Monday, September 16, 2013
MBAH KAKUNG GERAH
Caca dan kika bersedih. Terbilang telah genap seminggu mbah kakung dirawat di rumah sakit Kariadi, Semarang. Biasanya setiap hendak berangkat ke sekolah, caca dan kika selalu sowan mbah kakung terlebih dahulu. Setiap pagi pula mbah kakung akan menyambut kedua cucunya itu dengan senyum mengembang, sebelum kemudian memberikan beberapa koin lima ratusan sebagai uang saku sekolah untuk keduanya.
Selain pagi ketika hendak berangkat sekolah, caca dan kika sowan mbah kakung setiap usai ngaji al Quran ba'da maghrib. Sowan mbah kakung selalu menjadi waktu yang menyenangkan. Mbah kakung gemar mendengarkan cerita caca dan kika. Mbah kakung juga selalu terlihat antusias setiapkali caca dan kika menunjukkan karyanya. Meski kadang karya dua bocah itu hanya berupa gambar atau mainan remeh temeh. Antusiasme mbah kakung terhadap cerita atau karya dua gadis kecil ini rupanya menjadi support tersendiri untuk mereka. "ini bagus. semua karya itu bagus, yang tidak bagus itu yang tidak berkarya." Ujar mbah kakung seraya memegang mainan, tulisan atau gambar yang ditunjukkan oleh caca kika. biasanya mbah kakung duduk di kursi goyang di ruang tengah. sementara kami duduk mengitari beliau. selalu ada hal menarik yang kami bicarakan pada saat-saat seperti itu.
Waktu istimewa bagi caca dan kika adalah malam jum'at. karena libur ngaji, malam jum'at menjadi malam yang agak panjang bagi caca dan kika untuk bisa bergurau dan bercengkerama dengan mbah kakungnya. malam jum'at juga biasa kami gunakan untuk makan malam bersama. meski dengan menu sederhana, di ruang makan yang sederhana pula, namun kebersamaan itulah yang menjadikan makan malam itu menjadi istimewa.
Sejak mbah kakung opname, terhitung tiga hari caca dan kika ikut menungui di rumah sakit, meski harus izin sekolah. kehadiran caca kika agaknya juga cukup berarti bagi mbah kakung. Cerita dan polah kedusnya mampu membuat mbah kakung tersenyum diantara selang infus dan oksigen yang mengitarinya. Doa kami untuk mbah kakung. Semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan. Rindu kami mendengar nasihat dan ilmu dari panjengan.
Monday, January 14, 2013
JEJAK PUTRI SEKARTAJI DI GOA SELOMANGKLENG
Selomangkleng adalah nama yang disematkan untuk sebuah ‘goa’ di kawasan gunung Klothok, Kediri, Jawa Timur. Tidak sebagaimana goa pada umumnya, yang posisinya berada di bawah tanah dan memiliki stalakmit dan stalaktit serta terdapat genangan air atau sungai di bawahnya, Selomangkleng justru lebih mirip bilik yang dibuat dalam sebuah ceruk batu raksasa. Konon, ‘goa’ ini merupakan tempat pertapaan putri Sekartaji setelah ia memutuskan menolak tahta kerajaan Kediri dan memilih ‘mandeg pandito’.
Terdapat dua versi mengenai putri Sekartaji dan motivasinya untuk mengasingkan diri, bertapa di sebuah goa di lereng gunung Klothok itu. Versi pertama menyatakan bahwa, putri yang elok itu memutuskan menyepi setelah menolak lamaran seorang raja dari negeri seberang. Penolakan sang putri disebabkan raja yang menginginkan dirinya itu memiliki wajah dan perangai buruk. Dalam kisah yang diceritakan kembali melalui dongeng kanak-kanak, raja yang berwajah dan berperangai buruk itu disebut sebagai Butho. Konon, sang putri membuat siasat agar sang pelamar tidak pernah sampai di Kediri. Sedangkan versi kedua menyatakan bahwa, sang putri memilih jalan sepi karena menganggap bahwa jalan semedi akan lebih membawa kebaikan bagi kerajaan Kediri dibanding jika ia naik tahta.
Kini, kawasan gunung Klothok tidak lagi sepi seperti saat Sekartaji bersemedi di sana. Gunung klothok kini ramai dikunjungi oleh orang-orang Kediri dan sekitarnya. Selain goa Selomangkleng, lereng gungung Klothok kini padat dengan pemukiman yang berdampingan dengan sebuah Universitas (Universitas Kadiri), museum, kolam renang dan kawasan wisata lainnya.
Setiap liburan, Caca dan Kika selalu saja merengek untuk pulang ke Kediri. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bertemu sanak-sodara dan berjalan-jalan bersama. Demikian pula dengan liburan akhir tahun kemarin. Sesaat setelah pulang dari Taman Safari, kembali Caca dan Kika menagih, “Kapan kita ke Kediri? Ketemu bulek Nila, kak Wafa, dek Shenly dan dek Hilwa? Trus jalan-jalan ke gunung klothok?”
Thursday, December 27, 2012
TAMAN SAFARI: TRAVELING AND LEARNING
Liburan kali ini terasa berbeda. Caca dan kika yang kian tumbuh dan bertambah usia. Kini mereka tak lagi balita yang hanya suka merengek minta ini dan itu ketika berjalan-jalan bersama abah dan bundanya. Caca dan kika kini lebih mandiri dan apresiatif terhadap hal-hal yang ditemuinya. Termasuk ketika pada liburan ini kami mengajak mereka berjalan-jalan di Taman Safari, Bogor serta melihat Grand Prix Marching Band di Istora Senayan Jakarta.
Di Taman Safari, anak-anak terlihat bersemangat menemui hal-hal baru. Pengetahuan yang selama ini hanya didapat melalui buku atau televisi, kini langsung mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Dengan peta kecil di tangannya, kika tampak antusias seraya terus-menerus bertanya, kapan bisa bertemu zebra dan jerapah. Kika juga terlihat exited ketika melihat gigi-gigi kuda nil yang sebesar golok. Sementara caca tampak sesekali berceloteh tentang ensiklopedi yang pernah dibacanya terkait dengan beberapa binatang yang ditemuinya.
“Binatang-Binatang di sini lebih terawat dan sehat ya.. bu.” Demikian komentar caca sembari membandingkan dengan kondisi hewan-hewan di Kebun Binatang Ragunan yang pernah dikunjunginya pada liburan sebelumnya.
“Iya, kalo di Ragunan, jerapahnya lemes pingin maem, tapi nggak ada rumput.” Kika menimpali ujaran kakaknya.
Benar kata caca dan kika, aku sendiri merasakan hal berbeda melihat binatang-binatang di Taman Safari ini. Mereka memang tampak lebih sehat dan terawat. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi hewan-hewan di Ragunan. Hal ini mengingatkanku pada berita yang dimuat kompas beberapa bulan silam, yakni mengenai ditemukannya beberapa kilogram plastik di perut seekor jerapah yang diduga mati karena kelaparan. Jeparah yang menjadi bagian koleksi sebuah Kebun Binatang itu mati dengan kondisi yang sungguh mengenaskan. Mereka kurang makan sehingga terpaksa melahap plastik-plastik yang bertebaran di sekitar kandang mereka. Dan kondisi semacam ini agaknya sudah lazim terjadi di beberapa kebun binatang yang dikelola oleh pemerintah. Harusnya kebun binatang memang tidak didirikan di pusat kota, tapi di daerah-daerah yang mudah dan murah mencari bahan makanan untuk mereka. Bogor agaknya lebih strategis mengingat alamnya yang dingin dengan hutan yang masih terjaga. Hewan-hewan –terutama herbivora- tentu akan sangat kerasan tinggal di sana. Sebab bahan makanan mereka telah disediakan oleh alam di sekelilingnya.
Selain berkeliling, caca dan kika tampak terkesima ketika mendapat kesempatan naik ke punggung gajah. Hewan yang berukuran jumbo itu bergerak lamban dengan belalai yang menjuntai. Banyak pengetahuan yang didapat selama liburan ini. Belajar sembari jalan-jalan agaknya lebih menyenangkan dan berkesan. Selamat bertemu pada liburan yang akan datang.
Monday, November 5, 2012
ARTI BLOG BUNDA BAGI CACA-KIKA
Terhitung sejak tahun 2007, saya mulai mengenal blog. Mbak Isma Kazee-lah yang pertama membuatkan blog www.ceritacaca.blogspot.com ini. Sejak itu, saya jadi ketagihan untuk selalu berbagi cerita. Melalui blog pula, komunikasi bersama teman lama semasa di tambak beras dan jogja dulu kembali intens terbina. Seperti dengan mbak Isma Kazee, Nihayah Wafiroh dan Yuyun Sunesti. Waktu itu facebook memang belum banyak digunakan. Melalui blog ini pula, saya mengenal teman-teman baru, baik ibu-ibu diberbagai kota di nusantara maupun ibu-ibu Indonesia yang kebetulan berdomisili di Malaysia, Singapura, Australia, Jepang dsb. Pertemanan ini memperkaya pengetahuan, terutama terkait pendidikan dan tumbuh kembang anak.
Keasyikan nge-blogger ini memang awalnya hanya iseng sekaligus memenuhi keinginan saya untuk tidak berhenti menulis. Dengan nge-blog, hal-hal kecil dapat diolah menjadi kisah unik yang khas. Tak terlalu panjang, namun dapat menjadi catatan perjalanan yang –mungkin- akan berguna. Menulis memang bukan hal baru bagi saya. Dan blog adalah salah satu ruang untuk menyalurkan keinginan menuliskan momen demi momen dalam kehidupan saya.
Pada saat Facebook mulai booming, seperti teman-teman blogger yang lain, saya juga sempat vakum nge-blog. FB memang lebih simple. Hal ini mungkin yang mendorong teman-teman lain lebih suka update status di FB dan tidak lagi meng-update tulisan-tulisan di blog. hal itu juga saya rasakan. Hingga suatu waktu, iseng-iseng saya membuka blog ceritacaca ini. Ketika sedang asyik membolak-balik laman lama, ternyata caca penasaran dan ikut membacanya. Sungguh saya tak menyangka reaksi caca ketika itu. Caca terlihat girang dan merasa surprise dengan cerita-cerita yang saya tulis mengenai dirinya. Dari mulai caca kecil yang badmood, caca yang suka naik andong, caca yang ketiduran ketika hendak tampil pada sebuah acara, atau cerita lucu tentang caca yang memberikan gantungan kunci boneka pada ulang tahun mbah kakungnya. Demikian juga dengan Kika, dia terlihat gembira ketika melihat foto, nama dan kisah tentang masa kecilnya tercatat rapi dalam blog bunda caca kika.
Reaksi caca dan kika inilah yang mendorong saya untuk kembali menulis cerita mereka di blog ini. Saya berfikir bahwa cerita kecil ini akan menjadi catatan berharga tentang perjalanan hidup mereka. Dan jika kelak, anak-anak itu dewasa mereka tahu betapa berharganya mereka bagi kedua orang tuanya. Karena setiap orang tua memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan cintanya. Dan tulisan-tulisan ini adalah salah satu bukti cinta bunda kepada mereka.
