menunaikan ibadah haji. Di akhir bulan syawal ini mama caca juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa sodara yang hendak berangkat haji. Dengan tujuan mempererat silaturrahim, mendoakan kelancaran ibadah hajinya serta minta ikut didoakan di tempat-tempat mustajab jika sudah sampai di tanah suci nanti.

Dulu mama caca gak begitu peduli dengan tradisi yang satu ini. Bagi mama caca, mengunjungi sodara yang hendak pergi ke tanah suci bukan sesuatu yang mesti mendapat perhatian khusus. Tapi belakangan mama caca berubah pikiran. Setelah mama caca merasakan sendiri besarnya perhatian para sodara dan tetangga ketika mama caca hendak berangkat haji. Ternyata tradisi mengunjungi para calon jama’ah haji memang bukan sekedar gaya-gayaan. Namun ada kearifan lokal di sana. Bagaimana masing-masing pihak –calon jama’ah dan para tamunya- saling memberikan motivasi dan sharing pengalaman. Dan bagi mama caca motivasi dan bagi-bagi pengalaman yang dilakukan cukup memberikan kekuatan positif bagi jama’ah yang hendak berangkat.

Haji memang bukan ibadah yang ringan. Tidak sebagaimana syahadat, sholat, puasa ato zakat. Dalam haji Alloh menggarisbawahi “Bagi yang mampu”. Baik mampu secara fisik, finansial maupun dari segi keamanan. Nyatanya memang dibutuhkan tekad yang kuat bagi yang hendak melakoninya. Disamping dibutuhkan biaya yang tak sedikit, -dari mulai biaya resmi ataupun yang gak resmi- juga amat penting memelihara kesehatan fisik, kesabaran, rasa rendah hati dan tawakkal.

Ada banyak cerita seputar perjalanan ibadah haji. Dulu mama caca pun pernah menuliskannya. Tentang calo Hajar Aswad ataupun tentang julukan Siti Rahmah bagi perempuan Indonesia. Namun ada catatan lain yang ingin mama caca ceritakan kali ini.

Ketika hendak berangkat haji, terus terang, ada rasa bimbang di benak mama caca. Sudah layakkah menjadi tamu Alloh saat ini. Saat itu rasa malu kerapkali memenuhi hati. Benarkah Alloh menghendaki hambanya yang penuh dosa ini menjadi tamu-Nya?? Tapi lagi-lagi mama caca mencoba mengatasi keresahan itu dengan membaca lagi firman-Nya, bahwa Alloh mencintai makhluknya yang berprasangka baik terhadap qodlo’ dan qodar-Nya. Dan kepasrahan itu datang dengan perlahan.

Alloh Maha Besar. Selama di tanah suci, justru banya kemudahan yang mama caca rasakan. Disaat para jama’ah lain sibuk mengatur uang saku untuk keperluan makan selama di Makkah, mama caca dan rombongan justru bertempat di maktab yang dimiliki oleh seorang syeikh yang memberikan shodaqoh berupa makan gratis sehari tiga kali bagi setiap jama’ah haji yang tinggal di hotelnya. Alhamdulillah, Siapa yang bisa menyangka akan mendapatkan rezeki sebesar itu. Bisa menghabiskan waktu di kota tempat ka’bah didirikan tanpa perlu memikirkan kebutuhan belanja dan masak untuk makan dan minum sehari-hari.

Belum lagi ketika musim kelaparan di Arofah dan Mina –yang konon menjadi berita besar di koran-koran Indonesia- Saat itu mama caca justru merasa cukup. Sebab ketika jama’ah hendak berangkat ke mina, mama caca berangkat dengan membawa makanan cukup. Seperti roti, susu, mie instan, madu dan pisang. Padahal saat itu sudah diperingatkan oleh petugas untuk tidak membawa bekal makanan, hingga banyak dari jama’ah haji yang tak membawa bekal makanan apapun sesampainya di Arafah. Tapi mama dan abah caca tetap memilih mengikuti kata hati. “Siapa tahu makanan yang disediakan pihak catering tak cocok dilidah.” Begitu pikir mama caca. Tapi semuanya adalah rizki. Tak perlu sombong atau tinggi hati. Justru saat seperti itu adalah waktu yang tepat untuk intropeksi. Betapa Allah telah amat sayang kepada kita. Sudahkah amal perbuatan kita layak mendapatkan penghormatan serupa. Astaghfirullohal‘adzim...