Semoga Alloh senantiasa memenuhi kami sekeluarga dengan Rohman-Rohim-NYA. Amin.
Tuesday, September 25, 2012
KIKA BELUM JADI PUNYA ADEK (lagi)
Kulihat wajah sedih Kika, gadis kecilku yang kini berusia 4,5 tahun itu setiap kali melihat teman sebayanya bercerita tentang adek bayinya. “ibu, aku sudah mau dipanggil kakak Kika, tiap habis sholat maghrib aku juga selalu berdoa, biar lekas diberi adek.” Bibir kecil itu berceloteh sembali merajuk.
Kika memang sudah dua kali “hampir” punya adek. Sayangnya, dua calon adek ini mesti diambil sebelum waktunya. Akhir 2011 silam, aku memang sempat mengandung, namun janin yang baru berusia dua bulan itu, ternyata tidak bisa berkembang sehingga harus dikeluarkan paksa alias dikuret.
Awal september ini, peristiwa hampir serupa terulang lagi. Bedanya, kali ini janin itu berkembang di luar rahim. Usianya masih dua minggu. Namun rasa sakitnya hampir sama dengan sakit kontraksi pra-melahirkan. Untungnya, kehamilan di luar kandungan ini segera terdeteksi, sehingga operasi yang dilakukan hanya fokus untuk membersihkan janin yang berkembang tidak pada tempatnya itu. Deteksi dini itu juga membuat operasi tidak sampai mengharuskan rahimku diangkat.
Meski ada rasa sedih dan khawatir, namun tetap terselip syukur bahwa proses operasi dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa. Semoga kami sekeluarga dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian dan senantiasa memenuhi hati dengan harapan dan kasih sayang dari Yang Maha dari Segala Maha. Amin.
Saturday, August 11, 2012
PESERTA DIDIK TAMAN KANAK-KANAK ITU BERNAMA KIKA
Tak terasa, sebulan lalu kika telah resmi menjadi siswa Taman Kanak-Kanak. Padahal, rasanya baru kemarin aku mengantarkannya mendaftar playgroup. Beginilah rasanya menjadi orang tua, meski tiap hari mengikuti tumbuh kembangnya, tetap saja rasanya terkaget-kaget begitu anak kita bertambah umurnya.
Hari-hari terakhir di play group terasa amat menyenangkan bagi kika. Agaknya para pendidik di kelompok bermain itu amat berkesan di hati kika. Bu fatim, bu mini, bu lin, bu ema, bu asiyah, semua sudah seperti keluarga bagi anak didiknya. Bagi kika mereka semua adalah pendidik yang murah senyum dan tak alpa menghibur, jika kika dan teman-temannya merasa takut atau jerih.
Hal lain yang amat berkesan bagi Kika adalah ketika pada momen penerimaan ijazah dan perpisahan, ia mendapat kesempatan menari “embok Jamu” dengan memakai kebaya. Tarian yang lucu khas anak-anak, kebaya mungil dan ciput yang dimodifikasi menjadi layaknya sanggul, membuat anak-anak itu semakin menggemaskan. Dan tiapkali ditanya mengenai kesannya selama di play group, kika selalu bergegas menjawabnya, “Adek pingin play group lagi.” Hehehe...
Tapi tentu saja itu tidak itu tidak mungkin, kini kika telah resmi menjadi peserta didik Taman Kanak-Kanak. Karena antara TK dan Playgroup kika yang dulu bukan satu kesatuan, kini semua kembali menjadi hal baru baginya. Dan itu agaknya yang membuat kika menjadi sering merasa kurang nyaman menjalani hari-hari pertamanya di Taman Kanak-Kanak. Namun semua itu wajar karena hidup adalah proses belajar. Guru baru, sekolah baru, teman baru serta suasana baru adalah ruang pembelajaran yang terus-menerus. Semuanya harus dilalui demi kehidupannya yang akan datang. Jadi anak hebat ya kika... rajin belajar, di dalam maupun di luar kelas. Ibu akan selalu mendoakanmu. Amin.
Friday, August 10, 2012
PUASA RAMADLAN CACA
Alhamdulillah, ini tahun kedua caca menjalankan ibadah puasa. Jika pada ramadlan sebelumnya caca memulai ramadlan dengan puasa bedug hingga tujuh hari, lalu melanjutkan sisa ramadlan dengan puasa penuh hingga sore hari, untuk ramadlan kali ini, caca memilih puasa penuh sejak awal ramadlan. Mungkin banyak anak-anak seusia caca yang juga melakukan hal sama. Namun sebagai orang tua, tentu kemauan caca untuk puasa penuh selama ramadlan di usianya yang ke tujuh tahun membuatku merasa bangga sebagai orang tua. Belum lagi kemauannya untuk mengikuti tarawih dua puluh rakaat plus witir tiga rakaat tanpa jeda, sungguh, aku hanya bisa berucap syukur tiada tara.
Mengajarkan ibadah kepada anak adalah kewajiban orang tua. Tanpa support dari orang tua, tidak mungkin kemauan ibadah anak akan datang dengan sendirinya. Namun, meski demikian, lingkungan pergaulan pasti juga memiliki pengaruh yang tidak sedikit bagi keinginan anak untuk belajar beribadah sesuai dengan tuntunan agamanya. Dalam hal ini, lagi-lagi syukur tiada tara, bahwa caca ditakdirkan hidup di tengah lingkungan pesantren, yang notabenenya memiliki tradisi keberagamaan yang cukup kuat. Dan semoga, pondasi keberagamaan yang sudah tertanam sejak kecil ini, akan membawa kebaikan dan keberuntungan bagi seluruh hidup caca dan keluarga. Semoga Alloh senantiasa meridloi-nya. Amin
Friday, November 26, 2010
KIKA KE SEKOLAH
Aku memutuskan untuk memilih hari Rabu sebagai hari pertama sekolah Kika. Meski sudah tiga hari yang lalu gadis kecil itu dengan semangat menanggukkan kepala tiap kali kutanyakan tentang sekolah kepadanya. Namun baru hari ini aku merasa yakin untuk memulai sekolah untuk Kika.
Sebenarnya mbah putri telah mendorongku untuk menyekolahkan Kika sejak setengah tahun yang lalu. Namun, aku selalu menolaknya dengan alasan belum cukup umur. Bagaimanapun pengalaman menyekolahkan si sulung Caca ketika ia belum genap berusia satu tahun menjadi pengalaman berharga bagiku. Ketika itu, caca yang sudah fasih berkata-kata memang memiliki kemampuan untuk lebih mudah menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Sehingga hari pertama sekolah merupakan hari yang membanggakan bagi Caca. Lagu-agu yang diajarkan sudah dihafalnya luar kepala. Dengan pelafalan yang hampir sempurna. Hanya huruf R dan S saja yang belum bisa diejanya sebagaimana seharusnya. Namun, meski secara skill Caca mampu mengikuti apa yang diajarkan di sekolah, namun dalam catatanku, secara emosional Caca belum siap. Hal ini amat terasa ketika pada usia 3,5 tahun Caca masuk TK. Perkembangan emosional Caca amat berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Karenanya, Caca kuputuskan untuk menghabiskan 3 tahun usianya di TK. Keputusan itu kuambil setelah banyak berkonsultasi dengan guru-gurunya di TK, maupun calon gurunya di SD.
Kondisi ini amat bereda dengan perkembangan Kika. Hingga mendekati usia tiga tahun, belum banyak kata yang bisa diucapkan dengan semestinya. Setiap kata yang berawalan konsonan hampir selalu hilang dalam pelafalan Kika. Semisal kata pulang, menjadi u’ang, Mandi menjadi andi. Keadaan ini juga menjadi perhatiaanku. Aku tak ingin hari pertama sekolah Kika menjadi hari yang terkesan buruk di hatinya. Dalam keseharian, Kika sering marah jika orang yang dimaksud tidak juga faham terhadap ucapannya. Aku berfikir, bagaimana jika guru atau temen-temen Kika tidak faham terhadap apa yang dimaksud oleh gadis kecil itu, apakah ini tidak membuat Kika pada akhirnya malas sekolah?
Berbagai hal tentang Kika membuatku selalu berfikir ulang mengenai kapan tepatnya Kika mesti sekolah. Sebenarnya, temen-temen seumuran Kika juga banyak yang belum bisa mengeja dengan sempurna. Caca saja yang tergolong cepat, sehingga kadang-kadang orang membandingkan keduanya dan membuat Kika terkesan terlambat perkembangannya. Namun bagiku keduanya adalah anugrah yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan aku tetap bangga terhadap dua buah hatiku itu.
Namun, sungguh mengejutkan ketika akhirnya aku memutuskan sekolah untuk Kika.
“Besok adik jadi sekolah?” Tanyaku pada malam harinya sebelum Kika beranjak tidur.
Dan gadis kecil itu mengangguk cepat. Paginya, begitu Kika membuka matanya, aku mengulangi pertanyaan yang sama, dan lagi-lagi ia mengangguk mantap.
Begitulah, sebelum berangkat Kika mandi cepat-cepat. Ini tentu berbeda dengan hari-hari biasanya. Setelah berdandan rapi, si kecil bermata sipit itu meminta dua buku tulis dan dua pensil di masukkan ke dalam tasnya. Sambil menunggu mbak yang mengantarkannya sarapan, Kika bergaya membaca buku cerita. Yang tentu saja dengan bacaan yang gak karuan huruf dan kalimatnya. Sebab kika hanya pura-pura membaca. Hehe…
Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan sukses. Hari ini, tepatnya pada usia tiga tahun kurang tiga bulan, Kika pertama masuk sekolah di Play Group di kampong kami. Slamat ya.. dek ayu… semoga hari-hari selanjutnya semakin menyenangkan dan bertambah-tambah pengetahuan dan pengalamanmu. Amin. Love you so much..
Sebenarnya mbah putri telah mendorongku untuk menyekolahkan Kika sejak setengah tahun yang lalu. Namun, aku selalu menolaknya dengan alasan belum cukup umur. Bagaimanapun pengalaman menyekolahkan si sulung Caca ketika ia belum genap berusia satu tahun menjadi pengalaman berharga bagiku. Ketika itu, caca yang sudah fasih berkata-kata memang memiliki kemampuan untuk lebih mudah menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Sehingga hari pertama sekolah merupakan hari yang membanggakan bagi Caca. Lagu-agu yang diajarkan sudah dihafalnya luar kepala. Dengan pelafalan yang hampir sempurna. Hanya huruf R dan S saja yang belum bisa diejanya sebagaimana seharusnya. Namun, meski secara skill Caca mampu mengikuti apa yang diajarkan di sekolah, namun dalam catatanku, secara emosional Caca belum siap. Hal ini amat terasa ketika pada usia 3,5 tahun Caca masuk TK. Perkembangan emosional Caca amat berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Karenanya, Caca kuputuskan untuk menghabiskan 3 tahun usianya di TK. Keputusan itu kuambil setelah banyak berkonsultasi dengan guru-gurunya di TK, maupun calon gurunya di SD.
Kondisi ini amat bereda dengan perkembangan Kika. Hingga mendekati usia tiga tahun, belum banyak kata yang bisa diucapkan dengan semestinya. Setiap kata yang berawalan konsonan hampir selalu hilang dalam pelafalan Kika. Semisal kata pulang, menjadi u’ang, Mandi menjadi andi. Keadaan ini juga menjadi perhatiaanku. Aku tak ingin hari pertama sekolah Kika menjadi hari yang terkesan buruk di hatinya. Dalam keseharian, Kika sering marah jika orang yang dimaksud tidak juga faham terhadap ucapannya. Aku berfikir, bagaimana jika guru atau temen-temen Kika tidak faham terhadap apa yang dimaksud oleh gadis kecil itu, apakah ini tidak membuat Kika pada akhirnya malas sekolah?
Berbagai hal tentang Kika membuatku selalu berfikir ulang mengenai kapan tepatnya Kika mesti sekolah. Sebenarnya, temen-temen seumuran Kika juga banyak yang belum bisa mengeja dengan sempurna. Caca saja yang tergolong cepat, sehingga kadang-kadang orang membandingkan keduanya dan membuat Kika terkesan terlambat perkembangannya. Namun bagiku keduanya adalah anugrah yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan aku tetap bangga terhadap dua buah hatiku itu.
Namun, sungguh mengejutkan ketika akhirnya aku memutuskan sekolah untuk Kika.
“Besok adik jadi sekolah?” Tanyaku pada malam harinya sebelum Kika beranjak tidur.
Dan gadis kecil itu mengangguk cepat. Paginya, begitu Kika membuka matanya, aku mengulangi pertanyaan yang sama, dan lagi-lagi ia mengangguk mantap.
Begitulah, sebelum berangkat Kika mandi cepat-cepat. Ini tentu berbeda dengan hari-hari biasanya. Setelah berdandan rapi, si kecil bermata sipit itu meminta dua buku tulis dan dua pensil di masukkan ke dalam tasnya. Sambil menunggu mbak yang mengantarkannya sarapan, Kika bergaya membaca buku cerita. Yang tentu saja dengan bacaan yang gak karuan huruf dan kalimatnya. Sebab kika hanya pura-pura membaca. Hehe…
Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan sukses. Hari ini, tepatnya pada usia tiga tahun kurang tiga bulan, Kika pertama masuk sekolah di Play Group di kampong kami. Slamat ya.. dek ayu… semoga hari-hari selanjutnya semakin menyenangkan dan bertambah-tambah pengetahuan dan pengalamanmu. Amin. Love you so much..
Saturday, November 13, 2010
LEK FAR…OH, LEK FAR..!!
Para tetangga memanggilnya lek Far. Entah, aku juga tak tahu persis siapa nama lengkapnya. Rumah Lek Far hanya berjarak satu rumah di belakang rumahku. Perawakannya tidak begitu tinggi. Berkulit putih. Tubuhnya lumayan gemuk, khas perawakan ibu-ibu di kampungku. Serasa tak ada yang istimewa. Tapi beberapa hari yang lalu, nama Lek Far tiba-tiba menjadi isu hangat di kampungku. Setiap orang membincangkannya. Mulai dari tetangga dekat, ketua PKK hingga di acara rutinan desa dan rumpian ibu-ibu tetangga. Semua seolah kompak mengangkat satu tema: Lek Far.
Ya.. sehari sebelumnya lek Far wafat. Perempuan yang masih terbilang muda usia dan memiliki tiga orang anak itu meninggal akibat gagal ginjal, paru-paru dan beberapa penyakit lainnya. Menurut saudara dekat yang menyertai detik-detik terakhir hidupnya, kondisi ginjal lek Far sudah demikian parah hingga akhirnya merenggut hidupnya.
“Wong kata pak dokter ginjalnya udah hancur kok mbak.” Ujar seorang kerabat dekatnya dengan wajah prihatin. Aku begidik mendengarnya.
Dan malam itu, aku tak bisa memicingkan mata. Senyum renyah Lek Far yang selalu terasa akrab menyapa bila aku melintas di depan rumahnya seakan tak henti berkelebat di benakku. Memang benar, tak ada yang menyangka perempuan sesegar itu ternyata ditimpa penyakit demikian parah.
Sebenarnya sudah sejak lama Lek Far mengeluh dadanya terasa sesak. Beberapa kali memeriksakan diri ke dokter dan rotgent, akhirnya dokter menyatakan Lek Far terkena penyakit paru-paru. Namun anehnya, setiap kali habis mengkonsumsi obat dari resep dokter itu, Lek Far mengeluh tubuhnya terasa lemah dan lesu. Setelah kembali mengkonsultasikan pada dokter langganannya, sang dokter memberinya obat mag karena menurut pak dokter lambung Lek Far tak kuat dengan obat paru-paru itu. Bolak-balik ke dokter tanpa perubahan signifikan pada sakit yang dideritanya, akhirnya Lek Far memutuskan mengkonsumsi jamu atau obat-obatan tradisional untuk mengatasi rasa sakit yang dirasakannya.
Anehnya, tiap kali Lek Far memiliki obat tradisional baru dan saudara dekatnya menanyakan tentang obat itu, Lek Far selalu menjawab bahwa dia tak sakit apa-apa. Hanya ingin mengecilkan perut gendutnya saja, demikian Lek Far selalu beralasan.
Nyatanya kian hari ginjalnya makin parah. Dan Lek Far bukan orang yang gemar mengeluh pada siapapun mengenai sakit yang dirasakannya. Mungkin sekalipun itu pada suaminya sendiri. Hingga sore itu Lek Far merasa tak kuat lagi menyembunyikan deritanya. Lek Far mengeluh minta dibawa ke rumah sakit.
“Aku udah gak kuat lagi.”
Demikian keluhnya berulang kali. Akhirnya Lek Far dirawat di Rumah sakit. Celakanya setelah dokter melakukan check up, baru diketahui bahwa sumber dari semua sakit yang dirasakannya adalah penyakit gagal ginjal. Dan melihat kondisi ginjalnya yang sudah sedemikian parahnya, menurut dokter penyakit itu tentu sudah diidapnya sekian lama. Memang Lek Far punya penyakit paru-paru. Tapi kondisinya tak separah ginjal yang dideritanya.
Hingga sore itu Tuhan menyukupkan deritanya dan mengambil nyawanya. Semua menangis, kecuali si bungsu yang masih berusia lima tahun dan tak begitu faham apa yang sebenarnya terjadi.
Dan itulah takdir bagi Lek Far. Alloh menyukupkan umurnya hingga hari itu melalui menyakit ginjal yang dideritanya. Tapi tentu tak mudah menerima kenyataan itu sebagai takdir semata. Buktiya seisi kampung seolah malah mengadili suami Lek Far sebagai biang keladi bagi semua kesengsaraan yang dirasakan oleh istrinya. Menurut para kerabat dan tetangga, penyakit ginjal itu menjadi demikian parah tanpa terdeteksi sebelumnya karena Lek Far selalu takut pada suaminya tiap kali merasakan ketidakberesan pada perut dan pinggangnya. Lek Far selalu takut menuntaskan pengobatan penyakitnya karena takut terhadap suaminya. Menurut para tetangga, suaminya memang selalu terlihat acuh atas derita istrinya itu. Jika Lek Far terlihat pucat dan kerabatnya menanyakan tentang kondisi sang istri, suami Lek Far hanya menjawab bahwa istrinya sedang kedinginan sehabis mencuci pakaiannya dan pakaian milik anak-anaknya.
Mendengarkan rerasan tetangga, aku hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu mesti berbuat apa. Sebab, aku merasa tak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya. Apakah benar demikian jahat perilaku suami Lek Far. Atau mungkin para tetangga saja yang sedang terbawa suasana sehingga mencoba mencari kambing hitam atas sebuah peristiwa.
Entahlah.. yang jelas, sungguh tak elok mengadili suami Lek Far di tengah kepedihan yang dideritanya. Ditinggalkan seorang istri dengan menanggung beban tiga orang anak yang biasanya dirawat bersama tentu bukanlah hal mudah. Apalagi jika harus ditambah rasa bersalah yang tak berkesudahan jika apa yang dituduhkan adalah sebuah fakta. Belum lagi derita apalagi yang mesti ditanggung oleh anak-anak Lek Far jika mereka menyangka bapaknyalah yang bertanggungjawab atas kematian ibunya.
Sungguh, bukan saat yang tepat rasanya mengadili suami Lek Far tanpa bukti dan saksi yang bisa diyakini kebenarannya itu..
Akhirnya semoga Alloh mengasihi Lek Far dan keluarganya. Semoga dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima. Dan semoga keluarganya diberi ketabahan dan kemudahan. Amin ya Robbal ‘alamin…..
Ya.. sehari sebelumnya lek Far wafat. Perempuan yang masih terbilang muda usia dan memiliki tiga orang anak itu meninggal akibat gagal ginjal, paru-paru dan beberapa penyakit lainnya. Menurut saudara dekat yang menyertai detik-detik terakhir hidupnya, kondisi ginjal lek Far sudah demikian parah hingga akhirnya merenggut hidupnya.
“Wong kata pak dokter ginjalnya udah hancur kok mbak.” Ujar seorang kerabat dekatnya dengan wajah prihatin. Aku begidik mendengarnya.
Dan malam itu, aku tak bisa memicingkan mata. Senyum renyah Lek Far yang selalu terasa akrab menyapa bila aku melintas di depan rumahnya seakan tak henti berkelebat di benakku. Memang benar, tak ada yang menyangka perempuan sesegar itu ternyata ditimpa penyakit demikian parah.
Sebenarnya sudah sejak lama Lek Far mengeluh dadanya terasa sesak. Beberapa kali memeriksakan diri ke dokter dan rotgent, akhirnya dokter menyatakan Lek Far terkena penyakit paru-paru. Namun anehnya, setiap kali habis mengkonsumsi obat dari resep dokter itu, Lek Far mengeluh tubuhnya terasa lemah dan lesu. Setelah kembali mengkonsultasikan pada dokter langganannya, sang dokter memberinya obat mag karena menurut pak dokter lambung Lek Far tak kuat dengan obat paru-paru itu. Bolak-balik ke dokter tanpa perubahan signifikan pada sakit yang dideritanya, akhirnya Lek Far memutuskan mengkonsumsi jamu atau obat-obatan tradisional untuk mengatasi rasa sakit yang dirasakannya.
Anehnya, tiap kali Lek Far memiliki obat tradisional baru dan saudara dekatnya menanyakan tentang obat itu, Lek Far selalu menjawab bahwa dia tak sakit apa-apa. Hanya ingin mengecilkan perut gendutnya saja, demikian Lek Far selalu beralasan.