Dan begitulah, mungkin benar kata ulama, bahwa padang Arofah adalah cermin kecil padang maghsyar. Saat itu, orang seperti tidak bisa menipu diri atas kebiasaannya sehari-hari. Ketika segala hal menjadi terbatas, orang yang terbiasa berdzikir akan tetap berucap kalimat-kalimat thoyyibah. Tapi bagi yang terbiasa mengumpat, mengejek dan menyakiti orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Padahal Cuma dalam hitungan jam kita diuji. Entahlah, bagimana laku kita di padang maghsyar nanati. Wallahu a’lam...

Saturday, November 10, 2007

BERBINCANG TENTANG SIRIKIT SYAH

Sirikit Syah, sebuah nama yang tak asing bagi penikmat karya sastra. Mungkin baru dua buah buku kumpulan cerpennya yang terbit. Tapi siapa yang bisa menolak pesona cerita-cerita yang disuguhkannya?

Mama caca mengenal karya sastrawan perempuan ini kurang lebih delapan tahun yang lalu. Ketika itu mama caca masih berstatus mahasiswi baru. Mama caca memang bisa dibilang pecinta karya sastra. Setiap buku baru tak kan rela mama caca lewatkan tanpa membacanya. Segala cara akan mama caca tempuh agar buku-buku itu bisa terbaca. Entah dengan membeli atau pinjam pada teman. Pokoknya kudu bisa ikut baca.

Hingga sehari sebelum caca lahir, boleh dibilang semangat membaca mama caca belum mati. Bahkan, ketika hamil pertama dulu, mama caca hampir menghabiskan separo hari di perpustakaan Monash University. Ketika abah caca sibuk dengan tugas-tugasnya, mama caca juga sibuk menikmati buku-buku gratis yang tak mungkin bisa dilahap seleluasa itu jika sudah balek ke negeri sendiri. Meski setelah caca lahir, daya konsentrasi dan hobi membaca sudah tak lagi sekuat dulu.

Kegemaran melahap karya sastra memang masih berlanjut hingga kini. Kemarin, ketika jalan-jalan ke Gramedia, mata mama caca kembali tertumbuk pada nama Sirikit Sah. Mungkin memang bukan buku baru. Tapi bukankah yang disebut baru bisa juga berarti sesuatu yang “Baru” ditemukan. Dan kali ini mama caca memang merasa baru menemukan karya baru itu. Judulnya Sensasi Selebriti. Ini adalah kumpulan cerpen Sirikit yang kedua. Maklum, diantara hobi menulisnya, perempuan yang berdomisili di kota pahlawan itu juga berprofesi sebagai pendidik, jurnalis dan peneliti. Tapi sungguh, meski baru dua kali menerbitkan kumpulan cerpennya, karya Sirikit tak bisa dibilang cela. Selalu ada kesan tersendiri setiap kali membaca kisah-kisahnya.

Harga Perempuan adalah judul pertama kumpulan cerpen milik Sirikit Syah. Pengarang perempuan yang –konon- namanya terilhami oleh kedatangan Ratu Sirikit ke Surabaya saat pengarang itu lahir. Dari sekian cerpen yang tertulis dalam Harga Perempuan, ada dua judul cerpen yang –terus terang- masih terus terngiang di benak mama caca. Pertama adalah cerpen yang berjudul Wanita Kedua. Cerpen ini bercerita tentang seorang perempuan yang berposisi sebagai istri kedua. Pilihan yang dilakoni sama sekali bukan lantaran kegenitan atau kesilauannya untuk hidup enak. Tapi semata karena keadaan yang memaksanya memilih posisi itu. Dalam Wanita Kedua, Sirikit memang terbilang lihai membuat suspen. Pembaca terkejut saat diakhir cerita, putri sang tokoh pun memilih melakoni hidup yang tak jauh beda dengannya. Mencintai laki-laki yang tak mampu meninggalkan istri dan keluarganya.

Sedangkan yang kedua adalah cerpen berjudul Perempuan Suamiku. Dalam cerpen ini Sirikit berkisah tentang seorang perempuan cantik, menarik, cerdas, kaya, sukses dan modis tentu saja. Perempuan sempuarna ala sinetron kita. Namun dia seolah ditampar kotoran ketika mendapati bahwa dia harus berbagi suami dengan seorang seniman perempuan yang sama sekali tak lebih muda, tak lebih cantik bahkan tak lebih rapi dan wangi dibanding dirinya.