Nyatanya kian hari ginjalnya makin parah. Dan Lek Far bukan orang yang gemar mengeluh pada siapapun mengenai sakit yang dirasakannya. Mungkin sekalipun itu pada suaminya sendiri. Hingga sore itu Lek Far merasa tak kuat lagi menyembunyikan deritanya. Lek Far mengeluh minta dibawa ke rumah sakit.
“Aku udah gak kuat lagi.”
Demikian keluhnya berulang kali. Akhirnya Lek Far dirawat di Rumah sakit. Celakanya setelah dokter melakukan check up, baru diketahui bahwa sumber dari semua sakit yang dirasakannya adalah penyakit gagal ginjal. Dan melihat kondisi ginjalnya yang sudah sedemikian parahnya, menurut dokter penyakit itu tentu sudah diidapnya sekian lama. Memang Lek Far punya penyakit paru-paru. Tapi kondisinya tak separah ginjal yang dideritanya.
Hingga sore itu Tuhan menyukupkan deritanya dan mengambil nyawanya. Semua menangis, kecuali si bungsu yang masih berusia lima tahun dan tak begitu faham apa yang sebenarnya terjadi.
Dan itulah takdir bagi Lek Far. Alloh menyukupkan umurnya hingga hari itu melalui menyakit ginjal yang dideritanya. Tapi tentu tak mudah menerima kenyataan itu sebagai takdir semata. Buktiya seisi kampung seolah malah mengadili suami Lek Far sebagai biang keladi bagi semua kesengsaraan yang dirasakan oleh istrinya. Menurut para kerabat dan tetangga, penyakit ginjal itu menjadi demikian parah tanpa terdeteksi sebelumnya karena Lek Far selalu takut pada suaminya tiap kali merasakan ketidakberesan pada perut dan pinggangnya. Lek Far selalu takut menuntaskan pengobatan penyakitnya karena takut terhadap suaminya. Menurut para tetangga, suaminya memang selalu terlihat acuh atas derita istrinya itu. Jika Lek Far terlihat pucat dan kerabatnya menanyakan tentang kondisi sang istri, suami Lek Far hanya menjawab bahwa istrinya sedang kedinginan sehabis mencuci pakaiannya dan pakaian milik anak-anaknya.
Mendengarkan rerasan tetangga, aku hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu mesti berbuat apa. Sebab, aku merasa tak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya. Apakah benar demikian jahat perilaku suami Lek Far. Atau mungkin para tetangga saja yang sedang terbawa suasana sehingga mencoba mencari kambing hitam atas sebuah peristiwa.
Entahlah.. yang jelas, sungguh tak elok mengadili suami Lek Far di tengah kepedihan yang dideritanya. Ditinggalkan seorang istri dengan menanggung beban tiga orang anak yang biasanya dirawat bersama tentu bukanlah hal mudah. Apalagi jika harus ditambah rasa bersalah yang tak berkesudahan jika apa yang dituduhkan adalah sebuah fakta. Belum lagi derita apalagi yang mesti ditanggung oleh anak-anak Lek Far jika mereka menyangka bapaknyalah yang bertanggungjawab atas kematian ibunya.
Sungguh, bukan saat yang tepat rasanya mengadili suami Lek Far tanpa bukti dan saksi yang bisa diyakini kebenarannya itu..
Akhirnya semoga Alloh mengasihi Lek Far dan keluarganya. Semoga dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima. Dan semoga keluarganya diberi ketabahan dan kemudahan. Amin ya Robbal ‘alamin…..
Wednesday, December 9, 2009
UBAN DIUSIA TIGA PULUH
Tanggal dua puluh satu November silam mama caca genap berusia tiga puluh tahun. Tak terasa hidup berlalu begitu cepatnya. Sepertinya baru kemarin mama caca merasai usia yang beranjak kepala dua. Ternyata saat-saat itu telah terlampaui sepuluh tahun silam. Angka kepala dua mama caca lalui ketika kuliah di Jogja. Memasuki usia kepala dua mama caca tandai dengan menyusuri ruas jalan Malioboro dan berpose sebagai kenangan jika suatu waktu mama caca rindu melihat kembali binar diakhir usia Sembilan belas tahun. Sekedar ingin menandai dan membuat sebuah petanda. Tak kurang dan tak lebih.
Dan nyatanya waktu memang demikian cepat berlalu. Tak ada yang terlalu istimewa di hari itu, ketika waktu usia telah merambat kepala tiga. Seperti biasa mama caca mengawali hari dengan doa, menghadap Sang Pencipta di pagi buta. Lalu membersihkan diri dan berdandan sekedarnya. Tapi entah, mungkin inilah petanda hari ditanggal dua puluh satu November itu, bahwa mama caca tak lagi muda. Ketika usai mandi dan menyisir rambut, seuntai uban tiba-tiba menyembul di rambut bagian depan. Mama caca tertegun sejenak. Lalu segera mencabut uban itu. Menimangnya sebentar sambil bergumam dalam hati. Uban bukan kutukan bagi perempuan. Uban hanyalah peringatan bahwa ada harga dalam setiap waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Tak ada yang abadi di dunia ini. Warna rambutpun tak bisa dibodohi.
Tuhan, terimakasih untuk semua yang telah kau berikan. Selanjutnya, Jadikanlah aku dan keluargaku makhluk yang kau ridloi, yang kau sayangi dan berikanlah akhir yang baik untuk setiap perjalanan hidup Kami. Amin. Dan semuanya Hanya atas ridloMu ya.. Alloh..
Dan nyatanya waktu memang demikian cepat berlalu. Tak ada yang terlalu istimewa di hari itu, ketika waktu usia telah merambat kepala tiga. Seperti biasa mama caca mengawali hari dengan doa, menghadap Sang Pencipta di pagi buta. Lalu membersihkan diri dan berdandan sekedarnya. Tapi entah, mungkin inilah petanda hari ditanggal dua puluh satu November itu, bahwa mama caca tak lagi muda. Ketika usai mandi dan menyisir rambut, seuntai uban tiba-tiba menyembul di rambut bagian depan. Mama caca tertegun sejenak. Lalu segera mencabut uban itu. Menimangnya sebentar sambil bergumam dalam hati. Uban bukan kutukan bagi perempuan. Uban hanyalah peringatan bahwa ada harga dalam setiap waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Tak ada yang abadi di dunia ini. Warna rambutpun tak bisa dibodohi.
Tuhan, terimakasih untuk semua yang telah kau berikan. Selanjutnya, Jadikanlah aku dan keluargaku makhluk yang kau ridloi, yang kau sayangi dan berikanlah akhir yang baik untuk setiap perjalanan hidup Kami. Amin. Dan semuanya Hanya atas ridloMu ya.. Alloh..
Wednesday, September 9, 2009
KADO DI TAS MAMA CACA
Terhitung sejak awal agustus lalu mama caca punya status baru. Yakni mahasiswi magister ilmu hukum di Universitas Diponegoro. Status ini membawa konsekuensi bagi mama caca sekeluarga. JIka dulu setiap hari caca dan kika bobok ma mama caca, kini setiap akhir pekan mereka mesti merelakan mamanya tidak menemani tidur mereka. Maklum, jarak antara tempat tinggal mama caca dan kota semarang cukup jauh. Butuh waktu 3-4 jam untuk sampai ke ibu kota propinsi jawa tengah itu. Dan di kota itulah universitas Diponegoro terletak. Padahal kuliah bisa berlangsung ampe pukul 8 malam, dan keesokan paginya dimulai pukul 8 pagi. Jadilah tiap akhir pekan mama caca mesti menghabiskan hari jauh dari dua cewek yang lucu-lucu itu.
Yang jelas mama caca amat bersyukur atas kesempatan yang diberikan abah caca sehingga mama caca bisa bersekolah lagi. Dan tentu terimaksih pula untuk anak-anak mama caca yang merelakan mamanya beraktivitas.
Ada kebiasaan unik sejak mama caca kuliah lagi. Seringkali ketika malam hari mama caca sedang menyiapkan bekal untuk kuliah dan bermalam di semarang, caca ikut menunggui dan membantu mama caca. Biasanya dia membantu melipat kerudung seraya bercerita tentang teman-temannya atau bertanya tentang ini itu. Uniknya setelah sampai di semarang, selalu saja ada barang yang nggak tercatat dalam list mama caca tapi masuk juga ke dalam tas itu. Dan biasanya barang-barang itu adalah mainan caca atau kika.
Usut punya usut, ternyata caca sengaja memasukkan barang-barang itu ke dalam tas mama caca buat kejutan.
“Biar mama kaget kalo sampe di sekolah, biar kayak di TV-TV” Ujarnya riang.
Ada-ada aja.
“Pasti terinspirasi iklan Bebelac” komentar mama caca dalam hati.
Yang jelas mama caca amat bersyukur atas kesempatan yang diberikan abah caca sehingga mama caca bisa bersekolah lagi. Dan tentu terimaksih pula untuk anak-anak mama caca yang merelakan mamanya beraktivitas.
Ada kebiasaan unik sejak mama caca kuliah lagi. Seringkali ketika malam hari mama caca sedang menyiapkan bekal untuk kuliah dan bermalam di semarang, caca ikut menunggui dan membantu mama caca. Biasanya dia membantu melipat kerudung seraya bercerita tentang teman-temannya atau bertanya tentang ini itu. Uniknya setelah sampai di semarang, selalu saja ada barang yang nggak tercatat dalam list mama caca tapi masuk juga ke dalam tas itu. Dan biasanya barang-barang itu adalah mainan caca atau kika.
Usut punya usut, ternyata caca sengaja memasukkan barang-barang itu ke dalam tas mama caca buat kejutan.
“Biar mama kaget kalo sampe di sekolah, biar kayak di TV-TV” Ujarnya riang.
Ada-ada aja.
“Pasti terinspirasi iklan Bebelac” komentar mama caca dalam hati.
Wednesday, August 26, 2009
DALAM HITUNGAN HARI, KULIHAT MAKAM ITU BERTAMBAH LAGI..
Mama caca sering menziarahi pemakaman itu sejak 18 tahun silam. Tepatnya sejak mama caca tamat Sekolah Dasar dan memutuskan menghabiskan masa-masa pasca pendidikan dasar untuk kemudian melanjutnya di Pesantren itu. Dan pemakaman itu menjadi akrab bagi para santri karena di sanalah keluarga pendiri pesantren itu dimakamkan. Masih terbayang dalam pelupuk mata mama caca, setiap hari Jum’at tiba, maka santri yang mendapat giliran akan membacakan ayat-ayat al-Qur’an, doa-doa dan kalimah thoyyibah lainnya di pemakaman itu. Yang kami yakini doa-doa itu akan sampai pada si mayyit dan pahala bacaan itu akan menjadi pahala sang pembaca jua.
Demikian juga ketika pada akhirnya mama caca tamat dan menjadi bagian dari keluarga tersebut, mama caca masih setia menziarahi pemakaman itu. Dan hingga delapan belas tahun berlalu, tak ada yang berubah dari pemakaman itu. Suasananya yang damai, dua buah pohon kamboja yang tak begitu besar yang menaungi tiga buah makam. Ya… ada tiga makam di tempat pemakaman itu. Tiga makam yang terletak agak menyudut. Selebihnya adalah tanah kosong dan sedikit tempat berteduh untuk para peziarah. Makam yang sederhana. Tanpa hiasan atau pernak-pernik yang mengada-ada. Semuanya sangat bersahaja, yang membuat para peziarah seakan terlibat untuk menyemai kesyahduan dan kembali teringat akan asal muasal manusia. Dari tanah, dan akan kembali ketanah. Tanpa harta, jabatan atau perhiasan. ..
Namun, ada yang berubah dalan sebulan ini. Terhitung di akhir bulan Juli hingga pertengahan agustus lalu. Tiba-tiba mendung seolah bergelayut di atas makam itu. Tidak sampai 40 hari, ada 3 makam baru menjulang di atas tempat pemakaman itu. Tentu menjadi biasa jika itu adalah tempat pemakaman umum. Tapi pemakaman itu hanya dikhususkan bagi bersemayamnya jenazah-jenazah dari sebuah keluarga. Dan dalam satu bulan ada tiga nisan baru di tempat pemakaman itu.
Jika sejak delapan belas tahun hingga dua bula lalu di tempat pemakaman itu hanya hanya ada tiga makam, kini ada tiga nama baru yang tertulis di atas batu nisan. Dan tanah di atas tiga makam itu masih tampak merah. Demikian pula bunga-bunga yang terlihat masih basah. Kedukaan membayang diwajah orang-orang yang ditinggalkan. Begitu bertubinya cobaan itu. Pertama adalah kehilangan seorang adik yang wafat setelah berjuang melawan tumor otak. Lalu sepuluh hari kemudian ibunda tercinta menyusul di panggil keharibaan-Nya. Dan hanya dua minggu berselang giliran ananda tercinta berpulang setelah sebuah kecelakaan merenggutnya.
Kulihat air mata masih memenuhi pemakaman itu. Hingga tubuh yang terbujur kaku terhalangi tanah dan debu. Tak kuasa aku menahan haru. Hanya kepada Tuhan aku mengaku. Betapa hatiku ikut lebur dalam duka yang mendalam itu. Kucoba menengadah ke angkasa biru. Tuhan… begitu berat cobaanmu atas orang-orang sholeh itu. Orang-orang sholeh para pecinta ilmu. Yang senantiasa mengajak manusia di sekitarnya untuk kembali ke jalan-Mu. Inikah bukti kuasa tanpa tanding milik-Mu, yang menjadikan cobaan sebagai berkah ampunan dan kenikmatan menggapai ridlo-Mu.
Tuhan.. ampuni aku. Yang masih juga tak kuasa melihat duka di mata para pecinta ilmu itu. Ampuni aku, ampuni setiap jejak langkah orang-orang yang telah menghadap-Mu, ampuni setiap dosa dan khilaf guru-guruku. Meski dosa itu hanya serupa titik debu.
Dan setelah delapan belas tahun, di awal ramadlan kali ini kudapati makam itu telah bertambah tiga lagi. Hanya dalam hitungan hari. Semoga keteguhan dan kekuatan hati menjadi milik orang-orang yang mendapat cobaan ini. Sebagai tanda kasih sayang dan bertambahnya derajat bagi orang-orang yang selalu Alloh kasihi. Amin.
Demikian juga ketika pada akhirnya mama caca tamat dan menjadi bagian dari keluarga tersebut, mama caca masih setia menziarahi pemakaman itu. Dan hingga delapan belas tahun berlalu, tak ada yang berubah dari pemakaman itu. Suasananya yang damai, dua buah pohon kamboja yang tak begitu besar yang menaungi tiga buah makam. Ya… ada tiga makam di tempat pemakaman itu. Tiga makam yang terletak agak menyudut. Selebihnya adalah tanah kosong dan sedikit tempat berteduh untuk para peziarah. Makam yang sederhana. Tanpa hiasan atau pernak-pernik yang mengada-ada. Semuanya sangat bersahaja, yang membuat para peziarah seakan terlibat untuk menyemai kesyahduan dan kembali teringat akan asal muasal manusia. Dari tanah, dan akan kembali ketanah. Tanpa harta, jabatan atau perhiasan. ..
Namun, ada yang berubah dalan sebulan ini. Terhitung di akhir bulan Juli hingga pertengahan agustus lalu. Tiba-tiba mendung seolah bergelayut di atas makam itu. Tidak sampai 40 hari, ada 3 makam baru menjulang di atas tempat pemakaman itu. Tentu menjadi biasa jika itu adalah tempat pemakaman umum. Tapi pemakaman itu hanya dikhususkan bagi bersemayamnya jenazah-jenazah dari sebuah keluarga. Dan dalam satu bulan ada tiga nisan baru di tempat pemakaman itu.
Jika sejak delapan belas tahun hingga dua bula lalu di tempat pemakaman itu hanya hanya ada tiga makam, kini ada tiga nama baru yang tertulis di atas batu nisan. Dan tanah di atas tiga makam itu masih tampak merah. Demikian pula bunga-bunga yang terlihat masih basah. Kedukaan membayang diwajah orang-orang yang ditinggalkan. Begitu bertubinya cobaan itu. Pertama adalah kehilangan seorang adik yang wafat setelah berjuang melawan tumor otak. Lalu sepuluh hari kemudian ibunda tercinta menyusul di panggil keharibaan-Nya. Dan hanya dua minggu berselang giliran ananda tercinta berpulang setelah sebuah kecelakaan merenggutnya.
Kulihat air mata masih memenuhi pemakaman itu. Hingga tubuh yang terbujur kaku terhalangi tanah dan debu. Tak kuasa aku menahan haru. Hanya kepada Tuhan aku mengaku. Betapa hatiku ikut lebur dalam duka yang mendalam itu. Kucoba menengadah ke angkasa biru. Tuhan… begitu berat cobaanmu atas orang-orang sholeh itu. Orang-orang sholeh para pecinta ilmu. Yang senantiasa mengajak manusia di sekitarnya untuk kembali ke jalan-Mu. Inikah bukti kuasa tanpa tanding milik-Mu, yang menjadikan cobaan sebagai berkah ampunan dan kenikmatan menggapai ridlo-Mu.
Tuhan.. ampuni aku. Yang masih juga tak kuasa melihat duka di mata para pecinta ilmu itu. Ampuni aku, ampuni setiap jejak langkah orang-orang yang telah menghadap-Mu, ampuni setiap dosa dan khilaf guru-guruku. Meski dosa itu hanya serupa titik debu.
Dan setelah delapan belas tahun, di awal ramadlan kali ini kudapati makam itu telah bertambah tiga lagi. Hanya dalam hitungan hari. Semoga keteguhan dan kekuatan hati menjadi milik orang-orang yang mendapat cobaan ini. Sebagai tanda kasih sayang dan bertambahnya derajat bagi orang-orang yang selalu Alloh kasihi. Amin.
Saturday, June 27, 2009
MENGENAL INDONESIA LEWAT MATA SEORANG BOLANG
Siapa tak kenal bolang. Nama yang memerankan tokoh bocah dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui kisah si Bolang, mereka berbincang tentang berbagai kekhasan yang ada di daerahnya. Apa saja, entah itu makanan, permainan maupun ketrampilan khas yang sudah sangat jarang dimiliki oleh anak-anak pada umumnya, khususnya mereka yang tinggal di perkotaan.
Mungkin tulisan ini agak mirip promosi gratis buat Trans 7. Tapi mama caca amat bersyukur caca gemar melihat si Bolang. Bagaimanapun Bolang dengan segala tingkah lakunya merupakan protret anak Indonesia yang amat dekat dengan alam dan lingkungannya. Mereka amat trampil membuat mainan-mainan dari lingkungan sekitarnya. Mulai pelepah daun pisang, bambu, pohon ubi kayu, lumpur, sungai, laut bahkan kepiting dan kalajengking. Semuanya, segala yang ada disekitarnya adalah tempat untuk bermain dan belajar.
Sungguh menakjubkan melihat mereka, anak-anak kecil dalam cerita si bolang itu dapat menebang pohon pisang, bamboo atau rotan dengan teknik yang agaknya sudah amat mereka kuasai. Karena siapapun tahu bukan hal mudah melakukan hal itu. Bahkan bagi orang dewasa yang tinggal di perkampungan seperti mama caca sekeluarga.
Ketrampilan yang berkaitan dengan alam yang dimiliki teman-teman si Bolang mengingatkan mama caca pada lingkungan di sekitar kampong mama caca. Kajen, sebuah desa yang terletak di wilayah kabupaten Pati. Jawa Tengah. Meski berjarak 45 menit perjalanan dari pusat kota kabupaten, tapi kajen adalah kampong yang amat padat. Gang-gang kecil yang berkelok-kelok. Selalu ada rumah di belakang sebuah rumah. Tak ada lagi sawah. Hanya ada sedikit lahan kosong.
Suatu ketika, seusai melahirkan Kika, mama caca harus menyelenggarakan selamatan selapan (36 hari) kelahiran Kika. Menurut tradisi yang ada, dalam acara selamatan selapan hari kelahiran bayi, harus disertakan kupat dan lepet. Dua jenis makanan itu tak boleh alpa karena menyangkut nilai filosofis yang dalam tradisi jawa berkaitan dengan selamatan itu sendiri.
Padahal dua jenis makanan itu, kupat dan lepet, adalah jenis makanan yang mesti dibungkus dengan daun kelapa muda atau janur. Kebetulan ada beberapa pohon kelapa di kebun abah caca. Persoalannya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa untuk mengambil janur itu? HERAN JUGA!! Ternyata di kampong mama caca tak ada yang mengaku bisa memanjat pohon kelapa. Bahkan para santri pun ketika ditanya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa. Semuanya menggelengkan kepala. Seorang tetangga bercerita, dulu ada orang kajen yang biasa dimintai tolong memanjat kelapa. Tapi sekarang orang itu telah pindah ke Kalimantan.
Dan mesti akhirnya mama caca membeli janur itu di pasar, ada yang berkecamuk dalam dada mama caca. Betapa ketrampilan paling minimal yang dulu pasti dimiliki oleh orang-orang kampong, kini telah menjadi barang langka. Mungkin mama caca tak heran jika orang yang hidup dikota-kota besar tak bisa memanjat kelapa. Tapi jika itu adalah orang-orang di kampong yang seharusnya lebih akrab dengan alam sekelilingnya, tentu agak disayangkan.
Entahlah, mama caca rasa kita memang selalu terlihat gagap dalam melihat apa saja. Bahasa Inggris kita tak mahir, tapi bahasa kromo hinggil kita juga belepotan. Membaca kitab kuning kita masih kesulitan, mempelajari sains kita gelagapan. Membuat robot kita tak mampu, memanjat pohon kelapa pun kita tak bisa. Sungguh, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari. Kemampuan apa yang sebenarnya kita miliki. Atau kita memang hanya layak menjadi bangsa yang terbata-bata!!