Cara Sirikit berkisah memang tak biasa. Selalu ada keputusan yang mengambang di akhir cerita. Seolah pembaca dibiarkan melanjutkan imajinasinya. Tanpa mencampuri keputusan apa yang mesti diambil oleh pembaca jika mereka mengalami kejadian yang sama dengan tokoh yang dituliskannya. Dan dua cerpen itu ternyata juga bisa kembali mama caca dapati di kumpulan cerpennya yang kedua.

Ada kisah tersendiri yang mama caca alami berkaitan dengan cerpen Perempuan Suamiku itu. Ketika itu mama caca masih jadi mahasiswi yang mondok di Krapyak. Teman-teman satu kamar semua baca Harga Perempuan dengan bergantian. Lumayan kan, yang beli satu orang, tapi semua penghuni kamar yang berjumlah enam orang bisa ikut menikmatinya. Suatu hari kita berenam mengikuti sebuah acara budaya yang digelar oleh seniman-seniman Jogja di Parang Kusumo. Acara di buka dengan orasi budaya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ketika itu, tiba-tiba mata mama caca tertumbuk pada sesosok perempuan yang sedang duduk bergerombol dengan para seniman lain. Penampilannya cuek, seadanya. Wajahnya agak pucat tanpa make up. Dia duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Perempuan itu terlihat cuek dengan kondisi di sekelilingnya. Matanya menerawang melihat angkasa sambil menghisap perlahan rokok yang terselip di bibirnya. Ketika itu, mama caca langsung berbisik pada teman-teman serombongan, “Mungkin, perempuan seperti itu yang ditemui Sirikit ketika menuliskan cerpen Perempuan Suamiku.” Ujar mama caca yang segera diamini oleh yang lain. Ya... Mungkin saja. Siapa tahu...

Thursday, October 11, 2007

Thursday, October 4, 2007

GARA-GARA KUCING GARONG


“Kucing Garong”, tentu sudah tak asing lagi, ini sebuah judul lagu dangdut yang cukup populer saat ini. Diadaptasi dari lagu berbahasa daerah pesisiran. Beberapa waktu lalu mama caca membaca sebuah artikel di majalah Femina. Dalam artikel itu penulis bercerita tentang pengalamannya ketika suatu ketika terlibat dalam sebuah kegiatan amal di Jakarta. Penulis yang hari-harinya lebih banyak dihabiskan di negara kanguru itu tergerak untuk berpartisipasi dalam kegiatan amal untuk menghibur anak-anak korban banjir. Dan begitulah, demi menghibur anak-anak itu, dibuatlah sebuah panggung kecil dengan seorang biduan yang mengajak bocah-bocah kecil itu bernyanyi bersama.

Lagu pertama adalah Bintang Kecil. Lagu legendaris yang dipikir akan sangat akrab bagi telinga audiens kecilnya. Tapi wow, ternyata tak seorangpun yang menyahuti nyanyian si biduan. Lagu kedua pelangi-pelangi, lagi-lagi tak ada seorangpun yang terlihat antusias mengikuti tepuk tangan si penyanyi. Akhirnya, setelah dua lagu usai tanpa reaksi yang menggembirakan dari penonton. Tak kehabisan akal, sang biduan mengajak bocah-bocah kecil itu bernyanyi Kucing Garong. Wah, siapa sangka, panggung kecil itu langsung riuh dengan sahutan suara bocah-bocah kecil yang ikut bernyanyi sembari bergoyang. “Kelakuan si Kucing Garong.....” Tentu saja kejadian itu membikin penulis mengurut dada. Ikut prihatin dengan “selera” baru anak-anak kita.

Membaca artikel tersebut, mama caca hanya tersenyum dan membicangkannya dengan santai bersama abah caca tentang fenomena si Kucing Garong itu. Tapi tak lebih satu minggu setelah membaca artikel itu, mama dan abah caca dikejutkan dengan ulah caca. Sore itu televisi sedang menyala. Mama dan abah caca lagi ngobrol santai. Tiba-tiba sebuah lagu muncul di televisi, “Kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan dirinya..” Dan dengan fasih caca menirukannya hingga akhir lagu. Abah caca geleng-geleng kepala.