Si Bolang, ajari kami mengenal lingkungan serta mencintai alam di sekitar kami. Ajari pula kami hidup dan bangga atas apa yang kami miliki…
Mungkin tulisan ini agak mirip promosi gratis buat Trans 7. Tapi mama caca amat bersyukur caca gemar melihat si Bolang. Bagaimanapun Bolang dengan segala tingkah lakunya merupakan protret anak Indonesia yang amat dekat dengan alam dan lingkungannya. Mereka amat trampil membuat mainan-mainan dari lingkungan sekitarnya. Mulai pelepah daun pisang, bambu, pohon ubi kayu, lumpur, sungai, laut bahkan kepiting dan kalajengking. Semuanya, segala yang ada disekitarnya adalah tempat untuk bermain dan belajar.
Sungguh menakjubkan melihat mereka, anak-anak kecil dalam cerita si bolang itu dapat menebang pohon pisang, bamboo atau rotan dengan teknik yang agaknya sudah amat mereka kuasai. Karena siapapun tahu bukan hal mudah melakukan hal itu. Bahkan bagi orang dewasa yang tinggal di perkampungan seperti mama caca sekeluarga.
Ketrampilan yang berkaitan dengan alam yang dimiliki teman-teman si Bolang mengingatkan mama caca pada lingkungan di sekitar kampong mama caca. Kajen, sebuah desa yang terletak di wilayah kabupaten Pati. Jawa Tengah. Meski berjarak 45 menit perjalanan dari pusat kota kabupaten, tapi kajen adalah kampong yang amat padat. Gang-gang kecil yang berkelok-kelok. Selalu ada rumah di belakang sebuah rumah. Tak ada lagi sawah. Hanya ada sedikit lahan kosong.
Suatu ketika, seusai melahirkan Kika, mama caca harus menyelenggarakan selamatan selapan (36 hari) kelahiran Kika. Menurut tradisi yang ada, dalam acara selamatan selapan hari kelahiran bayi, harus disertakan kupat dan lepet. Dua jenis makanan itu tak boleh alpa karena menyangkut nilai filosofis yang dalam tradisi jawa berkaitan dengan selamatan itu sendiri.
Padahal dua jenis makanan itu, kupat dan lepet, adalah jenis makanan yang mesti dibungkus dengan daun kelapa muda atau janur. Kebetulan ada beberapa pohon kelapa di kebun abah caca. Persoalannya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa untuk mengambil janur itu? HERAN JUGA!! Ternyata di kampong mama caca tak ada yang mengaku bisa memanjat pohon kelapa. Bahkan para santri pun ketika ditanya, siapa yang bisa memanjat pohon kelapa. Semuanya menggelengkan kepala. Seorang tetangga bercerita, dulu ada orang kajen yang biasa dimintai tolong memanjat kelapa. Tapi sekarang orang itu telah pindah ke Kalimantan.
Dan mesti akhirnya mama caca membeli janur itu di pasar, ada yang berkecamuk dalam dada mama caca. Betapa ketrampilan paling minimal yang dulu pasti dimiliki oleh orang-orang kampong, kini telah menjadi barang langka. Mungkin mama caca tak heran jika orang yang hidup dikota-kota besar tak bisa memanjat kelapa. Tapi jika itu adalah orang-orang di kampong yang seharusnya lebih akrab dengan alam sekelilingnya, tentu agak disayangkan.
Entahlah, mama caca rasa kita memang selalu terlihat gagap dalam melihat apa saja. Bahasa Inggris kita tak mahir, tapi bahasa kromo hinggil kita juga belepotan. Membaca kitab kuning kita masih kesulitan, mempelajari sains kita gelagapan. Membuat robot kita tak mampu, memanjat pohon kelapa pun kita tak bisa. Sungguh, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari. Kemampuan apa yang sebenarnya kita miliki. Atau kita memang hanya layak menjadi bangsa yang terbata-bata!!
Si Bolang, ajari kami mengenal lingkungan serta mencintai alam di sekitar kami. Ajari pula kami hidup dan bangga atas apa yang kami miliki…
Thursday, May 28, 2009
KETERTARIKAN KIKA
Kika kini berusia lima belas bulan. 14 Februari kemarin baby girl itu tepat berusia satu tahun. Rasa penasarannya kian membuncah. Kika mulai penasaran dengan apa pun yang ada di sekelilingnya.
Dulu, ketika caca masih seusia Kika, mama caca gemar membelikan caca berbagai mainan yang menurut mama caca adalah jenis mainan educative. Tapi setelah mama caca menyodorkan mainan-mainan itu buat caca –begitu pula KIka- mama caca sadar, bahwa mainan-mainan itu mungkin penting dan menambah ketrampilan mereka. Tapi bagi bocah-bocah kecil itu mungkin tak ada yang lebih menarik ketimbang apapun yang ada di sekitarnya. Menarik laci-laci atau mencoba mengulik berbagai tombol atau kabel yang membahayakan menurut orang dewasa, adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan lagi dan lagi…
Kadang jika melihat Kika sedang memenuhi rasa keingintahuannya tanpa rasa takut, mama caca jadi teringat sebuah buku, “Dunia Shofi.” Buku yang mengajak pembaca memahami filsafat melalui kisah seorang gadis 14 tahun yang bernama Shofi. Buku yang bersetting Norwegia itu mengatakan bahwa ketertarikan seorang filosof terhadap alam semesta adalah sebagaimana layaknya keingintahuan kanak-kanak. Bagaimana dengan logikanya, seorang batita menjumput bara api dan merasainya tanpa prasangka. Namun kemudian melemparnya seraya menjerit setelah tahu bahwa bara itu panas. Demikian juga seorang filosof yang mempelajari sesuatu. Dia akan mempertanyakan apapun yang ada di sekelilingnya sebagaimana seorang bayi yang baru mengenal dunia.
Nyatanya, tiap kali mama caca menyaksikan caca dan kika yang mulai tumbuh. Mama caca membenarkan perumpamaan yang di buat oleh pengarang ”Dunia Shofi” yang juga menulis buku Mistery Soliter “itu. Dunia kanak-kanak memang dunia yang penuh keingintahuan.
Dulu, ketika caca masih seusia Kika, mama caca gemar membelikan caca berbagai mainan yang menurut mama caca adalah jenis mainan educative. Tapi setelah mama caca menyodorkan mainan-mainan itu buat caca –begitu pula KIka- mama caca sadar, bahwa mainan-mainan itu mungkin penting dan menambah ketrampilan mereka. Tapi bagi bocah-bocah kecil itu mungkin tak ada yang lebih menarik ketimbang apapun yang ada di sekitarnya. Menarik laci-laci atau mencoba mengulik berbagai tombol atau kabel yang membahayakan menurut orang dewasa, adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan lagi dan lagi…
Kadang jika melihat Kika sedang memenuhi rasa keingintahuannya tanpa rasa takut, mama caca jadi teringat sebuah buku, “Dunia Shofi.” Buku yang mengajak pembaca memahami filsafat melalui kisah seorang gadis 14 tahun yang bernama Shofi. Buku yang bersetting Norwegia itu mengatakan bahwa ketertarikan seorang filosof terhadap alam semesta adalah sebagaimana layaknya keingintahuan kanak-kanak. Bagaimana dengan logikanya, seorang batita menjumput bara api dan merasainya tanpa prasangka. Namun kemudian melemparnya seraya menjerit setelah tahu bahwa bara itu panas. Demikian juga seorang filosof yang mempelajari sesuatu. Dia akan mempertanyakan apapun yang ada di sekelilingnya sebagaimana seorang bayi yang baru mengenal dunia.
Nyatanya, tiap kali mama caca menyaksikan caca dan kika yang mulai tumbuh. Mama caca membenarkan perumpamaan yang di buat oleh pengarang ”Dunia Shofi” yang juga menulis buku Mistery Soliter “itu. Dunia kanak-kanak memang dunia yang penuh keingintahuan.
Wednesday, December 17, 2008
KADO BUAT MBAH KAKUNG
Gak terasa, tahun ini mbah kakung caca udah berusia 71 tahun. Simbah emang lahir pada tanggal 17 Desember 71 tahun yang lalu. Jika pada ultah beliau yang ke 70 kemarin dirayakan oleh para kolega beliau secara meriah, bahkan dibarengi dengan peluncuran buku tentang kiprah sosial beliau. Untuk tahun ini cukup diperingati bersama keluarga saja. Dengan mengundang beberapa sanak saudara, digelarlah acara manaqiban, doa bersama serta potong tumpeng tentu saja.
Ketika itu abah dan mama caca kebingungan memastikan kado apa yang mesti diberikan buat mbah kakung pada ultah kali ini. Maklum, dikeluarga abah caca tradisi merayakan ultah anggota keluarga memang sudah ada sejak dulu. Biasanya masing-masing anggota keluarga saling memberikan kado sebagai ungkapan perhatian dan rasa saying. Gak harus bagus atau mahal. Yang penting bentung perhatian yang diberikan. Akhirnya atas usul caca, maka kami sepakat memberikan sebuah kado dan dua untai bunga mawar. Tapi tanpa dinyana, ternyata cucu yang juga baru merayakan ultahnya yang keempat itu punya rencana kejutan lain buat mbah kakungnya tanpa sepengetahuan abah dan mamanya.
Ceritanya, setelah kado dan seuntai bunga buat mbah kakung seperti yang kita sepakati bertiga disampaikan pada beliau. Tiba-tiba caca lari pulang bersama seorang kawan kecilnya yang masih terhitung saudara. Kedua gadis kecil itu sibuk sendiri di dalam kamar caca. Tak lama kemudian caca muncul di hadapan simbah dengan membawa sebuah kotak mungil. Mama caca segera mendekat untuk memastikan caca tidak berbuat yang kurang sopan. Tapi sontak gadis kecil itu langsung marah dan meminta mama caca menjauh.
“itu kado buat mbahkung kok mama caca mau ikut-ikutan.” Ujar caca memperingatkan.
Setelah kotak berhasil dibuka. Ternyata isinya,
“Wow! Surprise!” mbah kakung langsung tertawa lebar.
Ternyata sebuah gantungan kunci boneka yang sebenarnya punya caca sendiri. Mbah putri yang semula tak begitu memperhatikan langsung mendekat dan terpingkal-pingkal melihat surprise caca. Semuanya tampak bahagia malam itu. Caca…caca… ada-ada aja gadis kecil itu!
Ketika itu abah dan mama caca kebingungan memastikan kado apa yang mesti diberikan buat mbah kakung pada ultah kali ini. Maklum, dikeluarga abah caca tradisi merayakan ultah anggota keluarga memang sudah ada sejak dulu. Biasanya masing-masing anggota keluarga saling memberikan kado sebagai ungkapan perhatian dan rasa saying. Gak harus bagus atau mahal. Yang penting bentung perhatian yang diberikan. Akhirnya atas usul caca, maka kami sepakat memberikan sebuah kado dan dua untai bunga mawar. Tapi tanpa dinyana, ternyata cucu yang juga baru merayakan ultahnya yang keempat itu punya rencana kejutan lain buat mbah kakungnya tanpa sepengetahuan abah dan mamanya.
Ceritanya, setelah kado dan seuntai bunga buat mbah kakung seperti yang kita sepakati bertiga disampaikan pada beliau. Tiba-tiba caca lari pulang bersama seorang kawan kecilnya yang masih terhitung saudara. Kedua gadis kecil itu sibuk sendiri di dalam kamar caca. Tak lama kemudian caca muncul di hadapan simbah dengan membawa sebuah kotak mungil. Mama caca segera mendekat untuk memastikan caca tidak berbuat yang kurang sopan. Tapi sontak gadis kecil itu langsung marah dan meminta mama caca menjauh.
“itu kado buat mbahkung kok mama caca mau ikut-ikutan.” Ujar caca memperingatkan.
Setelah kotak berhasil dibuka. Ternyata isinya,
“Wow! Surprise!” mbah kakung langsung tertawa lebar.
Ternyata sebuah gantungan kunci boneka yang sebenarnya punya caca sendiri. Mbah putri yang semula tak begitu memperhatikan langsung mendekat dan terpingkal-pingkal melihat surprise caca. Semuanya tampak bahagia malam itu. Caca…caca… ada-ada aja gadis kecil itu!
SURPRISE DARI ORANG-ORANG TERKASIH
Sebenarnya tulisan ini mesti di up date tanggal 21 november lalu. Tapi gak apa deh, terlambat sedikit, tak mengurangi rasa terimakasih mama caca buat abah caca.
SELAMAT ULANG TAHUN, SELAMAT BERKARYA. Itu bunyi ucapan abah caca ketika menghadiahkan sebuah notebook buat mama caca. Duh, mama caca terharu banget ketika membukanya. Secara mama caca dah lama mengidamkan notebook itu. Dan kali abah menghadiahkannya di hari ultah mama caca.
Dan yang lebih membuat mama caca berkaca-kaca adalah harapan abah agar mama caca kembali serius menulis. Ketika muda mama caca emang pernah berkata. Dengan gaya-gayaan ala remaja ketika itu. Dengan terinspirasi soe hok gie mama caca pernah berucap; “Ada tiga opsi dalam hidup, menjadi Penulis, menjadi Jurnalis atau mati muda”. Duh, kalo sekarang kembali mengucapkannya ada rasa geli di hati mama caca. Songbong sekali ucapan itu terdengar! Tapi apa salahnya punya cita-cita. Dan waktu jualah yang akan membuktikannya.
Satu lagi surprise di hari ultah mama caca. Sebuah buku dongeng untuk anak dan mug dari University of Hawaii. Pengirimnya siapa lagi kalo bukan mama Mirza. Duh, jadi inget zaman baheula, dulu kita sering melontarkan guyonan sebagai calon besan. Uniknya, setelah menikah, ternyata mama mirza dikaruniai dua anak cowok. Sedangkan mama caca diberi dua anak cewek. Apakah ini juga pertanda bahwa kita akan benar-benar menjadi calon besan. Hehe… lagi-lagi waktu juga yang akan menjawabnya. Yang penting sebagai orangtua yang selalu berupaya untuk memiliki sikap bijaksana, tentu tidak ada niatan sedikitpun dihati kita untuk menjodohkan anak-anak kita. Hehe… Dan jangan salah, ini Cuma lucu-lucuan kita aja…
“hello mama mirza, makasih kadonya.” Ujar caca yang ikut menikmati dongeng doranya.
Selanjutnya, di hari Ultah itu mama caca berharap semoga segenap keluarga mama caca dikaruniai keimanan, kesehatan, rizki yang halal, kesabaran dan kemudahan dalam segala hal. Mama caca juga berdoa semoga keluarga ini menjadi keluarga yang berkah, sakinah mawaddah wa rahmah. Serta abah dan mama caca menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Amin.
SELAMAT ULANG TAHUN, SELAMAT BERKARYA. Itu bunyi ucapan abah caca ketika menghadiahkan sebuah notebook buat mama caca. Duh, mama caca terharu banget ketika membukanya. Secara mama caca dah lama mengidamkan notebook itu. Dan kali abah menghadiahkannya di hari ultah mama caca.
Dan yang lebih membuat mama caca berkaca-kaca adalah harapan abah agar mama caca kembali serius menulis. Ketika muda mama caca emang pernah berkata. Dengan gaya-gayaan ala remaja ketika itu. Dengan terinspirasi soe hok gie mama caca pernah berucap; “Ada tiga opsi dalam hidup, menjadi Penulis, menjadi Jurnalis atau mati muda”. Duh, kalo sekarang kembali mengucapkannya ada rasa geli di hati mama caca. Songbong sekali ucapan itu terdengar! Tapi apa salahnya punya cita-cita. Dan waktu jualah yang akan membuktikannya.
Satu lagi surprise di hari ultah mama caca. Sebuah buku dongeng untuk anak dan mug dari University of Hawaii. Pengirimnya siapa lagi kalo bukan mama Mirza. Duh, jadi inget zaman baheula, dulu kita sering melontarkan guyonan sebagai calon besan. Uniknya, setelah menikah, ternyata mama mirza dikaruniai dua anak cowok. Sedangkan mama caca diberi dua anak cewek. Apakah ini juga pertanda bahwa kita akan benar-benar menjadi calon besan. Hehe… lagi-lagi waktu juga yang akan menjawabnya. Yang penting sebagai orangtua yang selalu berupaya untuk memiliki sikap bijaksana, tentu tidak ada niatan sedikitpun dihati kita untuk menjodohkan anak-anak kita. Hehe… Dan jangan salah, ini Cuma lucu-lucuan kita aja…
“hello mama mirza, makasih kadonya.” Ujar caca yang ikut menikmati dongeng doranya.
Selanjutnya, di hari Ultah itu mama caca berharap semoga segenap keluarga mama caca dikaruniai keimanan, kesehatan, rizki yang halal, kesabaran dan kemudahan dalam segala hal. Mama caca juga berdoa semoga keluarga ini menjadi keluarga yang berkah, sakinah mawaddah wa rahmah. Serta abah dan mama caca menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Amin.
Wednesday, November 5, 2008
DUH, MAKIN KOLOKAN AJA NIH SI EMBAK!!
Ada hal yang meresahkan mama caca akhir-akhir ini. Tentang sifat kolokan caca yang kian menjadi. Semakin besar, agaknya caca mulai sadar akan posisinya dalam keluarga. Paling tidak, dia mulai bisa mengidentifikasi siapa orang-orang yang sering memarahinya atau siapa orang yang bakal menuruti apa pun kemauannya. Dan inilah repotnya, caca hidup berdekatan dengan mbah kakung dan mbah putri yang berlipat rasa sayangnya. Mbak kakung yang tak bisa memarahi caca seperti apa pun tingkah polahnya. Paling banter, jika caca sudah keterlaluan, mama caca yang diminta untuk memperingatkan caca.
Kondisi ini rupanya terbaca oleh caca. Si kecil berhidung mungil itu agaknya paham, bahwa ibu “yang suka memarahinya” itu segan jika harus marah di depan kedua simbahnya. Dan begitulah akhirnya, tingkah paling menyebalkan selalu ditunjukkan caca setiapkali abah, ibu, adek dan kedua simbahnya berkumpul.
Mungkin caca Cuma berniat CAPER di depan kedua simbahnya dengan melakukan hal-hal yang dilarang kedua ortunya. Mungkin juga caca mesti diberi waktu untuk lebih bebas berekspresi. Yang jelas, mama dan abah caca selalu berharap, semoga semakin bertambahnya umur caca nantinya, akan memberikan peningkatan pemahaman dan kesadaran dirinya untuk berbuat lebih baik. Mendidik anak memang bukan hal mudah, tapi kita memang harus berusaha untuk melakukan yang terbaik selagi predikat sebagai orang tua masih melekat dipundak kita.
Kondisi ini rupanya terbaca oleh caca. Si kecil berhidung mungil itu agaknya paham, bahwa ibu “yang suka memarahinya” itu segan jika harus marah di depan kedua simbahnya. Dan begitulah akhirnya, tingkah paling menyebalkan selalu ditunjukkan caca setiapkali abah, ibu, adek dan kedua simbahnya berkumpul.
Mungkin caca Cuma berniat CAPER di depan kedua simbahnya dengan melakukan hal-hal yang dilarang kedua ortunya. Mungkin juga caca mesti diberi waktu untuk lebih bebas berekspresi. Yang jelas, mama dan abah caca selalu berharap, semoga semakin bertambahnya umur caca nantinya, akan memberikan peningkatan pemahaman dan kesadaran dirinya untuk berbuat lebih baik. Mendidik anak memang bukan hal mudah, tapi kita memang harus berusaha untuk melakukan yang terbaik selagi predikat sebagai orang tua masih melekat dipundak kita.
Tuesday, October 28, 2008
NENEK ITU MENGAMUK DI DALAM KELAS…
Mama caca mungkin sering mengeluh karena tidak memiliki kesempatan menyekolahkan caca di tempat yang –paling tidak- sebaik yang diimpikan. Tapi beberapa saat lalu, ada sebuah kejadian yang membuat mama caca melihat kenyataan ini dari sisi yang lain.
Semuanya berawal ketika mama caca menjemput caca sekolah. Alhamdulillah, terhitung sejak ramadlan kemarin, caca bersedia tidak ditunggui. Meski mungkin dengan berat hati. Mama caca tiba ketika kelas sudah hampir usai. Mama caca duduk bersama ibu-ibu lain di atas teras di depan kelas. Biasanya, ketika hendak mengakhiri pelajaran, para guru mengulas apa yang disampaikan hari itu sembari melontarkan beberapa pertanyaan.
“Siapa yang tahu huruf A?”
guru bertanya dengan suara lantang. Bagi murid yang mampu menjawab, berarti dia berhak untuk pulang duluan.
Ketika situasi itu berlangsung di dalam kelas, tanpa disangka tiba-tiba seorang nenek nyelonong memasuki kelas dan menyeret seorang teman caca sambil memukul pantat dan menjewer telinga bocah kecil itu.
“Hayo.. awas kamu yaa, kalo ditanya bu guru gak mau jawab. Gak kapok kamu kalo gak pukul kayak gini. Ayo jawab pertanyaan bu guru..”
Nenek-nenek itu berteriak dengan bahasa jawanya sambil tak henti memukul cucunya. Sementara sang cucu lari pontang-panting menyelamatkan diri dari amukan si nenek. Situasi kelas agak gaduh. Sang cucu berhasil keluar dari kelas. Dan si nenek mengejarnya.