Belakangan orang serumah baru tahu, ternyata bukan itu saja lagu orang dewasa yang dihafal caca. Bahkan lagu Kucing Garong yang mama caca sebelin itu. Duh, kalo sudah begini.. apa benar, memang selera bocah kecil sekarang sudah berbeda. Meski mama caca masih cukup lega, bahwa bukan hanya lagu-lagu dewasa itu yang dihafal caca, tapi juga doa-doa, salawat, fatihah dan lagu-lagu anak yang ceria itu...

Wednesday, October 3, 2007

DAPAT PE-ER NIH...

Nih Pe-eR pertama yang mama dapet selama menyandang status blogger mania. Asyik juga sih ngerjain Pe-eR tentang habits kita. Oke mama, Pe-eRnya dah diseleseiin nih. Jangan lupa bonusnya ya.. plus THRnya. Kan mo lebaran.

Aturan mainnya:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with eight random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their eight things and post these rules, at the end of your blog, you need to choose eight people to get tagged and list their names
4. Don't forget to leave them a comment telling them they've been tagged and to read your blog

1. Pindang ‘n Sambal Balacan
Wow, ini sepasang makanan favorit mama caca yang nggak bisa ditawar lagi. Pindang adalah sejenis ikan laut yang nggak terlalu besar. Rasanya khas banget dan –menurut mama caca- cita rasanya tak tergantikan oleh ikan laut jenis apapun. Asyiknya, pindang disantap bareng nasi hangat, sambal balacan (sambal terasi) dan lalapan. Duh, kalo sudah ketemu menu yang satu itu, dijamin, pasti mama caca bakalan nambah ampe 2 piring. Ampun deh kata abah caca. Makanan favorit kok ndeso banget.

2. Rambut Panjang = No
Rambut mama caca emang ikal dan sulit banget ditata. Dirapiin seperti apapun, jatuhnya pasti awut-wutan lagi. Dulu waktu masih sekolah, temen-temen pada komentar “wah, kalo ada yang naksir kamu, pasti dibatalin begitu liat model rambut kamu.” Makanya, mama caca gak pernah berpikir buat manjangin rambut.

3. Pilek Kok Tiap Hari!!
Bisa dibilang, setiap hari mama caca pasti pilek. Temen-temen juga pada komentar, setiap ketemu kamu kok pilek sih. Emang iya. Untuk kebiasaan yang satu ini berkaitan dengan alergi yang diidap mama caca. Maklum mama caca punya penyakit asma. Dan paling anti ama yang namanya dingin. Tapi jangan kuatir, pilek mama caca ini gak sama dengan pileknya orang yang lagi influensa yang menular. Soalnya, pileknya muncul berkaitan dengan alergi.

4. Obat ‘n Tissu
Saking seringnya terserang pilek, mama caca wajib membawa tissu dan obat kemana-mana. Soalnya, asma ato pileknya mama caca suka datang dengan tiba-tiba tanpa diminta.

5. Alergi Udang
Jangan suguhi mama caca udang. Sebenarnya suka sih maem udang. Tapi sayang, mama caca alergi berat. Pernah suatu ketika mama caca masak udang buat abah caca. Karena tergiur, mama caca mencicipi kuahnya. Gak tahunya, seperempat jam kemudian seluruh badan mama caca membengkak dan dada terasa sesak. Akhirnya mesti buru-buru minta obat anti alergi deh.

6. Gak Bisa Basa-basi
Basa-basi adalah sesuatu yang paling nggak disukai mama caca. Daripada sok senyum-senyum ato pura-pura asyik ngobrolin sesuatu yang nggak menarik, mama caca mending diem. Mungkin kalo yang belum kenal pada “nuduh” mama caca sombong. Tapi sungguh, mama caca tersiksa banget kalo suruh berbasa-basi ato ngadepin orang yang suka basa-basi. Enggak banget lah pokoknya.

7. Sulit Ngapalin Nama
Ini masalah tersendiri buat mama caca. Apalagi di kampung ini, mama caca terbilang sebagai orang baru. Jadi otomatis banyak orang baru yang mama caca temui. Seringnya habis kenalan trus lupa lagi namanya. Ujung-ujungnya pas ketemu lagi dan mama caca gak nyapa duluan, dibilang sombong lagi deh. Kasian banget mama caca.

8. Suka Musik
Makanya mama caca suka liat MTV. Pernah sih abah caca ngolok-olok, “Ibu-ibu kok liatnya MTV.” Ya nggak pa-pa tho, daripada liat senetron yang orangnya suka mendelik terus... kan mendingan liat acara musik di MTV. Hehe...

Sekarang giliran mama caca yang nglemparin Pe-eR buat blogger yang lain. Berikut nama-nama yang ketiban tugas. Hehe...
1. Yunest
2. Lely di Cairo
3. Annisa di negeri Sakura
4. Dodo di Jogja
5. Rif’an di Mesir
6. Bunda gege di Malaysia
7. Bunda Ryuta di Jepang
8. Triple’s mom

Sunday, September 30, 2007

HARI-HARI DI BULAN SUCI

• CERIANYA RAMADLAN
Datangnya Ramadlan berarti hadirnya suasana baru dalam mengisi hari. Terhitung sejak tiga tahun lalu, mama caca menghabiskan bulan puasa di kampung caca. Sebagaimana di tempat lain, selalu ada nuansa khas setiap ramadlan datang. Dimulai setengah satu malam, pemuda RT sebelah mulai terdengar riuh memperdengarkan alat musik seadanya. Sambil berteriak membangunkan orang untuk segera mempersiapkan hidangan sahur untuk keluarga. Mereka berkeliling menyusuri gang-gang di RT mereka. Berikutnya, ketika jam menunjukkkan pukul 2.30, giliran pemuda di RT caca yang berkeliling sambil memperdengarkan berbagai alat musik. Ada kentongan, galon bekas wadah air mineral dan organ. Semuanya diperdengarkan. Rame kayak nano-nano. Kalo sudah begini, caca pasti langsung bangun dan bergegas lari menuju jendela. “Hore... ada drum band.” Teriak caca sambil tertawa riang. Huh, sempeh deh.. masak drum band pake kentongan. Dasar caca!!

Berikutnya sahur bareng. Ini kosa kata baru buat caca. Selama Ramadlan, banyak kosa kata baru yang dikenali bocah cilik itu. Mulai dari puasa, berbuka, sahur, tarawih atau tadarrus. Caca juga suka ikut nimbrung jika orang dewasa melakukan aktivitas itu. Kecuali puasa. Kalo ditanya, “lho, adek kok nggak puasa?” pasti jawabnya tahun depan, soalnya sekarang masih kecil. Hehe...

Kegiatan ramadlan dimulai tanggal 2 hingga 16 Ramadlan. Malam 17 Ramadlan diisi pengajian sebagai penutup aktifitas Ramadlan. Seperti dua Ramadlan sebelumnya, kali ini mama caca ikut mewarnainya dengan mengkaji sebuah kitab yang ditulis pada tahun 1358 H oleh seorang ulama Jawa, an-Nawawi. Terbilang kitab lama memang. Judulnya Sulam at-Taufiq. Namun bukan Sulam at-Taufiq nya yang kali ini mama baca, tapi syarh atau penjelasannya. Berisi tentang hukum Islam yang bernuansa tasawuf. Awal-awal Ramadlan, caca selalu protes tiap kali mama caca ngaji. Tapi lama kelamaan dia bisa ngertiin dan mau menunda kolokannya hingga mama caca usai.

Tarawih juga menjadi keasyikan tersendiri bagi caca. Saat tarawaih, caca bisa bertemu teman-teman kecilnya yang juga ikut tarawih bersama ibunya. Hingga dua kali salam, biasanya caca masih ikut sholat. Tapi jangan ditanya setelah itu. Kaburr.. hehe...

• SEDIHNYA RAMADLAN
Bukan hanya ceria, Ramadlan kali ini cukup menyedihkan bagi mama caca sekeluarga. Maklum, terhitung telah dua kali mbah kakung mesti diopname di rumah sakit. Awalnya hanya dua hari, setelah dibawa pulang dan dinyatakan cukup untuk rawat jalan, tak tahunya empat hari berikutnya mbah kung harus kembali diopname.

Tapi alhamdulillah, sekarang beliau sudah membaik. Kembali sahur dan berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Meski setiap hari harus selalu menyediakan tabung oksigen di rumah. Buat semuanya, doain ya.. semoga mbah kung dan kami sekeluarga selalu diberi kesehatan dan kemudahan. Amin...

Friday, August 31, 2007

CURHAT DI USIA KEHAMILAN KE 17 MINGGU

Memasuki minggu ke 17, seringkali mama caca merasa tak nyaman dengan kehamilan kedua ini. Sejak awal, kehamilan kali ini emang membuat mama caca resah. Pertama; karena flek-flek yang sering muncul di awal kehamilan. Kedua; berat badan yang tak juga mengalami perubahan meski usia janin terus bertambah. Ketiga; sulitnya mencari orang yang benar-benar bisa ditanyai mengenai kondisi kehamilan.