Ibu-ibu yang menyaksikan peristiwa itu sontak menjerit-jerit agar nenek itu menghentikan perilaku buruknya. Sementara sang cucu menangis semakin keras “udah mbah, kapok aku mbah...kapok aku mbah...”
Para guru un ikut turun tangan agar si nenek menghentikan pukulannya. Akhirnya si nenek menurut dan cucu itu pun digiring masuk kelas kembali.
Mama caca mengelus dada. Betapa beratnya menjadi guru di tempat seperti ini. Dengan para wali murid yang masih memiliki kesadaran tentang arti dan tujuan sebuah pendidikan demikian rendah.
Ketika kelas telah usai, mama caca menghampiri sang guru. Bu Ros namanya. Beliau tersenyum sambil berujar. “Itulah bu, wali murid di sini. Guru-guru harus memiliki kesabaran dan niat berjuang yang tinggi, kalo tidak, kondisi anak-anak itu akan semakin parah.” Mama caca menyalaminya dengan perasaan bercampur aduk.
Semuanya berawal ketika mama caca menjemput caca sekolah. Alhamdulillah, terhitung sejak ramadlan kemarin, caca bersedia tidak ditunggui. Meski mungkin dengan berat hati. Mama caca tiba ketika kelas sudah hampir usai. Mama caca duduk bersama ibu-ibu lain di atas teras di depan kelas. Biasanya, ketika hendak mengakhiri pelajaran, para guru mengulas apa yang disampaikan hari itu sembari melontarkan beberapa pertanyaan.
“Siapa yang tahu huruf A?”
guru bertanya dengan suara lantang. Bagi murid yang mampu menjawab, berarti dia berhak untuk pulang duluan.
Ketika situasi itu berlangsung di dalam kelas, tanpa disangka tiba-tiba seorang nenek nyelonong memasuki kelas dan menyeret seorang teman caca sambil memukul pantat dan menjewer telinga bocah kecil itu.
“Hayo.. awas kamu yaa, kalo ditanya bu guru gak mau jawab. Gak kapok kamu kalo gak pukul kayak gini. Ayo jawab pertanyaan bu guru..”
Nenek-nenek itu berteriak dengan bahasa jawanya sambil tak henti memukul cucunya. Sementara sang cucu lari pontang-panting menyelamatkan diri dari amukan si nenek. Situasi kelas agak gaduh. Sang cucu berhasil keluar dari kelas. Dan si nenek mengejarnya.
Ibu-ibu yang menyaksikan peristiwa itu sontak menjerit-jerit agar nenek itu menghentikan perilaku buruknya. Sementara sang cucu menangis semakin keras “udah mbah, kapok aku mbah...kapok aku mbah...”
Para guru un ikut turun tangan agar si nenek menghentikan pukulannya. Akhirnya si nenek menurut dan cucu itu pun digiring masuk kelas kembali.
Mama caca mengelus dada. Betapa beratnya menjadi guru di tempat seperti ini. Dengan para wali murid yang masih memiliki kesadaran tentang arti dan tujuan sebuah pendidikan demikian rendah.
Ketika kelas telah usai, mama caca menghampiri sang guru. Bu Ros namanya. Beliau tersenyum sambil berujar. “Itulah bu, wali murid di sini. Guru-guru harus memiliki kesabaran dan niat berjuang yang tinggi, kalo tidak, kondisi anak-anak itu akan semakin parah.” Mama caca menyalaminya dengan perasaan bercampur aduk.
Saturday, September 13, 2008
PR BUAT CACA
Alhamdulillah, caca dah masuk Taman Kanak-kanak. Meski usianya belum genap empat tahun. Tapi kelihatannya caca cukup antusias menjalaninya. Terbukti semenjak bulan ramadlan ini caca sudah mau sekolah tanpa ditunggui, meski dengan syarat, mama caca sendiri yang mesti mengantar dan menjemputnya sendiri.
Tapi ada yang terasa kurang sreg dihati mengenai sekolah caca. Yak ni tentang PeeR alias pekerjaan rumah buat caca. Di sekolah Tknya caca setiap hari selalu mendapat PR dari gurunya. PR belajar menulis angka dan huruf. Menurut caca, disekolah Tknya dia juga sangat jarang diajak mernyanyi dan menggambar.aktivitas di sekolah lebih terfokus pada belajar menulis. Mama caca sendiri tak tahu, apakah memang begitu seharusnya anak-anak TK zaman sekarang. Rasanya kasian juga liat si kecil itu mesti terbebani PR setiap hari.
Buat para blogger yang membaca tulisan ini. Minta masukannya ya...
Tapi ada yang terasa kurang sreg dihati mengenai sekolah caca. Yak ni tentang PeeR alias pekerjaan rumah buat caca. Di sekolah Tknya caca setiap hari selalu mendapat PR dari gurunya. PR belajar menulis angka dan huruf. Menurut caca, disekolah Tknya dia juga sangat jarang diajak mernyanyi dan menggambar.aktivitas di sekolah lebih terfokus pada belajar menulis. Mama caca sendiri tak tahu, apakah memang begitu seharusnya anak-anak TK zaman sekarang. Rasanya kasian juga liat si kecil itu mesti terbebani PR setiap hari.
Buat para blogger yang membaca tulisan ini. Minta masukannya ya...
Wednesday, July 2, 2008
MEMILIH SEKOLAH BUAT CACA
Mama caca pernah membaca sederet tulisan di kaos teman. Tulisan yang terilhami dari pemikiran seorang filosof kenamaan.”SEKOLAH ITU CANDU, karena itu aku tak akan menyekolahkan anak-anakku”. Meski dalam eforia pemikiran masa muda mama caca pernah mengamininya, namun kini mama caca tak lagi menganggap pemikiran itu mesti dituruti. Dan kini, ketika caca berusia 3,5 tahun, mama caca mulai bingung memilih sekolah untuk caca.
Sebagai orang tua, mama caca tentu menginginkan sesuatu yang ideal untuk anak-anaknya. Setelah berusia tiga tahun lebih dan menghabiskan waktu satu tahun setengah di play group, mama caca berusaha “membaca” caca dengan lebih seksama. Membaca caca berarti menyelami sifat dan kebiasaannya sehari-hari. Potensi positif dan negatif yang dimilikinya.
Dari situ mama caca melihat caca adalah anak yang aktif, lumayan cerdas, suka hal-hal baru, suka banyak teman, suka bercerita atau terbuka terhadap apa yang dirasakan dan diinginkannya. Caca juga selalu mengingat setiap jawaban yang pernah ditanyakannya. Jika suatu kali pertanyaan yang sama diajukannya, tapi mendapat jawaban yang berbeda, caca pasti akan protes. Atau jika jawaban yang diberikan dianggapnya tidak benar, caca pasti akan marah. Namun caca juga memiliki potensi yang kurang baik jika tidak segera diatasi. Misalnya sifat manja, kurang mandiri, tidak mau mengalah, cuek, gampang bosan dan cenderung seenaknya sendiri.
Dengan potensi yang dimilikinya, mama caca ingin memilih sekolah buat caca. Paling tidak ada kriteria sekolah yang tercatat dalam benak mama caca. Pertama; sekolah itu mesti bisa memberikan sesuatu yang menarik minat caca untuk belajar. Baik mempelajari pengetahuan baru maupun mempelajari tata cara bersosialisasi.Yang kedua; sekolah itu mesti mendorong caca untuk lebih mandiri dan mengerti akan tanggungjawabnya sesuai umur dan kemampuannya sebagai siswi Taman Kanak-kanak. Yang ketiga; akan lebih baik jika sekolah itu memiliki sistem terpadu. Jadi bukan hanya tempat belajar dan bermain, akan tetapi juga tempat ia bisa belajar mengaji dan beribadah.
Setelah melakukan survey kecil-kecilan, mama caca berhasil menemukan sekolah sesuai yang diinginkan. Caca juga terlihat tertarik. Namun ternyata ada masalah lain yang mengganjal. Masalah yang terbilang ideologis orang bilang. Meski mama caca tak pernah mempermasalahkannya, namun tidak demikian dengan orang-orang disekitar mama caca. Dan setelah berdiskusi dengan abah caca, akhirnya mama caca mencoba mendamaikan impian dan kenyataan. BAIKLAH!!, tak ada gunanya keukeuh pada impian sendiri. Toh, masih ada cara lain untuk mendidik caca. Dan semoga pilihan ini tepat. Untuk caca dan orang-orang yang mencintainya....
Sebagai orang tua, mama caca tentu menginginkan sesuatu yang ideal untuk anak-anaknya. Setelah berusia tiga tahun lebih dan menghabiskan waktu satu tahun setengah di play group, mama caca berusaha “membaca” caca dengan lebih seksama. Membaca caca berarti menyelami sifat dan kebiasaannya sehari-hari. Potensi positif dan negatif yang dimilikinya.
Dari situ mama caca melihat caca adalah anak yang aktif, lumayan cerdas, suka hal-hal baru, suka banyak teman, suka bercerita atau terbuka terhadap apa yang dirasakan dan diinginkannya. Caca juga selalu mengingat setiap jawaban yang pernah ditanyakannya. Jika suatu kali pertanyaan yang sama diajukannya, tapi mendapat jawaban yang berbeda, caca pasti akan protes. Atau jika jawaban yang diberikan dianggapnya tidak benar, caca pasti akan marah. Namun caca juga memiliki potensi yang kurang baik jika tidak segera diatasi. Misalnya sifat manja, kurang mandiri, tidak mau mengalah, cuek, gampang bosan dan cenderung seenaknya sendiri.
Dengan potensi yang dimilikinya, mama caca ingin memilih sekolah buat caca. Paling tidak ada kriteria sekolah yang tercatat dalam benak mama caca. Pertama; sekolah itu mesti bisa memberikan sesuatu yang menarik minat caca untuk belajar. Baik mempelajari pengetahuan baru maupun mempelajari tata cara bersosialisasi.Yang kedua; sekolah itu mesti mendorong caca untuk lebih mandiri dan mengerti akan tanggungjawabnya sesuai umur dan kemampuannya sebagai siswi Taman Kanak-kanak. Yang ketiga; akan lebih baik jika sekolah itu memiliki sistem terpadu. Jadi bukan hanya tempat belajar dan bermain, akan tetapi juga tempat ia bisa belajar mengaji dan beribadah.
Setelah melakukan survey kecil-kecilan, mama caca berhasil menemukan sekolah sesuai yang diinginkan. Caca juga terlihat tertarik. Namun ternyata ada masalah lain yang mengganjal. Masalah yang terbilang ideologis orang bilang. Meski mama caca tak pernah mempermasalahkannya, namun tidak demikian dengan orang-orang disekitar mama caca. Dan setelah berdiskusi dengan abah caca, akhirnya mama caca mencoba mendamaikan impian dan kenyataan. BAIKLAH!!, tak ada gunanya keukeuh pada impian sendiri. Toh, masih ada cara lain untuk mendidik caca. Dan semoga pilihan ini tepat. Untuk caca dan orang-orang yang mencintainya....
Subscribe to:
Posts (Atom)