Mengenai problem pertama yakni munculnya flek-flek di awal kehamilan, menurut dokter, flek itu muncul karena pengaruh kontrasepsi yang digunakan sebelumnya. Untungnya, pada minggu ke 10, flek-flek itu tak lagi datang.

Untuk yang kedua; yakni berat badan yang tak juga bertambah memang sempat membuat mama caca resah. Maklum, pada kehamilan pertama tiap bulannya bisa nambah berat bada 2-3 kg. Jadilah mama caca benar-benar endut ketika hendak melahirkan. Berbeda dengan kehamilan kali ini. Hingga memasuki minggu ke 17, tak satu kilogram pun berat badan mama caca nambah. Makanya, selain konsultasi pada dokter kandungan, mama caca juga curhat kiri-kanan tentang masalah ini. Termasuk pada mama Ameera. Makasih masukannya ya.. mom...

Tentang sulitnya mencari orang yang benar-benar bisa ditanyai menjadi persoalan tersendiri. Mungkin ketika kehamilan pertama, mama caca sudah terbiasa mendapatkan kemudahan dalam pelayanan kesehatan dan kehamilan. Maklum, saat di Aussie dulu, meski jauh dari sanak saudara, tapi ahli medis selalu siap memberikan pelayanan terpercayanya. Keluhan apapun akan dijawab dengan keterangan medis yang memadai dan rujukan pada dokter yang benar-benar ahlinya. Bukannya mama caca membanding-bandingkan atau gak percaya pada dokter di tempat mama caca. Tapi record mereka yang seringkali “tak profesional”lah yang membuat mama caca tak mudah percaya dengan keterangan seorang dokter. Setiap ada sesuatu yang mengganjal, mama caca akan berusaha mencari second opinion.

Contohnya pernah mama caca alami sendiri. Kejadiannya ketika caca berusia sekitar 10 bulan. Waktu itu caca batuk gak sembuh-sembuh. Kadang ampe 3x berobat batuknya tetep aja membandel. Dan sekali batuk bisa dalam hitungan tiga atau empat minggu belum juga sembuh. Berat badannya juga terus turun. Padahal makannya bejibun. Ketika itu mama caca memeriksakannya ke dokter –yang menurut orang se-kabupaten- adalah dokter paling bagus dan senior. Pasiennya bukan hanya datang Pati, tapi juga dari Jepara, Kudus dan Rembang.

Ketika mama caca mengeluhkan kondisi caca, dokter cuma bilang dia kena radang tenggorokon. Hingga obat habis dikonsumsi, satu, dua hingga empat bulan sakitnya tetap tak ada perbaikan. Dan mama caca kembali mengeluhkan batuk dan berat badan caca yang terbilang mulai dibawah rata-rata. Mama caca mulai panik. Namun, si dokter paling senior itu tetep ngotot bilang bahwa caca cuma kena radang tenggorokan. Dan dokter kembali memberikan resep yang sama dengan empat bulan sebelumnya.

Akhirnya, karena tak puas, mama caca berusaha mencari dokter lain. Dan caca dirujuk untuk dirotgen. Hasilnya, caca kena penyakit paru-paru TBC atau orang biasa menyebutnya flek. Duh, jauh banget, radang tenggorokan dan Flek. Hingga saat ini caca masih menjalani proses pengobatan penyakitnya itu. Ini bulan ke sembilan masa penyembuhan caca. Moga aja caca yang sekarang makin endut itu lekas sehat kembali. Amin.

Peristiwa ini belum seberapa. Kejadian yang lebih menggiriskan dialam oleh tetangga mama caca. Karena satu dan lain hal, seorang tetangga harus melahirkan bukan di RS, tapi pada bidan dekat rumahnya. Setelah melahirkan, si tetangga merasakan hal aneh karena buang air besarnya terjadi secara tak normal. Usut punya usut, ternyata si bidan keliru menjahit anusnya ketika si tetangga usai melahirkan. Hik... alangkah cerobohnya si bidan.

Ini sekedar curhat. Semoga kami senantiasa diberi kemudahan dan kesehatan. Doain ya.. calon adeknya caca tetep sehat dan baik-baik saja. Amin.